Pesantren di Tengah Persimpangan Zaman, antara Transformasi atau Penjaga Tradisi

Editor: Ahmad Arsyad
Kabar Baru, Opini – Pesantren sejak dahulu masyhur sebagai benteng moral, sumber dari ilmu agama, dan juga ruang untuk membentuk karakter santri. Dari pesantrenlah lahir para u lama, para pemimpin umat serta tokoh-tokoh bangsa yang kian banyak. Namun, di tengah globalisasi yang cepat, pesantren saat ini berada di persimpangan zaman yaitu antara mempertahankan tradisi keilmuan yang klasik atau lama atau menjawab perkembangan dunia modern.
Isu yang urgent bukanlah tentang apakah pesantren itu tertinggal, akan tetapi apakah pesantren diberi ruang dan Langkah-langkah yang tepat untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri aslinya. Di satu sisi, pesantren sering dikatakan tertutup, dan tidak adaptif terhadap perubahan dunia. Di sisi lain, modernisasi yang tidak terarah justru dikhawatirkan menggerus identitas pesantren seperti keikhlasan, adab, dan keaslian sumber ilmu.
Masalah pertama itu terletak pada dikotomi palsu antara tradisi dan modernitas. Seolah-olah pesantren harus memilih antara tetap di ranah salaf atau berubah menjadi modern. Padahal dalam sejarah pesantren justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang sangat luar biasa. Kitab kuning tidak pernah menjadi halangan santri dalam memahami realitas sosial, malahan menjadi landasan atau dasar kritik sosial dan pembelaan terhadap kaum lemah. Yang bermasalah itu bukan kitabnya akan tetapi cara pengelolaannya yang kadang stagnan alias itu itu saja.
Isu yang kedua adalah kesenjangan kompetensi santri dalam menghadapi dunia pasca pesantren. Banyak santri memiliki kekuatan spiritual dan moral yang kuat, tetapi kurang dibekali keterampilan sosial, komunikasi public serta literasi kebangsaan yang memadai. Akibatnya, pesantren sering diperkecil perannya hanya sebagai lembaga keagamaan, bukan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
Selain itu juga, hubungan pesantren dengan negara dan masyarakat luas juga masih problematis. Pesantren sering diposisikan sebagai objek kebijakan bukan subjek pemikiran. Program-program yang masuk ke pesantren sering bersifat top-down dan administratif, tanpa dialog serius dengan kultur dan kebutuhan internal pesantren itu sendiri.
Lalu, bagaimana solusinya?
Pertama, pesantren sangat perlu mengadakan reorientasi kurikulum tanpa meninggalkan akar tradisi. Kitab kuning tetap ada dan menjadi inti, tetapi perlu juga untuk dikontekstualisasikan dengan isu-isu yang kontemporer seperti keadilan sosial, lingkungan, ekonomi umat, kebangsaan, dan etika digital. Santri atau siswa di pesantren tidak cukup dengan hanya memahami teks, tetapi juga dilatih membaca konteks. Dengan demikian, pesantren tidak hanya melahirkan ahli ibadah, tetapi juga intelektual publik yang berakar kuat pada nilai keislaman.
Kedua, santri harus diajarkan tentang ilmu sosial yang lebih mendalam karena mereka adalah penerus ulama yang akan menyebarkan kebaikan di tengah umat. Seperti pelatihan kepemimpinan, kemampuan berbicara di depan publik, menulis opini, dan berdialog lintas kelompok perlu menjadi bagian dari ekosistem pesantren. Ini bukanlah westernisasi, melainkan ikhtiar serta usaha agar nilai-nilai pesantren mampu berbicara di ruang sosial yang lebih luas.
Ketiga, pemerintah, negara dan masyarakat perlu mengubah cara pandang mereka terhadap pesantren. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan alternatif, melainkan mitra strategis dalam pembangunan moral dan sosial bangsa. Kebijakan terhadap pesantren harus berbasis kepercayaan, dialog, dan penghormatan terhadap kemandirian pesantren, bukan sekadar standardisasi dan birokratisasi.
Selain itu, tantangan pesantren hari ini juga berkaitan dengan regenerasi kepemimpinan. Banyak pesantren masih sangat bergantung pada figur sentral kiai karismatik, sementara sistem kaderisasi belum tertata dengan baik. Ketika estafet kepemimpinan tidak dipersiapkan sejak dini, pesantren berisiko mengalami stagnasi bahkan konflik internal. Regenerasi yang sehat bukan berarti mengurangi kewibawaan kiai, melainkan memastikan nilai dan visi pesantren tetap hidup lintas generasi.
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kemandirian ekonomi pesantren. Tidak sedikit pesantren yang masih bergantung pada donasi tidak tetap atau bantuan program jangka pendek. Ketergantungan ini membuat pesantren rentan terhadap tekanan eksternal dan kehilangan daya tawar. Padahal, dengan potensi santri yang besar, pesantren sesungguhnya mampu mengembangkan unit-unit ekonomi produktif berbasis nilai keislaman, seperti koperasi santri, usaha pertanian, atau kewirausahaan sosial.
Di sisi lain, pesantren juga memiliki peluang besar untuk berperan dalam moderasi beragama dan rekonsiliasi sosial. Di tengah meningkatnya polarisasi identitas dan ketegangan wacana keagamaan, pesantren dapat menjadi ruang pendidikan Islam yang menyejukkan dan inklusif. Tradisi musyawarah, adab dalam perbedaan, serta penghormatan terhadap otoritas keilmuan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi kehidupan berbangsa.
Masa depan dunia pesantren tidak cukup hanya dipertahankan dengan membanggakan sejarah. Namun pesantren perlu terus melakukan refleksi diri, membuka ruang evaluasi, serta berani berbenah tanpa kehilangan identitasnya. Ketika pesantren mampu memadukan kedalaman tradisi, kepekaan sosial, dan keberanian bertransformasi, maka ia tidak hanya akan bertahan di tengah zaman, tetapi juga menjadi penunjuk arah bagi masyarakat yang tengah mencari makna di tengah perubahan yang serba cepat.
Pada akhirnya, kekuatan pesantren justru terletak pada kemampuannya berdiri di tengah arus zaman tanpa hanyut. Pesantren tidak perlu menjadi institusi yang “paling modern”, tetapi harus tetap relevan. Menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, dan bertransformasi bukan berarti kehilangan identitas. Di titik inilah pesantren diuji: bukan sekadar bertahan, tetapi memberi arah bagi peradaban.
*) Penulis adalah Baidawi Arrohman, M.E., Mahasiswa Doktoral Universitas Nurul Jadin Paiton Probolinggo, sekaligus Dosen di Institut Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

