Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Sehat Hari Ini, Prestasi Esok Hari: SMPN 3 Purwakarta Gandeng Orang Tua

IMG-20260901-WA0019
SMPN 3 Purwakarta perkuat sinergi orang tua, kesehatan siswa jadi perhatian utama.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – SMPN 3 Purwakarta terus memperkuat sinergi dengan orang tua atau wali peserta didik sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memastikan tumbuh kembang siswa berjalan secara optimal.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pertemuan bersama orang tua atau wali siswa kelas VIII yang membahas hasil Rapor Pendidikan serta rekomendasi tindak lanjut berdasarkan identifikasi akar masalah yang ditemukan di lingkungan sekolah.

Kegiatan berlangsung di ruang laboratorium SMPN 3 Purwakarta, Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 100, Kabupaten Purwakarta, Selasa (1/9/2026).

Kepala SMPN 3 Purwakarta, Muhamad Husni, mengatakan pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum penyampaian informasi, tetapi juga momentum untuk menyamakan persepsi dan membangun kolaborasi antara sekolah dengan keluarga.

Salah satu perhatian yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah kondisi kesehatan peserta didik. Menurut Husni, kesehatan memiliki hubungan erat dengan kesiapan anak dalam mengikuti proses pembelajaran dan mengembangkan potensi dirinya.

“Anak yang sehat akan lebih siap belajar, beraktivitas, bersosialisasi, dan mengembangkan potensinya secara optimal. Karena itu, menjaga kesehatan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama dengan keluarga,” ujar Husni.

Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah menyampaikan laporan hasil pemeriksaan kesehatan gratis peserta didik yang bersumber dari Puskesmas. Data tersebut menunjukkan perbandingan kondisi kesehatan siswa pada 2024 dan 2025.

Pada aspek anemia, jumlah siswa yang terdeteksi mengalami kondisi tersebut meningkat dari 18 siswa pada 2024 menjadi 29 siswa pada 2025, atau bertambah 11 siswa.

Peningkatan juga terlihat pada gangguan mata, khususnya rabun jauh. Jika pada 2024 tercatat 12 siswa, jumlah tersebut meningkat menjadi 20 siswa pada 2025 atau bertambah delapan siswa.

Sementara itu, siswa yang terdeteksi mengalami gangguan kesehatan jiwa meningkat dari satu siswa pada 2024 menjadi delapan siswa pada 2025. Adapun gangguan gigi meningkat dari 14 siswa menjadi 15 siswa.

Data tersebut menjadi perhatian sekolah karena menunjukkan adanya peningkatan jumlah peserta didik yang terdeteksi memiliki persoalan kesehatan pada sejumlah aspek.

“Data ini menjadi bahan evaluasi dan perhatian bagi kami. Sekolah perlu melakukan edukasi dan pencegahan sejak dini, tetapi tentu tidak bisa berjalan sendiri. Peran orang tua sangat penting dalam memantau kondisi anak dan membangun kebiasaan hidup sehat di rumah,” jelasnya.

Husni menekankan, pola hidup sehat perlu dibangun secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Orang tua diharapkan rutin memantau kondisi kesehatan anak dan segera mengambil langkah apabila ditemukan keluhan.

Anak juga perlu dibiasakan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan air, berolahraga, menjaga kebersihan diri, serta mendapatkan waktu tidur dan istirahat yang cukup.

Perhatian juga diarahkan pada kebiasaan anak menggunakan gadget. Penggunaan perangkat digital, kata Husni, perlu mendapat pengawasan agar tidak berlebihan dan tidak mengganggu waktu tidur, belajar, aktivitas fisik maupun interaksi sosial.

“Gunakan gadget seperlunya, bukan sepanjang waktu. Anak tetap membutuhkan waktu untuk belajar, bermain, beraktivitas fisik, berinteraksi dengan keluarga dan teman, serta beristirahat,” katanya.

Dalam pembahasan kesehatan peserta didik, sekolah juga memberikan edukasi mengenai dampak psikologis penggunaan gadget, termasuk aktivitas bermain game melalui telepon seluler.

Bermain game dalam batas wajar dapat menjadi sarana hiburan. Namun, penggunaan yang berlebihan perlu diwaspadai karena dapat berdampak terhadap kondisi psikologis dan aktivitas keseharian anak.

Sejumlah dampak yang perlu menjadi perhatian antara lain kecenderungan adiksi atau kecanduan, gangguan emosi, menurunnya konsentrasi, menurunnya rasa percaya diri, isolasi sosial, hingga gangguan tidur.

Karena itu, pengawasan orang tua diperlukan untuk memastikan penggunaan gadget tetap seimbang dengan kebutuhan anak untuk belajar, beristirahat, beraktivitas fisik dan bersosialisasi.

Selain aspek psikologis, kesehatan mata menjadi perhatian tersendiri seiring meningkatnya jumlah siswa yang terdeteksi mengalami rabun jauh.

Sekolah mengajak orang tua membiasakan anak membaca dan belajar dengan pencahayaan yang cukup, menjaga jarak pandang ketika membaca maupun menggunakan gadget, serta memberikan waktu istirahat bagi mata secara berkala.

Anak juga dianjurkan memperbanyak aktivitas di luar ruangan, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan tangan dan mata, serta melakukan pemeriksaan mata secara rutin apabila mengalami gangguan penglihatan.

“Mata adalah jendela dunia. Karena itu, kesehatan mata harus dijaga sejak dini. Mata sehat, belajar semangat, masa depan cerah,” ungkap Husni.

Lebih lanjut, SMPN 3 Purwakarta mendorong orang tua untuk tidak memaksakan anak bersekolah ketika sedang sakit. Langkah tersebut penting agar proses pemulihan berjalan optimal sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit kepada peserta didik lainnya.

Orang tua juga diminta menyampaikan informasi kepada wali kelas atau pihak sekolah apabila anak memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan perhatian atau penanganan khusus.

Komunikasi yang terbuka antara keluarga dan sekolah dinilai menjadi kunci agar persoalan yang dihadapi peserta didik dapat diketahui lebih awal dan ditindaklanjuti secara bersama-sama.

Husni berharap sinergi tersebut dapat terus diperkuat sehingga sekolah dan keluarga memiliki komitmen yang sama dalam mendukung pendidikan sekaligus kesehatan peserta didik.

“Sekolah tidak hanya bertugas mendidik anak agar cerdas secara akademik. Kami juga ingin membantu membentuk kebiasaan hidup sehat, mandiri, disiplin dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Menurutnya, lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan anak. Karena itu, keteladanan orang tua dalam menerapkan pola hidup sehat diharapkan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter di rumah.

“Kami berharap terjalin sinergi yang harmonis antara sekolah dan orang tua dalam menjaga kesehatan anak. Anak sehat, belajar lebih semangat, tumbuh lebih optimal, dan masa depan lebih hebat,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga dan dukungan layanan kesehatan, SMPN 3 Purwakarta berkomitmen menjadikan hasil evaluasi bukan sekadar data, melainkan dasar untuk melakukan langkah perbaikan yang berkelanjutan.

Sehat hari ini, prestasi esok hari. ***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store