PB PMII Buka PKN XXI di Jombang, Kader Didorong Memperkuat Tiga Simpul

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Jombang — Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) membuka Pelatihan Kader Nasional (PKN) XXI di Universitas Darul Ulum Jombang, Sabtu (22/8/2026). PKN yang berlangsung hingga 26 Agustus 2026 itu menjadi jenjang kaderisasi formal terakhir dalam PMII.
Ketua Kaderisasi Nasional PB PMII Acep Jamaludin mengatakan PKN tidak semata-mata menjadi ruang penguatan kapasitas kader. Forum tersebut juga harus menjadi proses untuk membentuk identitas kader yang terbuka, dengan menempatkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan sebagai satu kesatuan.
“Jadikan PKN ini sebagai proses menempa diri untuk lebih mengintegrasikan identitas sosial kita yang tersambung pada tiga simpul yang tidak terpisahkan, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keimanan), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). Tiga simpul ini saling menjaga agar identitas kita tidak menjadi eksklusif dan sempit.”
Pesan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam pelaksanaan PKN XXI yang diikuti kader PMII dari berbagai daerah. Setelah melewati jenjang kaderisasi sebelumnya, peserta pada tahap ini didorong tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan, tetapi juga kemampuan membaca persoalan keumatan dan kebangsaan.
Ketua Umum PB PMII M Shofiyullah Cokro Hadi Kusumo mengatakan pelaksanaan PKN di Jombang memiliki makna tersendiri. Selain mengikuti proses kaderisasi, peserta diminta memanfaatkan keberadaan mereka di Jombang untuk memahami sejarah pergerakan dengan menelusuri jejak para pendahulu PMII dan Nahdlatul Ulama (NU).
“Momentum pelaksanaan PKN di Jombang ini bukan hanya penambahan materi kaderisasi formal terakhir di PMII, tapi juga harus mampu dimaksimalkan untuk mengambil ibrah, mengambil pelajaran, napak tilas dari para pendahulu kita, para muassis PMII dan muassis Nahdlatul Ulama. Kita mengetahui bersama bahwasanya Nahdlatul Ulama lahir dari ulama-ulama yang ada di Jombang dan PMII lahir tahun 1960 atas restu dan juga doa para ulama, wabil khusus Rais Aam pada saat itu, Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah.”
Menurut Shofiyullah, sejarah Jombang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan NU dan PMII. Karena itu, peserta PKN XXI didorong mengenali sejumlah lokasi yang memiliki kaitan dengan sejarah perkembangan organisasi tersebut.
“Setelah pelaksanaan PKN ini, saya harap sahabat-sahabat peserta napak tilas juga ziarah-ziarah ke Tebuireng, Denanyar, Rejoso, dan juga Tambakberas,” ujarnya.
PKN XXI berlangsung pada 22–26 Agustus 2026, bersamaan dengan momentum Muktamar ke-35 NU di Jombang. Bagi PB PMII, situasi tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk membaca kembali perjalanan organisasi dan posisi kader dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.
Dalam pembukaan PKN XXI, Prof. Dr. H. Amir Maliki Abitolkha, M.Ag., mengajak peserta menjadikan momentum tersebut sebagai bahan muhasabah. Ia menekankan pentingnya mempertanyakan kembali posisi organisasi dan membaca berbagai peristiwa yang berlangsung saat ini, termasuk Muktamar NU.
“Muhasabah buat kita, mempertanyakan posisi kita, melihat apa yang terjadi hari ini, salah satunya Muktamar. Apa yang terjadi hari ini menurut kita, seperti apa.”
Amir mengatakan menjadi bagian dari NU pada dasarnya merupakan proses untuk membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik. Nilai tersebut tidak hanya diwujudkan melalui gagasan, tetapi juga melalui praktik keagamaan dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
“Ber-NU itu sederhana, berproses menjadi orang baik.”
PKN XXI merupakan jenjang kaderisasi formal tertinggi PMII. Melalui forum ini, PB PMII mendorong peserta tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mampu membawa nilai, gagasan, dan pengalaman kaderisasi ke ruang pengabdian setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
