Menepis Sunyi Digital, Memeluk Gema Zikir di Sontang

Jurnalis: Moh Nasir
kabarbaru, Rokan Hulu — Di tengah gempuran layar gawai, ratusan jemaah Surau Syekh Muhammad Kayo memilih bersuluk bersama Tuan Guru Babussalam. Sebuah ikhtiar merawat kewarasan moral generasi muda.
Ruang utama Surau Suluk Syekh Muhammad Kayo seketika senyap. Hanya gema zikir yang lamat-lamat terdengar, berkelindan dengan hawa khusyuk yang menyelimuti Desa Sontang. Malam itu, ratusan jemaah duduk bersila. Mata mereka terpejam, larut dalam majelis tawajuh—sebuah ritual penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang kini menjadi oase di tengah derasnya arus modernisasi.
Daya tarik majelis ini bukan tanpa alasan. Di garis depan jemaah, hadir sosok ulama kharismatik asal Langkat, Sumatera Utara: Tuan Guru Babussalam (Basilam), Syekh H. Ahmad Marzuki. Kehadirannya di Desa Sontang menjadi magnet spiritual yang menggerakkan ratusan warga dari berbagai penjuru untuk datang, bersujud, dan menimba ketenangan batin.
Di era digital, saat generasi muda terjebak dalam riuh media sosial dan distraksi modern, Majelis Suluk ini bertransformasi menjadi benteng pertahanan moral yang krusial. Ritual keagamaan ini tidak lagi sekadar ibadah rutin, melainkan ruang kontemplasi untuk menjaga kewarasan spiritual masyarakat.
“Alhamdulillah, atas izin Allah SWT kita dapat menunaikan sholat dan tawajuh bersama Tuan Guru Syekh H. Ahmad Marzuki,” ujar Anto Sontang, kamis (13/8 2026)
Bagi Anto dan warga Sontang, kehadiran Tuan Guru Babussalam bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menyiram kembali gairah religiusitas yang mulai menantang zaman. Di surau kayu ini, tradisi suluk membuktikan diri: ia tidak usang oleh waktu, melainkan tetap kokoh menjadi penuntun arah bagi generasi masa kini.(Jimy)
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
