Dampak Buruk Perbedaan Respon Dasco dan Istana Terkait Hasil Survei Terhadap Prabowo

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Jakarta – Perbedaan respons jajaran elite politik dan pihak Istana terkait hasil survei kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan.
Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, memilih mengkaji hasil riset tersebut. Sebaliknya, Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah tidak bekerja demi mengejar angka survei.
Menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia, Dasco menyebut seluruh temuan lembaga riset menjadi bahan evaluasi internal.
“Ya ada beberapa survei, misalnya SMRC, kemudian Pak Burhanuddin Muhtadi yang dipublish melalui media massa. Nah, tentunya kami juga sedang mempelajari, juga kami kaji,” ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/07/2026).
Sikap Dasco tersebut berbeda tajam dengan pernyataan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi.
Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah fokus menjalankan program strategis berpihak pada rakyat, seperti ketahanan pangan dan hilirisasi, bukan demi pencitraan angka survei.
“Sedari awal, selalu kita sampaikan bahwa kita bekerja bukan dalam rangka mencari hasil survei. Kami tidak pernah melihat atau bekerja untuk mengejar sebuah survei, tetapi dari yang kita kerjakan, kita yakin rakyat akan bisa menerima semua yang kita jalankan,” tegas Prasetyo Hadi saat dalam perjalanan menuju Jakarta, Kamis (30/07/2026) malam.
Di sisi lain, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memilih mengambil jalan tengah.
Ia menilai hasil survei SMRC yang mencatat tingkat kepuasan publik sebesar 51,1 persen tetap berfungsi sebagai cermin dan masukan bagi perbaikan kinerja pemerintah ke depan.
Pemerhati Politik Iwan Terpal Setiawan menilai gaya komunikasi Dasco jauh lebih tepat dan menunjukkan kedewasaan dalam merespons masukan publik.
“Respons Dasco jauh lebih bagus. Beliau tidak menolak hasil survei, tetapi memilih mengkajinya sebagai bahan evaluasi. Itu menunjukkan keterbukaan terhadap masukan publik,” kata Iwan.
Iwan menyarankan agar pihak Istana menyelaraskan narasi komunikasi publiknya agar tidak memicu persepsi miring di tengah masyarakat.
“Kalau pemerintah ingin membangun kepercayaan publik, hasil survei sebaiknya dipandang sebagai bahan introspeksi, bukan sekadar ditegaskan bahwa pemerintah tidak bekerja untuk survei. Dalam hal ini, pihak Istana perlu banyak belajar dari cara komunikasi Dasco,” tegasnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Radar Baru
Seedbacklink
