Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Belajar di Kafe, Bentuk Produktivitas Rill atau Teater Gaya Hidup?

3e05432b-6912-426c-9fd3-52d750f8e594-62a187082098ab346d4283b2
Ilustrasi - (Foto: Kompasiana).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Pemandangan mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas di kafe  bukan lagi hal asing. Di setiap sudut kota, kafe kini tak hanya menjadi tempat untuk  menikmati kopi, tetapi beralih fungsi menjadi “ruang belajar” baru yang ramai dikunjungi mahasiswa. Gawai terbuka. Earphone terpasang. Secangkir kopi serta camilan menjadi dekorasi wajib. Suasana yang nyaman, aroma kopi yang menenangkan, serta fasilitas Wi-Fi gratis seolah menjadikan kafe sebagai tempat paling ideal untuk belajar. Namun, benarkah ini demi produktivitas, atau hanya sekadar tren yang menguras kantong?

Bagi sebagian mahasiswa, kafe dianggap sebagai oase di tengah penatnya kamar kos atau kakunya perpustakaan dengan fasilitas yang lengkap seperti Wi-Fi gratis, stopkontak, sofa dan kursi yang nyaman membuat mereka lebih bersemangat dalam belajar. Survey Jurnalisme Data Indonesia (2024) mencatat bahwa sekitar 72% mahasiswa di  kota besar mengerjakan tugas di kafe setidaknya dua kali dalam  sebulan. Alasannya klasik karena suasana yang santai, fasilitas kafe dan internet yang mumpuni. Survei dari  Jakpat (2024) pun memperkuat hal ini yakni sekitar 65% anak muda memilih kafe sebagai tempat belajar karena fasilitas internet dan stopkontak yang memadai. Secara psikologis, penelitian Frontiers in Psychology (2019) bahkan menyebutkan bahwa musik ringan dan keriuhan rendah (ambient noise) dapat meningkatkan fokus otak.

Selain itu, tekanan sosial untuk terlihat produktif juga menjadi salah satu faktor di balik fenomena ini. Fenomena ini erat kaitanya dengan teori Symbolic Interaction dari Erving Goffman mengenai “impression management”. Goffman melihat bahwa individu cenderung melakukan pertunjukkan di “teater depan” ruang publik untuk membangun citra tertentu. Dalam konteks ini, kafe menjadi panggung di mana produktivitas harus dipamerkan agar mendapat validasi sosial.

Kebutuhan untuk “terlihat sibuk” ini tanpa disadari memicu beban kesehatan mental. Muncul kecemasan jika tidak ikut serta dalam tren atau adanya perasaan “tertinggal” jika hanya belajar di kamar kos. Akibatnya, produktivitas bukan lagi soal hasil kerja, melainkan tentang citra yang berhasil ditampilkan.

Sayangnya, niat belajar seringkali terjebak dalam distraksi dari lingkungan sekitar, banyak mahasiswa justru sibuk mencari sudut foto terbaik demi unggahan Instagram Story. Kadata Insight Center (2024) mengonfirmasi hal ini: lebih dari 50% mahasiswa mengaku sulit fokus karena gangguan interaksi sosial di kafe. Waktu yang seharusnya untuk belajar habis untuk mengobrol, menjadikan sesi “belajar” berubah menjadi ajang nongkrong berkepanjangan.

Efek samping lainnya adalah gaya hidup konsumtif yang tidak sehat bagi kantong mahasiswa. Berdasarkan laporan IDN Times Lifestyle (2023), harga rata-rata minuman  di kafe berkisar antara Rp25.000–Rp50.000, belum termasuk  makanan dan minuman serta ongkos transportasi. Dengan harga minuman rata-rata Rp25.000-Rp50.000, seorang mahasiswa yang rutin ke kafe dua kali seminggu bisa merogoh kocek hingga lebih dari Rp400.000 per bulan. Ironisnya, demi gaya hidup ini, tak jarang mahasiswa rela mengorbankan anggaran uang makan mereka. Dari sini timbul pertanyaan : apakah kafe benar-benar tempat belajar, atau hanya sekadar teater gaya hidup?

Produktivitas tidak pernah diukur dari seberapa mahal harga kopi yang kita beli atau seberapa estetik meja tempat kita duduk. Kuncinya tetap pada disiplin diri dan kemampuan mengatur waktu. Kafe memang bisa menjadi tempat inspiratif untuk menyegarkan pikiran dan mengurangi stres, asalkan digunakan secara bijak dan sadar. Jika belajar di kafe  hanya berujung pada pemborosan dan distraksi dari lingkungan sekitar, maka niat  awal untuk “lebih semangat belajar” malah bergeser menjadi “sekadar tampil sibuk.”

Saya juga menyayangkan bagaimana kebiasaan ini seringkali tidak diimbangi  dengan pengelolaan keuangan yang baik. Mahasiswa rela mengorbankan uang  makan hanya demi duduk di kafe berjam-jam. Gaya hidup seperti ini, jika dibiarkan,  bisa membentuk pola konsumtif yang sulit diubah.

Sebelum memutuskan untuk memesan kursi di kafe besok pagi, ada baiknya kita jujur pada diri sendiri: apakah kita benar-benar ingin menjadikan kafe sebagai ruang belajar, atau hanya ingin terlihat seperti orang yang sedang belajar?

 

*) Penulis adalah Naya Alfaloqita Putri, Mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Indonesia.

 

Jurnalisme Hijau

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store