Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Mengelola Sampah Jadi Berkah: Ecoenzym, POC, dan Maggot sebagai Solusi Lingkungan

akahsgajja
Penulis adalah Mohammad Aries Askhabi, Anggota Kelompok 2 KKN Non Reguler 7 Untag Surabaya.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Di tengah semakin menguatnya isu perubahan iklim dan krisis lingkungan, masyarakat dituntut untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku perubahan.

Upaya kecil yang dilakukan dari rumah tangga dapat membawa dampak besar ketika digerakkan secara kolektif.

Hal inilah yang menjadi dasar lahirnya program pengabdian masyarakat Sub Kelompok 2 KKN Non Reguler 7 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya.

Program ini digerakkan oleh lima mahasiswa Mohammad Aries Askhabi, Ahmad Rafi Hadi Putra, Annisa Nabila Shofia, dan Mochammad Raihan Al Muzzaki di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Wahyu Kuncoro, S.T., M.Med.Kom.

Sasaran kegiatan ini adalah pelaku usaha lokal salah satunya Bu Leha, yang selama ini menjalankan usaha pedagang sayur di lingkungan Balongsari.

Sebagian besar masyarakat belum menyadari bahwa limbah rumah tangga dan sisa produksi UMKM sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan ekologis.

Program KKN ini menghadirkan tiga solusi sederhana namun berdampak: Ecoenzym, pupuk organik cair (POC), dan budidaya maggot.

Ketiga inovasi ini bukan sekadar trend, tetapi tool praktis yang mampu mengurangi sampah, memperbaiki kualitas lingkungan, sekaligus memberikan peluang usaha tambahan, baik bagi rumah tangga maupun pelaku usaha seperti milik Bu Leha.

Dalam penyuluhan bersama Bu Leha, mahasiswa menjelaskan bahwa limbah dapur seperti kulit buah, sayuran, dan sisa makanan dapat menjadi Ecoenzym cairan serbaguna yang bermanfaat sebagai pembersih alami, penyubur tanaman, hingga pengurang bau.

Dengan biaya nyaris nol, Ecoenzym menjadi bukti bahwa rumah tangga dapat menghasilkan produk ramah lingkungan tanpa ketergantungan material kimia.

Begitu pula dengan POC, pupuk organik hasil fermentasi limbah dapur. Kenaikan harga pupuk kimia membuat produk ini menjadi alternatif yang sangat ekonomis.

Bagi pelaku usaha, terutama yang memproduksi makanan, POC membantu menjaga kebersihan dapur, memanfaatkan sampah organik, dan bahkan meningkatkan produktivitas tanaman bagi yang menanam bahan baku sendiri.

Ecoenzym dan POC bukan hanya efektif, tetapi juga memperkuat mindset bahwa kebersihan, kesehatan, dan kemandirian lingkungan dapat dicapai dengan inovasi sederhana.

Program maggot menjadi bagian paling menarik bagi warga Balongsari. Melalui demonstrasi, mahasiswa menjelaskan bagaimana larva Black Soldier Fly (BSF) mampu mengurai sampah organik jauh lebih cepat daripada pembusukan alami.

Hasilnya, warga tidak hanya mendapatkan pengurangan sampah, tetapi juga sumber protein untuk pakan ternak yang bernilai jual tinggi.

Bagi Bu Leha sebagai pelaku usaha, manfaat ini sangat relevan. Sisa bahan makanan dari produksi harian dapat diolah menjadi pakan maggot.

Dengan pengelolaan yang tepat, maggot dapat menjadi income stream tambahan tanpa memerlukan modal besar.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga ekonomi sirkular di mana limbah berubah menjadi aset.

Namun, kesadaran lingkungan bukanlah perubahan instan. Perlu konsistensi, pembiasaan, dan dukungan berkelanjutan dari masyarakat, pemerintah kelurahan, serta lembaga pendidikan.

Program KKN tidak boleh hanya berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi menjadi fondasi gerakan jangka panjang. Lingkungan bukan hanya milik generasi sekarang, tetapi juga titipan bagi generasi mendatang.

Melalui program Ecoenzym, POC, dan Maggot, Sub Kelompok 2 KKN Non Reguler 7 Untag Surabaya membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil memanfaatkan limbah, mengedukasi warga, dan melibatkan pelaku usaha sayur seperti Bu Leha sebagai bagian dari solusi.

Program ini menjadi contoh bahwa keberlanjutan tidak harus mahal. Ia hanya membutuhkan kemauan untuk berubah dan keberanian untuk memulai.

Surabaya, sebagai kota besar dengan dinamika urban yang cepat, membutuhkan lebih banyak inisiatif seperti ini.

Karena masa depan lingkungan kita bukan ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh aksi-aksi kecil yang dilakukan dengan konsisten.

*Penulis adalah Mohammad Aries Askhabi, Anggota Kelompok 2 KKN Non Reguler 7 Untag Surabaya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store