Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Setelah Tombol Beli Ditekan, Perjalanan Bibit Ayam di Marketplace Baru Dimulai

d3a083d590d48d3903dfc6b1
Pengiriman DOC ayam oleh Lazia Indonesia ke Gorontalo melalui jalur udara.

Jurnalis:

KABAR BARU, JAKARTA — Memesan barang melalui marketplace kini hanya membutuhkan beberapa langkah. Pilih produk, masukkan ke keranjang, lakukan pembayaran, lalu menunggu paket tiba di alamat tujuan.

Namun, bagaimana jika barang yang dibeli bukan pakaian, elektronik, atau perlengkapan rumah tangga, melainkan bibit ayam yang masih hidup?

Bagi pembeli, prosesnya mungkin terlihat sama. Produk ditemukan melalui marketplace, pesanan dibuat, dan pembayaran dilakukan secara digital.

Di belakang layar, prosesnya jauh lebih panjang.

Bibit ayam atau day-old chick (DOC) membutuhkan penanganan yang berbeda dengan barang biasa. Ketersediaan bibit, jadwal pengiriman, jarak tujuan, moda transportasi, hingga lokasi pengambilan dapat menentukan bagaimana pesanan tersebut sampai kepada pembeli.

Salah satu gambaran mengenai proses tersebut terlihat dalam pengiriman DOC ayam dari Jawa ke Gorontalo melalui jalur udara.

Pesanan Selesai di Marketplace, tetapi Perjalanan Baru Dimulai

Pada barang konsumsi biasa, sistem marketplace dan jaringan kurir umumnya memungkinkan barang bergerak dari penjual menuju alamat pembeli.

Bibit ternak memiliki kondisi berbeda.

DOC ayam merupakan hewan hidup. Artinya, proses distribusinya tidak hanya berkaitan dengan jarak dan biaya pengiriman, tetapi juga waktu dan kondisi perjalanan.

Peternak yang berada jauh dari sentra pembibitan harus mempertimbangkan apakah bibit tersedia pada waktu yang dibutuhkan, bagaimana bibit dikirim, melalui jalur apa, dan di mana bibit akan diterima.

Karena itu, transaksi digital hanya menjadi salah satu bagian dari keseluruhan proses.

Tombol “pesan” dapat ditekan dalam hitungan detik. Perjalanan bibit menuju peternak bisa membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Ketika Pembeli Berada Jauh dari Sentra Pembibitan

Persoalan tersebut semakin terlihat ketika transaksi dilakukan lintas daerah.

Peternak di Pulau Jawa mungkin memiliki akses yang relatif dekat dengan sentra pembibitan. Namun, kondisi berbeda dapat terjadi ketika pembeli berada di luar pulau.

Tidak semua daerah memiliki jalur distribusi yang sama. Dalam kondisi tertentu, bibit harus dibawa terlebih dahulu menuju titik transportasi tertentu sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan.

Untuk pengiriman antarpulau, salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah jalur udara.

Dalam skenario tersebut, prosesnya tidak berhenti ketika DOC meninggalkan lokasi pemasok. Bibit perlu mengikuti rangkaian perjalanan menuju bandara, kemudian dikirim melalui transportasi udara dan selanjutnya diterima di titik tujuan.

Pada tahap terakhir, pembeli bahkan dapat memiliki mekanisme penerimaan yang berbeda dengan paket pada umumnya.

Bibit tidak selalu datang ke depan rumah seperti paket marketplace biasa.

Satu Transaksi, Banyak Titik yang Harus Terhubung

Di sinilah perbedaan perdagangan bibit ternak dengan barang umum mulai terlihat.

Ada setidaknya beberapa hal yang harus berjalan secara beriringan: ketersediaan bibit, waktu pengiriman, transportasi, titik distribusi, dan kesiapan penerima.

Jika salah satu bagian berubah, bagian lain dapat ikut terdampak.

Misalnya, ketersediaan bibit tidak selalu mengikuti pola stok barang di gudang. Pengiriman juga harus menyesuaikan dengan jadwal yang tersedia.

Karena produk yang dikirim merupakan hewan hidup, koordinasi menjadi bagian penting dari transaksi.

Kondisi tersebut membuat sebagian penjual bibit ternak memilih membatasi wilayah layanan mereka.

Bukan semata-mata karena transaksi online sulit dilakukan, tetapi karena perjalanan setelah transaksi memiliki tantangan yang berbeda di setiap daerah.

Dari Marketplace ke Gorontalo

Pengalaman tersebut salah satunya terlihat pada aktivitas Lazia Indonesia.

Perusahaan tersebut telah menjalankan perdagangan bibit ternak secara online selama bertahun-tahun dan menggunakan marketplace sebagai salah satu kanal untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah.

Transaksi tidak hanya berasal dari sekitar wilayah operasional. Konsumen dari sejumlah daerah di luar Pulau Jawa juga menjadi bagian dari aktivitas penjualan.

Salah satu pengiriman dilakukan ke Gorontalo.

Transaksi dimulai dari kanal digital, tetapi proses selanjutnya tidak berlangsung hanya di dalam layar.

DOC yang dipesan harus masuk ke proses distribusi yang menyesuaikan dengan tujuan pengiriman. Untuk perjalanan menuju Gorontalo, jalur udara menjadi bagian dari proses tersebut.

Dari sini terlihat satu hal sederhana: marketplace dapat mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi marketplace tidak menghapus kebutuhan terhadap logistik di dunia nyata.

Ketika Teknologi Bertemu Kondisi Lapangan

Perdagangan digital selama ini banyak dibangun dengan asumsi bahwa produk dapat dipindahkan dengan pola yang relatif seragam.

Bibit ternak menghadirkan persoalan yang berbeda.

Sistem digital dapat mencatat pesanan, pembayaran, dan data konsumen. Namun, setelah itu masih terdapat pekerjaan fisik yang harus dilakukan.

Bibit harus tersedia.

Pengiriman harus disiapkan.

Jalur transportasi harus tersedia.

Penerima harus mengetahui kapan dan di mana bibit akan diterima.

Semakin jauh jarak antara pemasok dan peternak, semakin penting koordinasi di antara bagian-bagian tersebut.

Karena itu, persoalan perdagangan bibit ternak secara online sebenarnya bukan sekadar persoalan “bisa atau tidak membeli melalui marketplace”.

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

Bagaimana sistem digital dapat mengikuti kebutuhan distribusi produk hidup?

Pengalaman Lazia Mendorong Pengembangan Platform Khusus

Pengalaman menangani transaksi lintas daerah tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan Lazia Indonesia dalam mengembangkan sistem digitalnya.

Direktur PT Lazia Cahya Indonesia, Eddy Cahyadi, mengatakan perusahaan saat ini tengah mengembangkan platform digital yang secara khusus ditujukan untuk kebutuhan peternakan.

Platform tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan.

Menurut Eddy, pengalaman perusahaan dalam menangani transaksi bibit ternak melalui marketplace selama bertahun-tahun menjadi salah satu pertimbangan dalam proses pengembangannya.

Detail mengenai platform tersebut belum seluruhnya disampaikan karena pengembangannya masih berlangsung.

Namun, arah pengembangan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan yang semakin jelas: transaksi peternakan tidak selalu dapat diperlakukan sama dengan transaksi barang konsumsi biasa.

Marketplace Mempermudah Pembelian, Lapangan Menentukan Perjalanan

Perkembangan marketplace telah membuat jarak antara pemasok dan konsumen terasa semakin pendek.

Peternak tidak harus selalu datang langsung ke sentra pembibitan untuk mencari produk. Mereka dapat menemukan pemasok dari daerah lain melalui perangkat yang berada di tangan.

Tetapi jarak digital dan jarak fisik adalah dua hal berbeda.

Di layar, penjual dan pembeli mungkin hanya berjarak beberapa sentuhan.

Di dunia nyata, bibit yang dipesan bisa harus melewati gudang, kendaraan, bandara, pesawat, titik distribusi, hingga akhirnya sampai ke tangan peternak.

Itulah sebabnya pengalaman membeli DOC melalui marketplace tidak sesederhana membeli barang biasa.

Pembayaran mungkin menjadi akhir dari transaksi digital. Namun untuk bibit ternak hidup, pembayaran justru bisa menjadi awal dari perjalanan yang sebenarnya.

Dan ke depan, tantangannya bukan lagi sekadar membuat peternak bisa memesan bibit secara online, tetapi bagaimana teknologi dapat menghubungkan pesanan, ketersediaan, logistik, transportasi, dan penerimaan menjadi satu proses yang lebih terintegrasi.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store