Iuran Temu PA Rp100 Ribu, Maba Pendidikan Ekonomi Minta Transparansi

Jurnalis: TIM Gorontalo
Kabar baru, Gorontalo– Sejumlah mahasiswa baru (maba) Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mempertanyakan iuran sebesar Rp100 ribu per mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan Temu Pembimbing Akademik (PA).
Pertanyaan tersebut muncul setelah mahasiswa mengetahui kegiatan Temu PA dilaksanakan di sebuah vila. Mereka mempertanyakan mekanisme kegiatan sekaligus penggunaan dana yang dihimpun dari peserta.
Mahasiswa menegaskan, persoalan yang menjadi perhatian bukan semata-mata nominal Rp100 ribu. Mereka hanya ingin mendapatkan kejelasan mengenai peruntukan dana serta rincian kebutuhan yang dibebankan kepada mahasiswa baru.
Salah seorang mahasiswa baru asal luar daerah mengaku tidak keberatan dengan nominal iuran tersebut. Namun, sebagai mahasiswa perantau, ia berharap setiap biaya yang dibebankan kepada mahasiswa dapat disertai penjelasan secara terbuka.
“Kami anak perantau. Dari awal datang ke Gorontalo sampai selesai pelaksanaan PKKMB, pengeluaran sudah banyak. Kami juga kasihan dengan orang tua di kampung. Kami sebenarnya tidak mempersoalkan uang Rp100 ribu, yang penting rincian dan transparansinya itu ada,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui secara jelas penggunaan dana yang telah dikumpulkan.
“Kalau memang untuk kegiatan mahasiswa, silakan dijelaskan kegiatannya apa, berapa biayanya dan uang itu digunakan untuk apa. Kami hanya ingin semuanya jelas,” tambahnya.
Jurusan Sebut Temu PA sebagai Agenda Rutin
Menanggapi hal tersebut, Ketua Jurusan Pendidikan Ekonomi UNG, Dr. Radia Hafid, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa Temu PA bagi mahasiswa baru merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap awal tahun akademik.
Menurut Radia, kegiatan tersebut menjadi sarana pengenalan sekaligus pembinaan mahasiswa mengenai kehidupan akademik, mulai dari awal masa studi hingga proses penyelesaian pendidikan.
“Sebagai informasi bahwa kegiatan Temu PA bagi mahasiswa baru ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap awal tahun akademik oleh Jurusan Pendidikan Ekonomi sebagai sarana pengenalan sekaligus pembinaan terkait kehidupan akademik mahasiswa, mulai dari awal masa studi hingga proses penyelesaian studi,” jelas Radia saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Dalam pelaksanaannya, Jurusan Pendidikan Ekonomi berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Ekonomi dalam aspek teknis kegiatan, termasuk penyediaan akomodasi.
Radia menjelaskan, HMJ berperan sebagai penghubung antara pihak jurusan dan mahasiswa baru dalam mengoordinasikan berbagai kebutuhan kegiatan, termasuk pembiayaan sebesar Rp100 ribu per mahasiswa.
Pihak jurusan, kata Radia, menerima laporan dari HMJ Pendidikan Ekonomi mengenai penggunaan anggaran tersebut.
Dana tersebut dialokasikan untuk sejumlah kebutuhan, seperti konsumsi, tempat pelaksanaan, perlengkapan kegiatan, serta lomba akademik seperti Rangking 1 yang menjadi bagian dari rangkaian Temu PA.
Lebih dari 30 Mahasiswa Tidak Mengikuti Temu PA
Terkait mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan, Radia menegaskan bahwa pelaksanaan Temu PA tidak bersifat memaksa.
Ketua HMJ Pendidikan Ekonomi, Nofri Ladja, juga memastikan mahasiswa yang memilih tidak mengikuti kegiatan tidak akan mendapatkan konsekuensi.
“Tidak ada, maka dari itu kegiatan ini tidak ada paksaan apapun. Dari 181 mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi ada sekitaran 30 lebih yang tidak ikut. Itu bukti bahwa kegiatan tersebut tidak ada paksaan apapun dan yang tidak ikut pun tidak akan mendapat konsekuensi,” ujar Nofri.
Dengan demikian, keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan Temu PA disebut bersifat sukarela dan tidak berkaitan dengan konsekuensi akademik bagi mahasiswa yang tidak mengikutinya.
Meski demikian, mahasiswa tetap berharap pengelolaan iuran dapat dilakukan secara transparan. Mereka meminta agar penggunaan dana disampaikan secara terbuka sehingga mahasiswa mengetahui kebutuhan apa saja yang dibiayai dari iuran tersebut.
Di sisi lain, pihak jurusan menegaskan bahwa Temu PA merupakan agenda rutin yang bertujuan memberikan pengenalan dan pembinaan akademik bagi mahasiswa baru. Sementara HMJ membantu pelaksanaan kegiatan dari sisi teknis dan koordinasi.
Persoalan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi antara mahasiswa, HMJ, dan pihak jurusan. Kejelasan mengenai mekanisme pembiayaan serta penggunaan dana dinilai penting agar setiap kegiatan yang melibatkan mahasiswa dapat dipahami secara terbuka oleh seluruh pihak.***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
