Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Keturunan Dalem Santri Pulang dari Amerika, Sejarah Leluhur Purwakarta Kembali Disorot

IMG_20261027_125326
Keturunan Dalem Santri Rd Boyke Pranata Soerianata, bersama tokoh masyarakat dan Duta Pariwisata Jawa Barat Vera Novia berziarah ke makam Dalem Santri di Wanayasa, Purwakarta.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Upaya melestarikan sejarah dan mengenang jasa para leluhur kembali dilakukan melalui kegiatan napak tilas dan ziarah makam Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kegiatan yang melibatkan lintas elemen masyarakat tersebut juga menjadi momentum untuk menggali potensi wisata religi berbasis sejarah.

Kegiatan ini diikuti Raden Boyke Pranata Soerianata, generasi ketujuh Dalem Santri, yang baru kembali ke Indonesia setelah hampir 30 tahun berkarier di Amerika Serikat. Bersama Wadah Silaturahmi Lintas Elemen Masyarakat, BELA PURWAKARTA (BELPUR), Boyke menziarahi makam leluhurnya sekaligus merencanakan penyelenggaraan haul Dalem Santri di Wanayasa.

Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, napak tilas dan ziarah bukan sekadar bentuk penghormatan kepada leluhur, melainkan juga sarana edukasi untuk memperkenalkan sejarah Purwakarta kepada generasi muda.

Sejarah Kabupaten Purwakarta tidak dapat dilepaskan dari peran Dalem Santri dan adiknya, Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata. Keduanya merupakan tokoh yang berperan dalam perjalanan pemerintahan Kabupaten Karawang pada masa kolonial Belanda.

Dalem Santri menjabat sebagai Bupati Karawang pada periode 1820–1827. Pada 1821, ia memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Karawang dari Bunut Kertajaya ke Wanayasa, wilayah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Purwakarta.

Setelah Dalem Santri wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalem Sholawat, yang menjabat pada periode 1828–1849. Pada 1830, pusat pemerintahan dipindahkan dari Wanayasa ke Sindang Kasih. Setahun kemudian, nama Purwakarta dikukuhkan melalui besluit atau keputusan pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 Nomor 2. Tanggal tersebut kemudian menjadi dasar peringatan Hari Jadi Purwakarta setiap 20 Juli.

Kedua tokoh tersebut juga dikenal melalui julukan yang mencerminkan kehidupan religius mereka. Dalem Santri dikenal sebagai sosok yang alim dalam beribadah, sedangkan Dalem Sholawat mendapat julukan karena kebiasaannya berselawat.

Salah satu peninggalan yang dikaitkan dengan masa kepemimpinan Dalem Santri adalah Mata Air Cibulakan di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa. Mata air tersebut hingga kini masih dimanfaatkan sebagai sarana pengairan masyarakat.

Dalam kegiatan napak tilas tersebut, sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat turut hadir, di antaranya Kepala Bagian Protokol Pemerintah Kabupaten Purwakarta Hilman Nugraha, Camat Wanayasa Heru Agus Riyanto, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Wanayasa Gunawan Adriana, Kepala Desa Wanayasa Makmur Hidayat, Wakil Ketua BPD Desa Wanayasa Rina Sri Nurbaeti, serta Kepala Desa Babakan Endin Sopyudin.

Sejumlah perwakilan komunitas juga mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Ali Novel Magad, Sahril Sidik, Asep Richo, dan Uu Wijaya. Hadir pula Vera Novia, Duta Pariwisata Jawa Barat, Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, sekaligus Mojang Kabupaten Purwakarta 2024.

Aa Komara mengatakan, keterlibatan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap sejarah dan warisan budaya daerah.

Sementara itu, Vera Novia menilai kunjungan ke makam Dalem Santri memiliki nilai penting, baik sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur maupun sebagai langkah awal menggali potensi wisata religi.

“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi. Jika ke depan makam Dalem Santri dikembangkan menjadi destinasi wisata religi, tentu berpeluang memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, dan Kabupaten Purwakarta,” ujarnya.

Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin, mengatakan makam Dalem Santri telah dikunjungi peziarah dari sejumlah daerah, antara lain Karawang, Bogor, Bandung, hingga Lamongan, Jawa Timur.

Ia berharap potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama berbagai pihak. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah menghubungkan makam Dalem Santri dengan makam Syekh Baing Yusuf di Purwakarta dan Mama Sempur di Plered dalam satu paket perjalanan wisata religi.

Menurutnya, pengembangan tersebut berpotensi memperluas kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Meski demikian, pengembangan wisata religi perlu disertai penataan kawasan, penyediaan fasilitas peziarah, pemeliharaan situs, serta pelestarian nilai sejarah dan budaya yang melekat pada makam tersebut.

Kolaborasi antara pemerintah, keluarga keturunan tokoh sejarah, komunitas, dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga keberadaan situs bersejarah agar tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Melalui kegiatan napak tilas ini, sejarah Dalem Santri diharapkan semakin dikenal masyarakat luas. Pelestarian warisan leluhur pun tidak hanya menjadi upaya menjaga ingatan terhadap masa lalu, tetapi juga membuka peluang pengembangan edukasi sejarah dan wisata budaya di Kabupaten Purwakarta. (*)

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store