Degradasi Moral Hari Raya Idul Fitri: Takbiran Pakai Youtube dan Flexing Jadi Budaya Baru

Editor: Edi Junaidi Ds
Kabar Baru, Opini – Hari Raya Idul Fitri sejatinya menjadi puncak kemenangan spiritual bagi umat Muslim setelah sebulan penuh menempa diri.
Namun, seiring pesatnya arus digitalisasi, makna sakral kemenangan ini perlahan mengalami degradasi.
Fenomena pergeseran budaya kini mulai mengancam kekhidmatan tradisi, mengubah interaksi sosial yang hangat menjadi sekadar konsumsi digital yang individualistis.
Salah satu potret nyata perubahan ini terlihat pada malam takbiran. Jika dahulu gema takbir bersahut-sahutan dari suara asli warga di masjid dan mushola, kini banyak lingkungan masyarakat yang memilih cara instan.
Mereka mengganti partisipasi kolektif dengan memutar rekaman takbiran melalui platform YouTube atau layanan streaming lainnya.
Hilangnya Ruh Partisipasi
Kehadiran teknologi memang menawarkan kualitas suara takbir yang lebih merdu dan profesional. Namun, kemudahan ini justru mengikis nilai partisipatif yang menjadi ruh dari tradisi tersebut.
Masyarakat kini cenderung menjadi pendengar pasif di rumah masing-masing daripada berkumpul untuk mengagungkan asma Tuhan secara bersama-sama.
Kondisi ini diperparah dengan menurunnya keterlibatan orang dewasa di masjid. Malam takbiran kini lebih banyak didominasi oleh anak-anak tanpa pendampingan yang memadai.
Tanpa bimbingan generasi tua, takbiran berisiko kehilangan makna filosofisnya dan hanya menjadi ajang bermain atau euforia semata.
Suasana yang dulunya menggugah jiwa spiritual kini terasa lebih sepi dan kehilangan esensi kebersamaannya.
Antara Refleksi dan Ajang Pamer
Degradasi harmoni tidak berhenti pada urusan ritual, tetapi menjalar ke perilaku sosial.
Idul Fitri yang seharusnya mengedepankan kesederhanaan dan maaf-memaafkan, kini sering kali berubah menjadi panggung flexing atau pamer kemewahan di media sosial.
Unggahan pakaian mahal, kendaraan baru, hingga hidangan glamor memenuhi lini masa, memicu budaya adu gengsi di tengah masyarakat.
Fenomena pamer ini secara perlahan menggeser orientasi hari raya dari nilai spiritual menuju materialistik. Tekanan sosial memaksa sebagian orang untuk tampil lebih demi pengakuan publik, yang pada akhirnya menciptakan kompetisi sosial yang melelahkan.
Bukannya mempererat silaturahmi, budaya ini justru berpotensi merusak keharmonisan karena memicu rasa iri dan kesenjangan psikologis antarwarga.
Mengembalikan Makna Sejati
Melihat fenomena ini, masyarakat memerlukan kesadaran kolektif untuk memulihkan marwah Idul Fitri.
Tokoh agama, pengurus masjid, hingga kepala keluarga harus kembali mendorong partisipasi aktif dalam menghidupkan tradisi.
Teknologi seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti interaksi manusia yang tulus.
Menjaga harmoni Lebaran bukan sekadar mempertahankan ritual tahunan, melainkan merawat ruh kebersamaan dan keikhlasan.
Jika kita membiarkan arus materialisme dan kenyamanan digital terus mendominasi, bukan tidak mungkin Idul Fitri di masa depan akan kehilangan maknanya dan hanya menyisakan perayaan hampa tanpa jiwa.
*Penulis adalah Ketua Komunitas Cinta Indonesia (KCI), Moh Aldy Maulana.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

