Pergerakan, Gincu, dan Sarung yang Bolong

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Opini — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah keresahan yang ditulis dengan nada agak “ngenes” mengenai masa depan PMII. Penulisnya risau; katanya, kader sekarang lebih sibuk bersolek, memikirkan modal, dan terjebak dalam gaya hidup yang menjauh dari tradisi intelektual yang “kumal”, tetapi berisi. Membaca itu, saya teringat cerita seorang kiai di Jombang yang menegur santrinya karena terlalu sering bercermin. Si santri menjawab, “Kiai, saya hanya ingin memastikan ciptaan Allah ini tetap rapi.” Sang kiai tertawa dan menimpali, “Boleh rapi, tapi jangan sampai wajahmu lebih bercahaya daripada hatimu.”
Persoalan “berdandan” ini sebenarnya barang lama yang diberi kemasan baru. Dalam jagat pergerakan, ada semacam mitos yang mengakar kuat bahwa menjadi aktivis itu haruslah compang-camping, kantong kosong, dan dahi berkerut karena memikirkan umat. Jika ada aktivis yang necis, naik mobil bagus, dan wangi, segera saja dicap sebagai penganut “materialisme” yang luntur idealismenya. Inilah yang, dalam istilah pesantren, sering disebut sebagai jumud atau stagnasi berpikir—sebuah cara pandang yang menganggap kebenaran hanya milik masa lalu.
Dandanan dan Esensi
Mari kita lihat dengan jernih. Apakah jika seorang kader PMII memakai parfum dan baju bermerek, lalu otomatis otaknya menjadi kosong? Ataukah mereka yang bajunya lecek dan sandal jepitnya putus secara otomatis menjadi intelektual jempolan? Tentu tidak demikian. Dalam kaidah ushul fiqh, kita mengenal prinsip al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah: menjaga tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal baru yang lebih baik.
“Berdandan” di era digital bukan sekadar urusan estetika, melainkan juga urusan fathul mu‘in, pembukaan pertolongan bagi dakwah dan narasi pergerakan. Dunia hari ini adalah dunia citra. Jika PMII tetap menampilkan wajah yang kusam dan anti-kemapanan secara visual, pesan-pesan luhur tentang kerakyatan dan keislaman berisiko tidak sampai ke telinga generasi Z yang sangat memuja keindahan. Kita diperintahkan untuk berdakwah sesuai dengan bahasa kaumnya (bi lisani qaumihi). Nah, “bahasa” kaum milenial dan Gen Z itu visual, estetika, serta media sosial yang apik.
Karena itu, jika ada kader PMII yang piawai membuat konten, berpenampilan meyakinkan, dan pandai bergaul di kafe-kafe mentereng, jangan buru-buru mengafirkan mereka secara ideologis. Justru di sanalah medan tempur barunya. Menjadi aktivis tidak harus selalu identik dengan penderitaan fisik. Bung Karno itu necisnya minta ampun, tetapi pidatonya menggetarkan dunia. HOS Tjokroaminoto pun perlente, dan dialah guru para pejuang.
Urusan Modal dan Kemandirian
Lalu soal “perkara modal”. Ada ketakutan bahwa ketika aktivis mulai bicara uang, integritasnya akan hilang. Cara pandang ini agak ngawur. Kita sering terjebak dalam mentalitas “tangan di bawah”, tetapi berteriak paling keras soal kemandirian. Bagaimana mungkin pergerakan bisa mandiri secara politik jika secara ekonomi masih “nyusu” pada senior atau bergantung pada proposal hibah yang mengikat?
Kader PMII yang mulai memikirkan modal, berwirausaha, dan melek finansial seharusnya didorong, bukan dicurigai. Dalam sejarah Islam, Khadijah r.a. adalah seorang pebisnis besar yang modalnya menjadi penopang utama dakwah Nabi. Maka, mencari modal bukanlah pengkhianatan terhadap perjuangan, selama modal itu digunakan untuk memperkuat martabat manusia, bukan justru untuk menindas.
Masalahnya bukan pada dandanan atau modalnya, melainkan pada worldview atau cara pandangnya. Jika berdandan hanya untuk pamer (riya’) tanpa isi kepala, itu namanya kosmetik. Namun, jika berdandan untuk membangun wibawa organisasi di mata dunia, itu strategi. Bisa jadi, keresahan kita terhadap “zaman berdandan” ini hanyalah bentuk iri karena ketidakmampuan beradaptasi dengan kecepatan zaman.
Transformasi, Bukan Sekadar Gaya
Yang harus kita lawan adalah kekosongan makna. Saya sepakat jika ada kritik bahwa intelektualitas tidak boleh mati. Namun, intelektualitas juga harus bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar hafalan kutipan Karl Marx atau petikan kitab Ihya’ Ulumuddin, melainkan kemampuan membumikan nilai-nilai tersebut dalam struktur masyarakat yang telah berubah total akibat kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital.
Kita membutuhkan kader PMII yang mampu berdiskusi tentang maqashid syariah sambil mengoperasikan algoritma data. Kita juga memerlukan aktivis yang bisa membela petani di desa, sekaligus fasih berbicara di forum internasional dengan penampilan yang memukau. Jangan sampai kita terjebak dalam romantisasi masa lalu, sementara dunia sudah berlari ke bulan.
Kesimpulannya, pergerakan bukan soal sarung yang bolong atau wajah yang kusam. Pergerakan adalah soal ketajaman pikiran dan keberanian sikap. Jika bisa kritis dengan penampilan rapi, mengapa harus memilih kritis dengan penampilan kumal? Gitu saja kok repot.
PMII harus menjadi organisasi yang inklusif, yang memberi ruang bagi si rapi dan si kumal untuk duduk bersama di satu meja dialektika. Yang terpenting, tujuan akhirnya sama: tegaknya keadilan dan kemanusiaan. Jangan sampai kita sibuk meributkan gincu dan bedak, tetapi lupa bahwa ada rakyat yang tanahnya digusur dan ketidakadilan yang harus dilawan.
Dunia memang sedang berdandan. Maka, bersoleklah dengan ilmu, berhiaslah dengan akhlak, dan bermodallah dengan kemandirian. Jika itu dilakukan, PMII tidak akan pernah ditinggalkan zaman.
Penulis adalah Mohammad Iqbalul Rizal Nadif Pengurus PB PMII.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

