Santri Matic Diluncurkan, Dirjen Pesantren Soroti Keterampilan Santri

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Solo – Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menilai santri sudah punya bekal karakter yang kuat dari pesantren. Yang masih perlu dikejar adalah keterampilan teknis agar santri bisa membuka usaha dan bersaing di dunia kerja.
Hal itu disampaikan Basnang saat peluncuran program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo, Sabtu (31/10/2026).
“Santri itu soft skill-nya sudah kuat,” kata Basnang, seperti dilansir Fokus Jateng.
Menurut Basnang, santri sudah dibekali karakter yang kuat di pesantren, mulai dari kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, hingga tanggung jawab. Yang perlu ditambah sekarang adalah hard skill atau keterampilan praktis. Di sinilah, kata dia, negara perlu hadir untuk menjembatani.
4.000 pesantren punya BLK
Basnang menyebut pesantren sebenarnya sudah punya modal untuk melatih keterampilan santri. Seperti dilansir Mettanews, berdasarkan data Kemenag, ada sekitar 4.000 pesantren yang memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) dan sekitar 800 SMK berbasis pesantren.
Fasilitas itu bisa dipakai untuk melatih santri di berbagai bidang, mulai dari fesyen dan membatik hingga membuat mesin. Meski begitu, Basnang mengakui tidak semua BLK pesantren masih berjalan dengan baik. Karena itu, ia mengajak kementerian lain ikut menghidupkan kembali fasilitas tersebut.
Ia menilai potensi pesantren terlalu luas untuk digarap satu kementerian saja. Selain Kementerian Ekonomi Kreatif, pesantren bisa bekerja sama dengan Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, hingga Kementerian Pariwisata.
Dari makam tokoh hingga sarung
Basnang juga melihat peluang ekonomi kreatif dari wisata religi. Ia mencontohkan makam tokoh-tokoh besar yang ramai diziarahi setiap hari, termasuk makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Menurut dia, banyak peziarah datang tanpa benar-benar mengenal tokoh yang mereka kunjungi. Biografi tokoh itu bisa ditulis dan dikemas menjadi cerita, lalu dilengkapi produk cendera mata.
Basnang juga menyinggung sarung dan peci. Ia tidak setuju jika keduanya dianggap lambang ketertinggalan. Menurut dia, sarung dan peci adalah identitas asli Nusantara yang patut dibanggakan, berbeda asal-usulnya dengan jas dan dasi yang datang dari Eropa.
Usul festival di Hari Santri 2027
Di hadapan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Wali Kota Solo Respati Ardi, Basnang mengusulkan kerja sama lanjutan pada peringatan Hari Santri 2027 di Solo. Ia berharap peringatan itu bisa diisi festival batik santri dan festival peci.
Santri Matic merupakan program Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Agama dan Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta. Pada pelaksanaan perdana, program ini menggandeng Shopee Indonesia dan diikuti 200 santri dari 22 pesantren se-Solo Raya. Peserta dilatih membuat konten video, berjualan di marketplace, dan menjadi afiliator.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
