1.100 Siswa, Satu Misi: Cara H. Patoni Menguatkan Karakter di SMPN 1 Sukatani

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Pukul 06.30 WIB menjadi waktu penting bagi keluarga besar SMP Negeri 1 Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Saat sebagian siswa mulai bersiap mengikuti pembelajaran, sekolah justru lebih dulu mengajak mereka membangun kebiasaan disiplin, religius, peduli lingkungan, dan hidup sehat.
Di bawah kepemimpinan Kepala SMPN 1 Sukatani, H. Patoni, pembiasaan tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan karakter peserta didik. Program itu berjalan berdampingan dengan strategi K3, yakni kelola administrasi, kembangkan guru, dan kuatkan karakter siswa.
Setiap hari memiliki agenda berbeda. Senin diawali dengan upacara. Selasa dan Kamis diisi kegiatan Ngored, Bersih, Berseka (Ngosrek). Rabu difokuskan pada penguatan literasi dan numerasi. Sedangkan Jumat diarahkan untuk penguatan karakter spiritual melalui kegiatan keagamaan.
Pada Jumat pagi, siswa mengikuti pembacaan Surat Yasin, tahlil, dzikir, doa dan salat dhuha berjamaah. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi secara bersama-sama di lapangan sekolah.
Kepala SMPN 1 Sukatani H. Patoni mengatakan, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas. Karakter harus dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui teori. Anak-anak perlu dibiasakan melakukan hal-hal baik secara konsisten, mulai dari disiplin waktu, kegiatan keagamaan, menjaga kebersihan sampai membangun kebersamaan,” ujar Patoni. Senin (10/8/2026)
Dimulainya kegiatan sekolah sejak pukul 06.30 WIB membuat siswa harus berangkat lebih awal dari rumah. Kondisi tersebut, menurut Patoni, membutuhkan dukungan orang tua.
Ia meminta keluarga ikut membangun kebiasaan disiplin anak, terutama dalam mengatur waktu keberangkatan menuju sekolah.
“Orang tua juga memiliki tanggung jawab memberikan motivasi kepada anak agar berangkat lebih awal. Pendidikan karakter tidak akan maksimal apabila hanya dilakukan di sekolah. Kebiasaan yang dibangun guru perlu diperkuat oleh orang tua di lingkungan keluarga,” katanya.
Pola pembiasaan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan karakter yang dikembangkan di Kabupaten Purwakarta, termasuk konsep 7 Poe Atikan Istimewa.
Secara regulasi, pendidikan karakter di Purwakarta antara lain mengacu pada Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 131 Tahun 2022 tentang Pendidikan Karakter yang kemudian mengalami perubahan melalui Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 35 Tahun 2025. Sementara penyelenggaraan pendidikan daerah juga berlandaskan Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 9 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
Sejak dipercaya memimpin SMPN 1 Sukatani pada 4 Mei 2026, Patoni membawa strategi K3 sebagai salah satu pijakan pengelolaan sekolah.
Menurutnya, pengelolaan administrasi, pengembangan kompetensi guru dan penguatan karakter siswa merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Pemimpin sekolah harus mampu mempertahankan hal-hal baik yang sudah ada sekaligus menghadirkan inovasi yang lebih baik. Karena itu saya menerapkan strategi K3, yaitu kelola administrasi, kembangkan guru, dan kuatkan karakter siswa,” ungkapnya.
Dalam pengembangan guru, sekolah mendorong budaya berbagi pengetahuan, memperkuat komunitas belajar serta meningkatkan keterlibatan guru dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kualitas tenaga pendidik sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran.
Program MBG di SMPN 1 Sukatani tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan makanan bergizi. Sekolah menjadikannya sebagai bagian dari pembelajaran karakter.
Para siswa duduk bersama di lapangan dan menikmati makanan yang dibagikan secara merata. Dalam suasana tersebut, mereka belajar berbagi, menghargai teman dan menjaga ketertiban.
“Dengan makan bersama, kami memastikan semua anak memperoleh hak yang sama. Mereka belajar berbagi, saling menghargai, bahkan saling bertukar menu apabila ada makanan yang kurang disukai. Nilai kebersamaan itu yang ingin kami bangun,” jelas Patoni.
Menurutnya, sekolah belum memiliki kajian ilmiah untuk menyimpulkan bahwa MBG secara langsung meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun, pihak sekolah melihat sejumlah indikator sederhana selama program berjalan.
“Kami melihat indikator sederhana, misalnya jumlah siswa yang tidak mampu mengikuti upacara karena sakit terus menurun. Mudah-mudahan itu menjadi pertanda kualitas kesehatan anak-anak semakin baik,” tuturnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SMPN 1 Sukatani menerima 400 peserta didik baru yang terbagi dalam 10 rombongan belajar. Mereka terdiri dari 208 siswa laki-laki dan 192 siswa perempuan.
Dengan tambahan siswa baru tersebut, jumlah peserta didik SMPN 1 Sukatani kini mencapai sekitar 1.100 siswa.
Jumlah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah untuk terus menciptakan lingkungan pendidikan yang disiplin, sehat dan berkarakter.
Patoni berharap sekolah dan orang tua dapat berjalan dalam satu arah untuk mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Kalau orang tua sudah mempercayakan pendidikan anak kepada sekolah, mari kita saling percaya dan bekerja sama. Semua yang kami lakukan semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan terbaik kepada anak-anak,” pungkasnya.
Di SMPN 1 Sukatani, pendidikan karakter dimulai bahkan sebelum pelajaran pertama berlangsung. Ketika siswa datang tepat waktu, mengikuti pembiasaan, beribadah, menjaga kebersihan dan makan bersama, mereka sejatinya sedang belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik.***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
