Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Banjir Bukan Sekedar Bencana Alam: Dari Sampah Hingga Alih Fungsi Lahan Sebagai Tantangan Lingkungan

desember-2025-banjir-bandang-dan-longsor-terjang-sumatera-1767084168333_169
Penulis: PUTRI, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin. (Foto: Detik.com).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Musim hujan kembali datang dan bersamaan dengan itu banjir kembali menjadi peristiwa yang berulang di berbagai daerah di Indonesia. Genangan air yang merendam permukiman, terganggunya aktivitas masyarakat, hingga lumpuhnya akses transportasi seolah telah menjadi rutinitas tahunan. Banjir kerap dipahami sebagai bencana alam yang tidak terhindarkan. Padahal, jika dicermati lebih jauh, banjir merupakan persoalan lingkungan yang kompleks dan melibatkan peran manusia di dalamnya.

Curah hujan yang tinggi memang menjadi faktor alamiah yang sulit dikendalikan. Namun, dampak banjir yang semakin meluas menunjukkan bahwa persoalan ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Kondisi lingkungan yang kurang terkelola dengan baik justru memperbesar risiko dan dampak banjir. Oleh karena itu, penting untuk melihat banjir sebagai hasil dari interaksi antara alam dan aktivitas manusia.

Salah satu persoalan lingkungan yang paling terlihat adalah masalah sampah. Saluran drainase yang tersumbat, sungai yang dipenuhi limbah rumah tangga, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi pemandangan yang umum di banyak wilayah. Sampah yang tidak dikelola dengan baik menghambat aliran air dan menyebabkan luapan saat hujan deras. Persoalan ini menunjukkan bahwa perilaku sehari-hari masyarakat memiliki kontribusi nyata terhadap terjadinya banjir.

Selain sampah, tantangan lingkungan juga berkaitan dengan perubahan fungsi lahan akibat berbagai aktivitas manusia. Kegiatan ekstraktif seperti pertambangan, pembukaan lahan dalam skala besar, serta berkurangnya tutupan vegetasi berpotensi memengaruhi daya dukung lingkungan. Ketika struktur tanah berubah dan kemampuan lahan untuk menyerap air menurun, air hujan lebih mudah mengalir ke wilayah hilir dan permukiman warga. Kondisi ini memperbesar potensi terjadinya banjir, khususnya pada saat intensitas curah hujan tinggi.

Namun demikian, persoalan banjir tidak dapat dilihat secara sederhana dengan menunjuk satu faktor atau satu pihak sebagai penyebab utama. Banjir merupakan akumulasi dari berbagai tantangan lingkungan yang saling berkaitan, mulai dari perilaku masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kebijakan pengelolaan lingkungan. Pendekatan yang parsial justru berisiko mengabaikan kompleksitas persoalan yang ada.

Dalam konteks inilah peran komunikasi menjadi sangat penting. Informasi mengenai pengelolaan sampah, perlindungan lingkungan, serta dampak perubahan fungsi lahan perlu disampaikan secara berkelanjutan dan mudah dipahami oleh masyarakat. Komunikasi lingkungan tidak cukup hanya berupa imbauan sesaat, tetapi harus mampu membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku jangka panjang. Kampanye publik, edukasi lingkungan sejak dini, serta pelibatan komunitas lokal dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian bersama.

Pemerintah juga memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan lingkungan ini, terutama melalui kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan. Penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan terhadap aktivitas yang berdampak pada lingkungan, serta upaya menjaga keseimbangan ekosistem perlu dijalankan secara konsisten. Namun, kebijakan yang baik tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan dan partisipasi aktif masyarakat sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Banjir seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar peristiwa yang dilupakan setelah air surut. Setiap musim hujan datang, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa banjir terjadi, tetapi juga sejauh mana kepedulian kita terhadap lingkungan telah diwujudkan dalam tindakan nyata. Kesadaran ini penting agar banjir tidak terus dipandang sebagai takdir yang tidak dapat dihindari.

Pada akhirnya, banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sampah yang dibiarkan, perubahan fungsi lahan, serta minimnya kesadaran kolektif menunjukkan bahwa tantangan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Dengan komunikasi yang efektif, kebijakan yang berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat, upaya mengurangi risiko banjir dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan berkesinambungan.

 

*) Penulis adalah PUTRI, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store