Dosen UIN Sunan Kalijaga Lakukan Hilirisasi Riset Ekoteologi Berbasis Masjid di Poncokusumo Malang

Jurnalis: Wafil M
Kabar Baru, Malang — Hasil penelitian tentang peran masjid dalam membentuk cara berpikir keagamaan masyarakat dikembangkan menjadi gerakan ekoteologi berbasis masjid di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program tersebut dilakukan Abd. Aziz Faiz, dosen Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, melalui program Hibah Hilirisasi Hasil Riset, Inovasi, dan Teknologi LPPM UIN Sunan Kalijaga.
Koordinasi Pelaksaan Hilirisasi Penelitian
Kegiatan berlangsung secara bertahap sejak 18 Juli hingga 18 Agustus 2026 dengan melibatkan mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga, pengelola Masjid, dan tokoh lokal Ahmad Suaedy. Program tersebut diarahkan untuk membawa hasil penelitian dari ruang akademik ke dalam praktik kehidupan masyarakat.
Faiz menjelaskan, penelitian yang selama ini dilakukan di sejumlah masjid di Yogyakarta menunjukkan bahwa masjid memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat. Khutbah, pengajian, dan aktivitas keagamaan yang berlangsung secara rutin membuat masjid menjadi ruang yang efektif untuk membentuk kesadaran jamaah.
“Masjid sebagai ruang sakral memiliki kemampuan membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, hasil penelitian ini kami coba hilirkan. Kesadaran tentang lingkungan terlebih dahulu dibangun melalui bahasa agama, kemudian diterjemahkan menjadi kegiatan yang bisa dilakukan bersama masyarakat,” ujar Faiz.
Poncokusumo dipilih karena masyarakatnya memiliki hubungan yang kuat dengan lingkungan. Kawasan kaki Gunung Semeru ini memiliki kehidupan pertanian, sumber air, pepohonan, dab aktivitas masyarakat yang sangat bergantung pada kondisi alam. Situasi tersebut membuat persoalan lingkungan mudah ditempatkan dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.
Tahap awal program diarahkan pada pembentukan kesadaran melalui khutbah Jumat bertema ekoteologi. Materi khutbah mengangkat ayat-ayat Al-Qur’an tentang hubungan manusia dengan alam, keseimbangan kehidupan, amanah manusia sebagai khalifah, dan kewajiban menjaga nikmat Allah. Melalui khutbah, isu lingkungan diperkenalkan sebagai bagian dari kesadaran keagamaan.
Faiz menguraikan bahwa hilirisasi risetnya dimuali dari khutbah, gagasan tersebut kemudian diperluas melalui pengajian keagamaan masyarakat. Pendekatan ini digunakan agar pesan ekologis dapat dibicarakan melalui bahasa yang lebih dekat dengan pengalaman dan kebudayaan masyarakat setempat. Tahap berikutnya diwujudkan melalui gerakan bersih lingkungan dan penanaman pohon bersama masyarakat. Mahasiswa KKN bersama warga terlibat dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara pesan keagamaan dengan praktik ekologis sehari-hari.
Pada tahap akhir, program diarahkan pada pembangunan insinerator minim asap untuk membantu penanganan sampah. Fasilitas tersebut ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian gerakan, setelah kesadaran dan praktik pengelolaan lingkungan mulai dibangun bersama masyarakat. Teknologi digunakan sebagai sarana pendukung agar sampah yang tidak dapat dikelola melalui cara lain dapat ditangani dengan lebih baik dan dampak asap dapat diminimalkan.
“Urutannya penting. Kami mulai dari membangun pemikiran melalui khutbah, memperluasnya melalui pengajian, menerjemahkannya dalam gerakan bersih lingkungan dan menanam pohon, kemudian menyediakan teknologi pengelolaan sampah. Jadi, teknologi berada di ujung proses, setelah kesadaran dan praktik masyarakat dibangun,” Ujar Faiz.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) serta Asta Protas Kementerian Agama. Bagi Faiz, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi sumber energi sosial untuk mendorong perubahan ekologis yang konkret.
Dari masjid, pesan tentang lingkungan dibangun sebagai cara pandang. Dari pengajian, ia diperluas menjadi percakapan keagamaan dan budaya. Dari percakapan, masyarakat bergerak membersihkan lingkungan dan menanam pohon. Pada akhirnya, gerakan tersebut dilengkapi dengan teknologi pengelolaan sampah. Rangkaian itu menjadi model hilirisasi riset yang berusaha mempertemukan pengetahuan, agama, masyarakat, dan tindakan nyata untuk menjaga lingkungan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
