Solusi Timbunan Sampah, Pemkot Malang Sulap Plastik dan Styrofoam Jadi Solar

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menciptakan inovasi ramah lingkungan dengan mengolah limbah anorganik berupa plastik dan styrofoam menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
Langkah inovatif ini menjadi strategi konkret dalam menekan volume timbunan sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang.
Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, mengonfirmasi bahwa program konversi sampah ini sudah berjalan efektif sejak awal tahun 2026.
Inovasi ini hadir merespons tingginya volume sampah harian di Kota Malang yang mencapai 860 ton per hari, di mana sekitar 40 persen di antaranya merupakan sampah anorganik.
“Kalau dulu ada istilah pembatasan plastik, hari ini plastik dan styrofoam di Kota Malang sudah kami olah menjadi solar. Proses ini sudah berjalan sekitar 1 sampai 2 bulan di tahun 2026 ini,” ujar Raymond di Kota Malang, Rabu.
Produksi dan Kapasitas Mesin
Dalam satu kali siklus pengolahan, tim DLH membutuhkan pasokan bahan baku sebanyak 200 kilogram plastik maupun styrofoam.
Untuk mengolah bahan baku tersebut, petugas memaksimalkan empat unit mesin pemroses bermesin diesel dengan kapasitas masing-masing 50 kilogram per alat.
Dari total 200 kilogram limbah anorganik tersebut, mesin mampu menghasilkan sekitar 120 hingga 130 liter solar cair berkualitas.
Namun, Raymond menyebut proses produksi belum bisa berlangsung setiap hari karena harus menyesuaikan ketersediaan pasokan bahan baku di lapangan.
“Prosesnya belum bisa setiap hari, jadi dalam satu minggu rata-rata kami melakukan pengolahan sebanyak dua kali,” jelasnya.
Dukung Operasional Truk Sampah
BBM solar hasil konversi limbah ini tidak terbuang sia-sia. Pemkot Malang langsung memanfaatkan solar tersebut untuk menunjang operasional internal, mulai dari menghidupkan empat unit mesin pengolahan sampah hingga menghemat konsumsi BBM armada truk pengangkut.
“Kendaraan pengangkut yang beroperasi dari pagi sampai sore biasanya kehabisan solar dalam 1–2 jam. Hasil daur ulang ini kami manfaatkan sebagai BBM tambahan untuk mendukung operasional armada truk sampah,” pungkas Raymond.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
