Catatan Opah Dani: Kekuasaan Bukan Segalanya, Amanah Rakyat yang Utama

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Di sebuah saung peradaban Maung Bodas yang sederhana di sudut Purwakarta, orang-orang kerap datang silih berganti. Tempat itu bukan sekadar saung, melainkan ruang curhat warga. Dari masalah kecil hingga persoalan besar, semua ditumpahkan di sana. Dan di sudut beranda kayu itulah, sosok Opah Dani selalu hadir mendengarkan, sambil menulis catatan-catatan pendek penuh makna.
Setiap pagi, secangkir kopi hangat menemani tangannya yang menari di atas kertas. Tulisan-tulisannya terlihat sederhana, namun bagi yang membaca dengan hati, kalimat itu terasa seperti wejangan seorang kakek kepada cucunya: menenangkan, tulus, dan membekas.
Catatan terbarunya, Minggu (31/8/2025), kembali mengetuk nurani banyak orang. Dengan bahasa yang lembut namun tegas, ia menyinggung soal jabatan yang tak pernah abadi.
“Berhati-hatilah, jabatan itu hanya sementara. Ingat, kalian dipilih oleh rakyat,” ucap Opah Dani, sambil sesekali menatap langit pagi yang cerah.
Pesan dari Hati yang Tulus
Bagi Opah Dani, jabatan bukanlah kebanggaan yang pantas diagungkan. Kekuasaan hanyalah ujian sebuah tanggung jawab berat yang mesti dijalani dengan hati-hati.
“Jangan pernah terlena. Kekuasaan itu singkat, tapi jejak perbuatan akan tercatat selamanya,” katanya saat berbincang santai dengan warga yang singgah di saungnya.
Kata-katanya sederhana, tanpa hiasan rumit. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat pesannya terasa menembus nurani.
Hidup dengan Keyakinan
Selain menyinggung soal jabatan, catatan Opah Dani juga menyentuh sisi kehidupan yang lebih luas. Baginya, hidup adalah perjalanan panjang dengan suka duka yang silih berganti. Namun satu hal yang harus dipegang teguh adalah keyakinan.
“Nikmati saja apapun keadaanmu hari ini. Mantapkan langkah, karena harapan selalu ada bagi orang yang yakin,” tulisnya di selembar kertas kecil yang kemudian ditempel di dinding ruang tamu.
Bagi warga sekitar, pesan itu sudah menjadi semacam tradisi. Setiap kali mampir ke saung, mereka tak pernah melewatkan catatan terbaru Opah Dani. Ada yang tersenyum tipis, ada pula yang mengangguk pelan, seolah menemukan penguat semangat di balik kalimatnya.
Warisan yang Abadi
Menurut Opah Dani, warisan terbesar dari seorang pemimpin bukanlah panjangnya masa jabatan, melainkan seberapa besar kebaikan yang ditinggalkan.
“Seorang pemimpin akan dikenang bukan karena lamanya berkuasa, melainkan karena manfaat dan kebaikan yang dirasakan rakyat,” tegasnya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang kerap gaduh oleh perebutan kekuasaan, sosok Opah Dani hadir bak oase. Dari beranda saung peradaban yang sederhana, ia terus menulis, menebarkan pesan bijak, dan mengingatkan bahwa jabatan bisa hilang kapan saja, namun nama baik dan kebaikan akan abadi di hati masyarakat. (***)