Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

BRIN Temukan Mikroplastik dalam Air Hujan di Jakarta, Warga Disarankan Pakai Masker

Desain tanpa judul - 2026-06-25T080345.540
Para pejalan kaki memakai payung dan masker saat hujan Jakarta (Foto: Istimewa).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Partikel mikroplastik kini tidak hanya mencemari lautan dan makanan, tetapi juga sudah merambah ke atmosfer. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut telah terbawa angin dan turun bersama air hujan di wilayah Jakarta.

Temuan ini menjadi alarm kuat bahwa polusi plastik telah masuk ke dalam siklus hidrologi lingkungan kita.

Secara teknis, mikroplastik merupakan partikel plastik yang memiliki ukuran kurang dari 5 milimeter hingga satu mikrometer.

Limbah ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer yang sengaja diproduksi dalam ukuran kecil seperti microbeads pada kosmetik, serta mikroplastik sekunder yang tercipta dari rapuhnya benda plastik besar seperti botol atau kantong belanja.

Karena ukurannya yang mikro, angin dengan mudah menerbangkan partikel ini ke atmosfer sebelum akhirnya jatuh kembali ke bumi melalui guyuran hujan.

Menanggapi fenomena tersebut, Kementerian Kesehatan RI meminta masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa keberadaan mikroplastik dalam air hujan tidak serta-merta membuat air itu langsung berbahaya.

“Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita,” ujar Aji dalam keterangan pers yang diterima Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Kamis (25/06/2026).

Dampak Buruk Bagi Kesehatan

Sejauh ini, manusia bisa terpapar mikroplastik melalui dua jalur utama. Jalur pertama adalah konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, seperti garam, hidangan laut (seafood), dan air minum kemasan.

Jalur kedua adalah melalui udara, di mana serat sintetis dari pakaian atau debu perkotaan yang mengandung plastik dapat terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan.

Para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa paparan mikroplastik dalam jumlah besar dan jangka panjang berpotensi memicu peradangan pada jaringan tubuh.

Selain itu, kandungan bahan kimia berbahaya yang menempel pada mikroplastik, seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates, dapat mengganggu sistem hormon, fungsi reproduksi, hingga perkembangan janin.

Meski demikian, belum ada bukti ilmiah yang secara langsung mengaitkan mikroplastik sebagai penyebab utama penyakit tertentu karena tingkat paparan pada populasi umum saat ini masih tergolong rendah.

Langkah Menekan Polusi Plastik

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan guna mengurangi risiko paparan mandiri.

Aji menyarankan warga untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara kering atau sesaat setelah hujan reda.

“Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat udara kering atau setelah hujan. Ini bukan karena air hujannya, tapi untuk mengurangi paparan debu dan polusi yang mungkin mengandung mikroplastik,” tambahnya.

Selain perlindungan diri, masyarakat juga memegang peran kunci dalam menekan laju pembentukan mikroplastik di masa depan.

Kemenkes mengajak publik untuk mulai mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, menghentikan kebiasaan membakar sampah plastik, serta menjaga kebersihan rumah.

Membiasakan diri membawa botol minum isi ulang, memakai tas belanja kain, dan aktif memilah sampah dari rumah menjadi tindakan nyata yang sangat berarti untuk menyelamatkan lingkungan.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store