Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Tak Asal Review! Icha Riyani Bocorkan 5 Cara Bikin Konten Review Produk Agar Penonton Betah

WhatsApp Image 2026-09-17 at 10.57.52
Icha Riyani, Kreator konten bernama asli Ica Suryani. (Foto: Dok/Ist)..

Jurnalis:

Kabar Baru, Intertainment- Konten review produk kini semakin mudah ditemukan di media sosial. Mulai dari skincare, bodycare, makeup, makanan hingga berbagai produk kebutuhan sehari-hari, pengalaman seseorang saat mencoba sebuah produk sering kali menjadi pertimbangan penonton sebelum ikut menggunakannya.

Namun, membuat konten review yang menarik ternyata tidak cukup hanya dengan memperlihatkan produk di depan kamera. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar sebuah video review tidak terasa monoton dan membuat penonton memilih untuk langsung scroll ke konten berikutnya.

Hal tersebut juga menjadi perhatian Icha Riyani. Kreator konten bernama asli Ica Suryani ini dikenal aktif membuat berbagai konten, mulai dari daily vlog hingga review produk, khususnya skincare dan bodycare.

Perempuan asal Bukittinggi yang kini menetap dan beraktivitas di Jakarta itu mengaku memiliki cara tersendiri ketika membuat konten review.

Menurut Icha, review yang menarik justru tidak harus selalu menggunakan konsep yang rumit. Hal paling penting adalah bagaimana kreator bisa menyampaikan pengalaman secara jujur, jelas, dan tetap membuat penonton merasa dekat.

“Menurut saya review itu jangan cuma memperlihatkan produknya. Kita harus bisa membuat orang yang menonton merasa penasaran dan merasa mendapatkan informasi,” ujar Icha Riyani.

Berikut lima cara yang dibagikan Icha Riyani agar konten review produk lebih menarik dan membuat penonton betah menyaksikannya.

1. Jangan Langsung Jualan, Mulai dengan Masalah yang Relate

Menurut Icha, beberapa detik pertama dalam sebuah video sangat penting. Kreator perlu membuat pembukaan yang mampu membuat penonton merasa bahwa konten tersebut berkaitan dengan masalah atau kebutuhan mereka.

Misalnya ketika membuat review skincare, kreator tidak harus langsung menyebutkan nama produk dan berbagai klaimnya.

Pembukaan bisa dimulai dari pengalaman yang sering dialami banyak orang, seperti mencari produk untuk kulit berminyak, kulit kering, bekas jerawat atau kondisi kulit tertentu.

“Kalau dari awal langsung bilang, ‘Ini produk bagus, ini produk bagus,’ orang mungkin belum tentu tertarik. Saya lebih suka mulai dari masalah yang memang sering dialami,” kata Icha.

“Contohnya kalau review skincare, bisa mulai dengan pertanyaan atau pengalaman. ‘Kalian pernah nggak sudah coba banyak produk tapi masih bingung cari yang cocok?’ Dari situ orang biasanya merasa, ‘Oh, ini saya banget’,” lanjutnya.

Icha menilai pendekatan tersebut membuat review terasa seperti percakapan, bukan iklan.

“Jadi jangan membuat penonton merasa sedang disuruh membeli. Buat mereka merasa sedang diajak ngobrol dan diberikan informasi,” tuturnya.

2. Kenali Produk Sebelum Berbicara di Depan Kamera

Hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah memahami produk yang akan direview.

Icha mengatakan kreator sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi singkat yang terdapat pada kemasan. Sebelum membuat konten, ada baiknya mengetahui fungsi produk, cara penggunaan, kandungan utama, serta siapa yang mungkin membutuhkan produk tersebut.

“Kalau mau review, minimal kita harus tahu apa yang sedang kita review. Jangan sampai kita cuma baca tulisan di kemasan lalu langsung bikin kesimpulan,” ungkap Icha.

Menurutnya, pemahaman terhadap produk juga membuat pembawaan kreator menjadi lebih natural.

“Kalau kita sudah paham produknya, ngomong di depan kamera jadi lebih enak. Kita nggak perlu menghafal semuanya karena memang sudah mengerti apa yang mau disampaikan,” katanya.

Untuk konten skincare dan bodycare, Icha juga mengingatkan agar kreator tidak sembarangan memberikan klaim.

“Kalau skincare misalnya, jangan langsung bilang pasti cocok untuk semua orang. Kondisi kulit setiap orang kan berbeda. Lebih baik sampaikan pengalaman kita dan informasi produknya secara jelas,” ujarnya.

3. Ceritakan Pengalaman, Bukan Sekadar Membaca Spesifikasi

Bagi Icha, kekuatan utama sebuah konten review justru terletak pada pengalaman pribadi.

Spesifikasi produk memang penting, tetapi penonton biasanya ingin mengetahui seperti apa pengalaman ketika produk tersebut digunakan.

“Orang biasanya ingin tahu, ‘Kalau dipakai bagaimana?’ Bukan cuma kandungannya apa. Jadi pengalaman penggunaan itu menurut saya penting,” jelas Icha.

Ia menyarankan kreator menceritakan hal-hal sederhana tetapi relevan.

“Misalnya teksturnya seperti apa, gampang menyerap atau tidak, aromanya bagaimana, rasanya setelah dipakai, atau bagaimana menurut kita setelah beberapa kali penggunaan,” katanya.

Namun, pengalaman tersebut juga harus disampaikan secara proporsional.

“Kalau menurut saya bagus, ya saya bilang bagus dan jelaskan alasannya. Kalau ada yang kurang, saya juga lebih baik bilang. Karena review kan seharusnya memberikan gambaran, bukan cuma memuji,” tutur Icha.

Menurutnya, justru bagian kekurangan sebuah produk dapat membuat konten terasa lebih realistis.

“Jangan takut menyampaikan kekurangan. Selama disampaikan dengan baik dan memang berdasarkan pengalaman, justru penonton bisa lebih percaya,” tambahnya.

4. Buat Visual yang Hidup dan Jangan Terlalu Monoton

Selain isi, tampilan video juga menjadi bagian penting agar penonton tidak cepat bosan.

Icha mengatakan kreator perlu memperhatikan cara memperlihatkan produk. Tidak harus menggunakan peralatan produksi yang mahal, tetapi visual sebaiknya tetap jelas dan nyaman dilihat.

“Kadang produk yang kita review sebenarnya menarik, tapi kalau pengambilan gambarnya monoton, orang bisa cepat bosan,” kata Icha.

Ia biasanya berusaha membuat visual yang memperlihatkan detail produk, tekstur, kemasan, hingga cara penggunaan.

“Kalau review skincare, misalnya jangan cuma pegang produknya. Bisa diperlihatkan teksturnya, saat produknya dikeluarkan, kemudian ketika digunakan. Jadi penonton punya gambaran,” jelasnya.

Icha juga menyarankan agar kreator tidak terlalu terpaku pada satu angle.

“Sesekali ambil gambar dari dekat, kemudian kembali ke wajah kita ketika menjelaskan. Jadi ada variasi. Penonton juga merasa videonya lebih hidup,” ujarnya.

Menurut Icha, kreativitas sederhana justru bisa membuat sebuah konten terlihat lebih menarik.

5. Tetap Jadi Diri Sendiri dan Jangan Takut Memberikan Pendapat Jujur

Tips terakhir yang menurut Icha paling penting adalah mempertahankan karakter pribadi.

Di tengah banyaknya kreator yang membuat konten dengan tema serupa, memiliki gaya komunikasi sendiri dapat menjadi pembeda.

“Menurut saya jangan terlalu melihat orang lain sampai akhirnya kita mencoba menjadi orang lain. Cari gaya kita sendiri,” ungkap Icha.

Ia sendiri berusaha membuat konten dengan gaya komunikasi yang terasa dekat dengan kesehariannya.

“Saya lebih suka kalau kontennya seperti ngobrol. Jadi bukan merasa sedang membaca naskah atau sedang melakukan sesuatu yang terlalu formal,” katanya.

Bagi Icha, penonton pada akhirnya bisa merasakan ketika sebuah konten dibuat secara natural atau terlalu dipaksakan.

“Kalau kita nyaman, biasanya yang nonton juga ikut nyaman. Jadi menurut saya menjadi diri sendiri itu penting,” tuturnya.

Icha juga menganggap kejujuran merupakan bagian penting dalam membangun hubungan dengan audiens.

“Kalau kita sudah dipercaya orang yang menonton, jangan sampai kepercayaan itu hilang hanya karena kita ingin membuat sebuah produk terlihat sempurna,” ujarnya.

Perjalanan Icha sendiri di dunia konten dimulai dari hal sederhana. Pada 2019, perempuan asal Bukittinggi tersebut sempat iseng membuat konten SloMo setelah merantau sendiri ke Jakarta. Di tahun yang sama, ia mengenal Rivaldi Putra dan keduanya sempat membuat drama SloMo bersama.

Kini, Icha semakin aktif membuat daily vlog dan konten review, terutama di bidang skincare dan bodycare. Akun TikTok @ichariyani_ bahkan telah memiliki sekitar 5,6 juta pengikut, sementara Instagram @icha.riyani memiliki sekitar 327 ribu followers. Ia juga aktif melalui YouTube Rival Icha Family dengan sekitar 87 ribu subscriber.

Pengalamannya selama bertahun-tahun membuat konten menjadi modal bagi Icha untuk terus mengembangkan cara berkomunikasi dengan audiens.

“Intinya jangan berpikir review itu cuma menunjukkan produk. Ada cerita di baliknya. Kita harus tahu apa yang ingin disampaikan dan kenapa orang perlu menonton sampai selesai,” pungkas Icha.

Dengan lima cara tersebut, Icha Riyani menunjukkan bahwa konten review yang menarik bukan semata-mata soal produk yang dibicarakan. Cara membuka cerita, pemahaman terhadap produk, pengalaman pribadi, visual, hingga karakter kreator menjadi bagian yang saling melengkapi agar sebuah konten terasa lebih hidup dan membuat penonton betah.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store