Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Petani Purwakarta Tak Perlu Panik, Abu Vulkanik Anak Krakatau Justru Punya Sisi Positif

IMG_20260907_140609
Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Dispangtan Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa hingga wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dipastikan tidak memberikan dampak signifikan terhadap tanaman pertanian, buah-buahan, maupun perkebunan.

Bahkan, dalam kondisi dan intensitas tertentu, abu vulkanik justru berpotensi memberikan manfaat bagi tanah karena mengandung sejumlah unsur mineral dan hara yang dapat mendukung kesuburan tanah.

Kepala UPTD Pelindungan Tanaman (Perlintan) Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan, mengatakan abu vulkanik pada dasarnya dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan dan tanaman. Namun, abu vulkanik yang sampai ke Purwakarta saat ini dinilai masih dalam kondisi yang aman bagi tanaman.

“Sebetulnya abu vulkanik itu ada dampak negatif maupun positifnya. Alhamdulillah, yang diterima di Purwakarta lebih kepada sisi positifnya. Di dalam debu vulkanik terdapat unsur-unsur hara yang dapat membantu menyuburkan tanaman,” ujar Wawan saat ditemui di Kantor Dispangtan Kabupaten Purwakarta, Senin (7/9/2026).

Menurut Wawan, kandungan mineral dalam abu vulkanik dapat berkontribusi terhadap perbaikan sifat dan struktur tanah. Salah satunya melalui proses pertukaran kation yang berperan dalam ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Selain itu, material vulkanik tersebut juga dapat membantu memperbaiki porositas tanah sehingga sirkulasi air dan udara di dalam tanah menjadi lebih baik.

“Abu vulkanik itu bisa membantu memperbaiki kondisi tanah. Tanah yang sebelumnya kurang poros atau cenderung kedap air dapat menjadi lebih berpori, sehingga kondisi tanah menjadi lebih baik bagi tanaman,” jelasnya.

Tidak hanya terhadap kesuburan tanah, Wawan menyebut abu vulkanik juga memiliki potensi dalam membantu menekan organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk hama dan penyakit tertentu.

Menurutnya, salah satu kandungan mineral yang terdapat dalam abu vulkanik adalah sulfur atau belerang. Kandungan tersebut dalam kondisi tertentu dapat menciptakan lingkungan yang kurang disukai oleh sejumlah organisme pengganggu tanaman.

“Untuk pelindungan tanaman, abu vulkanik juga bisa membantu menekan hama dan penyakit. Misalnya, terdapat kandungan seperti belerang yang tidak disukai oleh sejumlah hama dan organisme pengganggu tanaman,” katanya.

Meski demikian, Wawan mengingatkan bahwa dampak abu vulkanik terhadap tanaman tetap dipengaruhi oleh ketebalan material dan lamanya paparan. Semakin tebal dan semakin lama tanaman terpapar abu, tentu diperlukan perhatian lebih terhadap kondisi tanaman.

Namun, kondisi tersebut berbeda dengan abu vulkanik yang sampai ke Purwakarta. Jarak Purwakarta yang cukup jauh dari sumber erupsi membuat abu vulkanik yang terbawa ke wilayah tersebut sudah tidak berada dalam kondisi panas yang berpotensi merusak tanaman.

“Karena Purwakarta jaraknya cukup jauh, abu vulkanik yang sampai ke sini sudah tidak mengandung panas yang dapat merugikan daun tanaman. Dengan batasan ketebalan dan lamanya paparan, kondisi yang terjadi saat ini justru dapat memberikan manfaat terhadap tanah,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, Wawan memastikan tanaman pertanian, buah-buahan, maupun perkebunan di Kabupaten Purwakarta masih dalam kondisi aman. Ia pun mengimbau petani agar tidak terburu-buru mengubah pola tanam atau menunda kegiatan pertanian hanya karena adanya abu vulkanik.

“Kami mengimbau kepada para petani agar jangan sampai terbawa isu bahwa dengan adanya abu vulkanik harus menunda tanam atau mengubah pola tanam. Tidak perlu, karena kondisi penyebaran abu vulkanik ini waktunya terbatas,” tegasnya.

Wawan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan kondisi abu vulkanik yang terjadi saat ini dengan erupsi Gunung Galunggung pada 1982. Peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama sehingga berdampak terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian.

“Berbeda dengan kejadian tahun 1982 saat Gunung Galunggung erupsi. Karena berlangsung lama, ada komoditas unggulan di Garut yang sampai musnah, salah satunya jeruk Garut. Kondisinya berbeda dengan yang terjadi sekarang di Purwakarta,” tuturnya.

Sementara itu, untuk komoditas unggulan Purwakarta seperti manggis, Wawan menilai tidak terdapat alasan untuk mengkhawatirkannya akibat paparan abu vulkanik saat ini. Pasalnya, tanaman tersebut juga berkembang di sejumlah daerah lain di Jawa Barat.

“Kalau di Purwakarta, misalnya manggis, tidak terlalu dikhawatirkan. Karena manggis juga terdapat di kabupaten lain dan Jawa Barat pada umumnya. Jadi tidak ada komoditas unggulan yang hanya ada di Kabupaten Purwakarta,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat dampak yang mengkhawatirkan terhadap tanaman di Purwakarta. Para petani pun diminta tetap beraktivitas seperti biasa dengan tetap memantau perkembangan kondisi di lapangan.

“Intinya aman. Tanaman pangan, buah-buahan dan tanaman perkebunan di Purwakarta masih bagus. Tidak ada pengaruh yang mengkhawatirkan terhadap tanaman,” pungkas Wawan. ***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store