Tere Liye Geram Silfester Tak Kunjung Ditahan Malah Nyaman Jadi Komisaris BUMN

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Jakarta – Penulis kenamaan sekaligus alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Tere Liye, kembali melontarkan kritik pedas terkait mandeknya eksekusi hukum terhadap Silfester Matutina.
Penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar ini menyoroti ketimpangan hukum yang mencolok antara rakyat kecil dengan mereka yang berada di lingkaran kekuasaan.
Silfester Matutina, yang publik kenal sebagai pendukung setia mantan Presiden Jokowi, memegang status terpidana dengan vonis 1,5 tahun penjara atas kasus fitnah dan ujaran kebencian sejak 2019.
Namun, Tere Liye menyayangkan hingga kini sang terpidana belum juga menyentuh dinginnya jeruji besi.
Syarat SKCK dan Privilese Komisaris
Tere Liye menyoroti kontradiksi tajam mengenai syarat administratif bagi rakyat biasa yang ingin bekerja dibandingkan dengan jabatan strategis pendukung rezim.
Ia merasa miris melihat rakyat kecil harus melampirkan SKCK bahkan untuk posisi pegawai rendah, sementara seorang terpidana justru duduk nyaman di kursi Komisaris BUMN IDFood.
“Kalian mau kerja harus pakai SKCK toh, bahkan hanya jadi pegawai rendahan. Tapi Silfester, seorang terpidana, justru duduk nyaman di kursi Komisaris BUMN,” ujar Tere Liye melalui akun media sosialnya, Jumat (27/03/2026).
Ia menilai sangat ironis jika seorang terpidana masih menerima gaji dan fasilitas negara sementara aparat penegak hukum seolah kehilangan taringnya.
Kejaksaan Gagal Tegakkan Hukum
Sebagai penulis yang konsisten menyuarakan ketidakadilan sosial, Tere Liye menilai fenomena ini sebagai tamparan keras bagi institusi Kejaksaan.
Ia menyebut klaim pemberantasan korupsi dan penegakan hukum hanyalah omong kosong selama kasus penahanan Silfester terus mengalami pembiaran.
Tere Liye juga membandingkan ketimpangan penerapan UU ITE di Indonesia. Ia mencontohkan banyak rakyat kecil yang langsung masuk penjara bersama bayinya meski baru berstatus tersangka.
Sebaliknya, Silfester dianggap sakti karena status hukumnya tidak menghalangi dirinya untuk tetap bebas dan menjabat posisi prestisius di perusahaan pelat merah.
Aib Besar Wajah Penegakan Hukum
Situasi ini menurut Tere Liye merupakan aib besar bagi wajah penegakan hukum di tanah air.
Ia mendesak otoritas terkait untuk segera melakukan eksekusi demi menjaga marwah institusi negara dan profesionalisme di tubuh BUMN yang seharusnya bersih dari figur bermasalah secara hukum.
“Setiap kali melihat Kejaksaan bergaya mau memberantas korupsi, saya ingat wajah Silfester. Seluruh institusi seolah dikencingi olehnya. Apa susahnya mengeksekusi satu orang ini?” pungkas alumnus UI tersebut.
Hingga berita ini naik, pihak Kejaksaan maupun manajemen IDFood belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik keras sang penulis.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

