Kreator Konten William Adi Jelajahi Sisi Lain Jepang, dari Destinasi Ikonik hingga Pengalaman Budaya

Jurnalis: Wafil M
Kabar Baru, Internasional – Jepang selalu punya cara tersendiri untuk membuat wisatawan ingin kembali. Bukan hanya karena destinasi ikoniknya, tetapi juga budaya, suasana kota, hingga berbagai pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Hal tersebut turut dirasakan kreator konten William Adi saat berkesempatan menjelajahi Jepang bersama Maharani Kemala, Aping dari Dangdut Academy, dan Itab.
Perjalanan tersebut menjadi momen menarik bagi William Adi untuk menikmati sejumlah destinasi populer sekaligus mengenal sisi budaya Jepang secara lebih dekat. Tak hanya mengabadikan momen liburan, William juga menjadikan perjalanan tersebut sebagai pengalaman yang bisa dibagikan kepada para pengikutnya melalui media sosial.
Pemilik nama asli Adi Agus Pramana ini memang aktif sebagai content creator dengan konten yang cukup beragam. Melalui akun Instagram dan TikTok @Williamadi27, William membagikan konten seputar traveling, edukasi, review skincare, hingga pengalaman mencoba berbagai treatment.
Akun Instagram William Adi kini telah memiliki lebih dari 30 ribu pengikut, sedangkan TikTok-nya telah diikuti sekitar 59 ribu pengguna. Bagi William, keberagaman konten tersebut menjadi bagian dari prosesnya dalam membangun hubungan dengan audiens.
“Konten saya memang tidak hanya satu tema. Saya suka traveling, suka berbagi hal yang sifatnya edukasi, tapi saya juga senang membuat review. Jadi semuanya bisa saling melengkapi,” ujar William Adi.
Dalam perjalanan ke Jepang kali ini, William bersama rombongan mengawali petualangan di Osaka. Salah satu kawasan yang mereka kunjungi adalah Dotonbori, area populer yang dikenal dengan suasana malamnya yang ramai, berbagai restoran, serta papan reklame berukuran besar yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Bagi William, mengunjungi Dotonbori secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya melihatnya melalui media sosial.
“Dotonbori itu memang ramai sekali. Sebelum datang kita mungkin sudah sering melihat fotonya di internet, tetapi ketika berada langsung di sana, suasananya terasa jauh lebih hidup,” ungkapnya.
Menurut William, pengalaman seperti itu menjadi salah satu alasan dirinya menyukai traveling. Ada banyak hal yang baru terasa ketika seseorang melihat dan merasakan sebuah tempat secara langsung.
“Kalau traveling, saya lebih suka menikmati suasananya. Bukan hanya mengejar foto bagus, tetapi melihat bagaimana kehidupan di tempat tersebut,” katanya.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Namba Yasaka Shrine. Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah bangunan berbentuk kepala singa raksasa yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
William mengaku tertarik mengunjungi tempat tersebut karena memiliki karakter yang berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.
“Setiap tempat punya cerita sendiri. Namba Yasaka juga menarik karena ada bangunan kepala singa yang sangat besar. Jadi ketika datang langsung, kita bisa melihat detail yang mungkin tidak terlihat kalau hanya dari foto,” tutur William.
Berlanjut ke Kyoto
Setelah menikmati Osaka, William dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kyoto. Kota tersebut menghadirkan suasana yang berbeda dengan Osaka, terutama dari sisi budaya dan lingkungan tradisionalnya.
Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah Arashiyama Bamboo Forest. Kawasan hutan bambu tersebut menjadi salah satu tujuan wisata populer di Kyoto dan dikenal dengan pemandangannya yang khas.
“Kyoto suasananya lebih tenang. Ketika masuk ke area bambu, rasanya seperti berada di tempat yang berbeda. Itu salah satu pengalaman yang menurut saya menarik,” ujar William.
Bagi William, perjalanan ke Jepang juga memberikan kesempatan untuk belajar tentang budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
Ia menilai traveling dapat menjadi sarana edukasi yang menyenangkan karena seseorang bisa mendapatkan pengetahuan baru melalui pengalaman langsung.
“Menurut saya edukasi itu bisa didapat dari mana saja. Traveling juga bisa menjadi salah satu cara belajar karena kita melihat budaya dan kebiasaan masyarakat secara langsung,” jelasnya.
William kemudian mengunjungi Kiyomizu-dera Temple, salah satu landmark budaya Jepang yang memiliki nilai sejarah dan menjadi destinasi populer di Kyoto.
Menurutnya, mengunjungi tempat bersejarah secara langsung membuat pengalaman traveling menjadi lebih bermakna.
“Kalau kita datang ke tempat seperti Kiyomizu-dera, kita jadi tidak hanya melihat bangunannya saja. Kita juga bisa mencari tahu sejarah dan alasan kenapa tempat tersebut begitu penting,” katanya.
Pengalaman Budaya yang Tak Terlupakan
Keseruan perjalanan semakin lengkap dengan agenda gala dinner yang diikuti William, Maharani Kemala, Aping, dan Itab. Dalam kesempatan tersebut, mereka tampil mengenakan busana tradisional Jepang dan mengabadikan momen kebersamaan.
Bagi William, pengalaman mengenakan pakaian tradisional Jepang menjadi salah satu bagian perjalanan yang cukup berkesan.
“Pakai pakaian tradisional Jepang itu pengalaman yang berbeda. Apalagi dilakukan bersama-sama, jadi ada keseruan tersendiri,” ungkapnya.
Ia juga merasa perjalanan menjadi lebih menyenangkan karena dilakukan bersama orang-orang yang sudah dikenalnya.
“Kalau traveling bareng, pasti ada banyak momen spontan. Kadang justru momen yang tidak direncanakan itu yang paling berkesan,” tambah William.
Pengalaman tersebut kemudian turut dibagikan melalui media sosial William dengan gaya konten yang memadukan traveling, edukasi, humor, dan pengalaman personal.
Menurut William, membuat konten traveling bukan sekadar menunjukkan tempat yang indah. Ia ingin penonton juga mendapatkan informasi atau sudut pandang baru dari setiap perjalanan yang dibagikan.
“Harapannya bukan cuma orang melihat saya sedang liburan. Saya ingin mereka juga bisa tahu tempatnya, budayanya, dan mungkin mendapatkan informasi yang berguna,” tuturnya.
Sebagai kreator konten, William menyadari bahwa penonton memiliki banyak pilihan hiburan di media sosial. Karena itu, ia berusaha membuat konten yang memiliki cerita dan tidak sekadar mengandalkan visual.
“Sekarang banyak sekali konten di media sosial. Jadi menurut saya harus ada sesuatu yang bisa membuat orang tertarik untuk menonton sampai selesai, entah itu cerita, informasi, pengalaman, atau humor,” jelasnya.
Selain traveling dan edukasi, William tetap aktif membuat konten review skincare dan treatment. Ia melihat keberagaman topik tersebut sebagai kesempatan untuk terus belajar sekaligus menemukan pengalaman baru yang dapat dibagikan kepada audiens.
“Saya masih terus belajar sebagai content creator. Yang penting saya menikmati prosesnya, terus mencoba hal baru, dan mudah-mudahan apa yang saya bagikan bisa memberikan manfaat,” katanya.
Perjalanan William Adi ke Jepang pun akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang liburan. Dari gemerlap Dotonbori di Osaka, Namba Yasaka Shrine, hingga ketenangan Arashiyama Bamboo Forest dan Kiyomizu-dera di Kyoto, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk menikmati destinasi sekaligus mengenal budaya Jepang lebih dekat.
Bagi William, traveling pada akhirnya bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang pengalaman, pengetahuan, dan cerita yang dibawa pulang untuk kemudian dibagikan kepada orang lain.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
