Jakarta Hebat! Mulai Sekarang Sampah Wajib Dipilah dari Rumah

Jurnalis: Abdul Hamid
Kabar Baru, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah di Ibu Kota melalui gerakan pemilahan langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Langkah strategis ini ia sebut sebagai bagian dari revolusi untuk mengatasi persoalan sampah klasik yang selama ini membebani Jakarta.
Gerakan tersebut kini resmi berjalan secara serentak di lima wilayah kota administrasi hingga Kabupaten Kepulauan Seribu.
Pramono menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup.
Tujuannya agar Jakarta tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
“Sekarang kita mulai dengan dipilah terlebih dahulu, organik dan anorganik dipisahkan. Tidak bisa lagi semua sampah langsung diangkut,” ujar Pramono saat mendeklarasikan gerakan tersebut di Kuningan, Jakarta Selatan.
Hapus Angkut Buang ke Bantargebang
Selama ini, pola pengelolaan sampah Jakarta masih bertumpu pada sistem angkut-buang ke wilayah Bekasi, Jawa Barat.
Namun, volume sampah yang terus meningkat membuat pendekatan lama tersebut tidak lagi efektif untuk jangka panjang.
Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta menilai pemilahan dari hulu sebagai kunci utama untuk mengurangi beban sampah secara signifikan.
Sebagai langkah pendukung, Pemerintah Provinsi telah menyiapkan berbagai fasilitas pengolahan, seperti RDF Rorotan dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
Fasilitas-fasilitas ini akan menampung serta mengolah sampah yang sudah warga pilah sebelumnya.
Melalui sistem baru ini, petugas hanya akan mengirimkan residu akhir menuju Bantargebang.
Pramono optimistis volume sampah yang dibuang ke TPST akan berkurang drastis mulai Agustus mendatang jika gerakan ini berjalan konsisten.
Menuju Jakarta sebagai Kota Global
Selain menyasar sektor rumah tangga, Pemprov DKI juga mendorong pengelolaan sampah secara mandiri di lokasi lain, seperti pasar tradisional.
Kawasan Kramat Jati menjadi salah satu contoh lokasi yang telah mendapatkan ruang untuk mengolah sampahnya sendiri secara mandiri.
Pramono menekankan bahwa keberhasilan program ini sepenuhnya bergantung pada partisipasi aktif dan perubahan perilaku warga Jakarta dalam memilah sampah.
Gerakan ini juga menjadi bagian dari rangkaian pembenahan kota menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta.
Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kebersihan kota secara menyeluruh.
“Sebagai kota global berbudaya, Jakarta harus bersih. Dan itu dimulai dari hal sederhana, memilah sampah dari rumah,” tegas Pramono.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

