Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Menjawab Tantangan Digital Generasi Muda

Penulis adalah Rahmi, Mahasiswi Ilmu Komunikasi UT Padang (Dok. GPT AI)
Penulis adalah Rahmi, Mahasiswi Ilmu Komunikasi UT Padang (Dok. GPT AI).

Jurnalis:

Kabar Baru, Opini – Beberapa bulan lalu, sebuah berita membuat banyak orang tersenyum kecil sekaligus prihatin. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyebutkan bahwa rata-rata screen time orang Indonesia sudah melampaui 7,5 jam per hari bahkan ada yang belasan jam. “Ini memicu berpikir pendek,” katanya.

Angka itu langsung mengingatkan pada riset Universitas Negeri Surabaya tahun lalu terhadap ratusan siswa SMP di kota tersebut. Hasilnya serupa: rata-rata 5,9 jam sehari, dan sebagian besar dihabiskan untuk media sosial serta game. Hanya sedikit yang digunakan untuk belajar.

Sungguh miris, bukan? Namun, mari tarik mundur sejenak. Apakah kita benar-benar memahami apa yang terjadi di balik angka-angka tersebut?

Paparan berlebih terhadap layar bukan sekadar soal waktu yang terbuang. Ia perlahan mengubah cara berpikir—menjadi lebih cepat, lebih pendek, dan sering kali lebih dangkal. Mindless scrolling membiasakan pengambilan keputusan dalam hitungan detik tanpa proses matang. Informasi yang mengalir deras di media sosial mengaburkan batas antara fakta, opini, dan emosi. Isu-isu kompleks disederhanakan menjadi slogan pendek. Polarisasi semakin menguat, sementara aktivisme kadang hanya menjadi performatif belaka.

Lebih dalam lagi, algoritma media sosial menciptakan jebakan dopamine yang cerdik. Konten tentang “sukses instan” atau “kecantikan sempurna” yang disodorkan berulang-ulang. Generasi muda kemudian membandingkan hidup nyata mereka yang penuh kekurangan dengan “panggung depan” orang lain yang sudah dikurasi rapi. Sehingga akhirnya rasa tidak cukup pun muncul. Menyebabkan tekanan psikologis meningkat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan mental. Di Indonesia, ada jutaan kasus depresi dan kecemasan terkait tekanan media sosial. Penggunaan lebih dari tiga jam sehari dikaitkan dengan risiko distorsi citra diri, cyberbullying, hingga pikiran bunuh diri.

Akibatnya, interaksi tatap muka berkurang. Lalu empati melemah. Aktivitas fisik pun tergeser oleh gawai. Bahkan Anak-anak lebih lincah di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Kasus cyberbullying bisa terjadi 24 jam tanpa henti. Efek disinhibisi online ini membuat kata-kata kasar lebih mudah terlontar. Sehingga luka digital bersifat permanen. Bahkan, penelitian menunjukkan perubahan struktur otak berupa kontrol emosi terganggu, impulsivitas meningkat, dan gangguan tidur menjadi rutinitas.

Generasi Z hidup di tengah arus informasi yang cepat dan bising. Di satu sisi, ini memberi mereka kekuatan luar biasa. Melalui video pendek, meme, utas, atau siaran langsung, mereka mampu mengkritik kebijakan yang keliru–entah soal korupsi, ketidakadilan sosial, mahalnya pendidikan, kerusakan lingkungan, hingga solidaritas global seperti isu Palestina. Tekanan publik terbentuk dengan cepat. Elite politik terkadang terpengaruh. Ini adalah energi korektif yang segar, sesuatu yang jarang dimiliki generasi sebelumnya.

Di sisi lain, algoritma justru memperkuat echo chamber. Deliberasi rasional melemah. Energi digital sulit diterjemahkan menjadi advokasi nyata karena benturan dengan prosedur yang lambat. Generasi muda juga menjadi pasar empuk bagi perusahaan teknologi besar. Konten yang mengalir deras kadang membawa ide-ide yang menjauhkan dari nilai-nilai keluarga dan spiritualitas.

Di tengah semua ini, ada contoh kecil yang memberi harapan. Mahasiswa Universitas Terbuka, melalui forum Voice Over Master UT Jakarta, kerap memanfaatkan waktu luang untuk mengasah keterampilan praktis. Baru-baru ini mereka menggelar pelatihan jurnalistik daring, dengan tema “ Bekal Esensial Jurnalis Pemula di Era Digital”–sebuah aktivitas positif yang menebar kebaikan. Screen time yang tadinya hanya scrolling, diubah menjadi sarana mencipta dan menyebarkan nilai-nilai luhur di era digital.

Potensi ini luar biasa. Generasi Z bisa menjadi pemimpin masa depan yang memakmurkan bumi dengan keadilan dan kasih sayang. Namun, di era digital, potensi itu sedang diuji berat oleh arus informasi, algoritma licik, dan konten beracun.

Maka, yang paling dibutuhkan adalah benteng cara pandang yang kuat dan kokoh—berakar pada nilai-nilai luhur yang bersumber dari keyakinan spiritual yang mendalam. Dengan cara pandang ini, teknologi tidak lagi menjadi tuan, melainkan alat semata. Media sosial menjadi sarana belajar, menebar kebaikan, dan mengajak kepada nilai-nilai mulia—bukan tujuan akhir yang membuat lalai dari esensi kehidupan yang lebih besar.

Ketika cara pandang ini tertanam, energi besar generasi muda tak lagi terbuang pada scrolling tak berujung atau aktivisme performatif. Ia akan terarah untuk menebar kebaikan di dunia maya maupun nyata—sebagai individu yang bertanggung jawab dan pemimpin yang membawa manfaat bagi sekitar.

Tentu saja, ini tak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan sinergi total mulai dari keluarga yang menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini dan memberi teladan, sekolah/kampus mengajarkan literasi digital yang berbasis etika, masyarakat menciptakan lingkungan yang kondusif, dan negara melindungi dari hegemoni ide-ide merusak serta mengatur teknologi sesuai prinsip-prinsip kemanusiaan.

Dengan begitu, generasi muda akan tumbuh kritis namun visioner, berani menyuarakan kebenaran, serta siap memimpin peradaban dengan integritas, ilmu luas, dan akhlak mulia.

Menjelang hari esok, kita punya pilihan sederhana yakni membiarkan generasi muda terus terjebak dalam screen time dan arus ide yang menjauhkan dari nilai-nilai luhur, atau mengarahkan mereka kepada visi hidup yang lebih bermakna dalam naungan etika dan spiritualitas yang kokoh. Perlindungan ini adalah tanggung jawab bersama demi anak muda yang berakhlak mulia dan menjadi pemimpin masa depan yang membawa kebaikan.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store