Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Burnout Society: Membaca Patologi Kapitalisme Kontemporer

kabarbaru.co
Mohammad Iqbalul Rizal Nadif, Pengurus PB PMII. (Foto: Ist).

Editor:

Kabar Baru, Opini — Dunia kerja hari ini tidak lagi menampakkan wajahnya melalui jeruji besi atau mandor yang berdiri dengan cambuk di tangan.

Kita telah bergeser dari era kedisiplinan fisik menuju sebuah rezim baru yang jauh lebih halus, namun mematikan: masyarakat prestasi.

Dalam pergeseran ini, kapitalisme telah bermutasi menjadi sesuatu yang melampaui sekadar akumulasi modal material. Ia telah berhasil menginvasi psikis manusia, melegitimasi individu untuk mengeksploitasi dirinya sendiri, bukan lagi karena cengkeraman kuasa eksternal, melainkan atas nama kebebasan dan aktualisasi diri.

Fenomena burnout yang hari ini merambah hampir seluruh lapisan pekerja bukanlah sekadar masalah kelelahan fisik biasa, melainkan sebuah patologi sistemik dari masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk berhenti.

Jika kita membedah realitas ini dengan kacamata Michel Foucault, kita akan menemukan bahwa kuasa telah mengalami evolusi anatomis.

Foucault, dalam Discipline and Punish, menjelaskan bagaimana kuasa bekerja melalui sebuah sistem masyarakat disiplin yang mengurung tubuh dalam ruang-ruang institusional seperti pabrik, sekolah, dan penjara.

Di sana, individu diawasi secara konstan melalui mekanisme panoptikon agar menjadi tubuh yang patuh (docile bodies). Namun, dalam kapitalisme kontemporer, panoptikon itu tidak lagi berbentuk menara pengawas di tengah penjara, melainkan telah terinternalisasi ke dalam gawai dan kesadaran kita.

Kita tidak lagi membutuhkan pengawasan fisik karena kita telah menjadi pengawas bagi diri kita sendiri. Kuasa hari ini bersifat biopolitik, tidak lagi bekerja dengan cara melarang atau menindas dari luar, tetapi dengan cara memproduksi hasrat dan mengoptimalkan kehidupan demi produktivitas.

Di sinilah analisis ala Hasyim Wahid atau yang akrab disapa Gus Im menemukan relevansi yang tajam. Gus Im selalu piawai membedah struktur kuasa yang tersembunyi di balik permukaan yang tampak normal. Ia sering kali menekankan pentingnya membaca gerak di balik layar.

Dalam konteks dunia kerja modern, layar itu adalah narasi-narasi positivitas seperti hustle culture, self-improvement, dan pencapaian tanpa batas.

Kapitalisme tidak lagi memerlukan paksaan represif untuk membuat orang bekerja melampaui batas; sistem ini cukup memberikan janji bahwa setiap orang bisa menjadi apa saja.

Jebakan yang diendus oleh pemikiran kritis Gus Im adalah ketika “kamu harus” berubah menjadi “kamu bisa”. Subjek pekerja tidak lagi merasa ditindas oleh kekuasaan otoriter, melainkan merasa sedang berjuang demi otonomi dirinya sendiri.

Kekerasan dalam burnout society tidak lagi bersifat eksklusif atau menghambat, melainkan bersifat ekspansif dan inklusif. Kita dipaksa untuk terus-menerus tampil, berproduksi, dan berkomunikasi.

Ruang privat yang dulu, oleh Foucault, dianggap sebagai batas dari jangkauan institusi, kini luluh oleh teknologi yang membuat kantor bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Dalam struktur ini, individu berperan ganda: ia adalah tuan bagi dirinya yang memerintah, sekaligus budak yang melaksanakan perintah tersebut.

Karena merasa menjadi tuan atas dirinya sendiri, individu tersebut tidak merasa terjajah. Namun, secara paradoks, eksploitasi diri sendiri jauh lebih efisien daripada eksploitasi oleh orang lain karena disertai dengan perasaan bebas yang semu.

Inilah puncak dari teknik kekuasaan modern: membuat orang dengan sukarela menghancurkan dirinya sendiri demi sistem.

Dampaknya adalah kelelahan yang luar biasa, sebuah keletihan saraf yang melahirkan depresi dan kecemasan massal. Dalam logika kapitalisme kontemporer, kegagalan tidak lagi dilihat sebagai ketimpangan sistem atau eksploitasi kelas, melainkan kegagalan pribadi.

Seseorang yang mengalami burnout cenderung menyalahkan ketidakmampuan dirinya dalam mengatur waktu atau kurangnya daya tahan mental, ketimbang mempertanyakan beban kerja yang memang tidak manusiawi.

Ini adalah kemenangan terbesar kapitalisme: memindahkan tanggung jawab sistem ke pundak individu. Kita menjadi polisi bagi diri kita sendiri, menghukum diri dengan rasa bersalah jika tidak produktif dalam satu jam saja.

Refleksi atas realitas ini menuntut kita untuk menyadari bahwa burnout bukan sekadar urusan manajemen stres individu yang bisa diselesaikan dengan meditasi singkat atau liburan akhir pekan.

Itu hanyalah pelumas biopolitik agar mesin diri kita bisa kembali beroperasi dalam sistem yang sama.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk bersikap skeptis terhadap narasi produktivitas yang mengomodifikasi setiap detik eksistensi kita.

Mengacu pada kegelisahan pemikiran Gus Im yang selalu mencari celah kedaulatan di tengah kepungan kekuatan besar, kita harus mampu merebut kembali hak untuk tidak melakukan apa-apa.

Berhenti sejenak bukan lagi tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk perlawanan politik yang paling nyata di hadapan tirani transparansi dan percepatan.

Pada akhirnya, dunia kerja yang sehat tidak akan tercipta selama kita masih melegitimasi eksploitasi diri sebagai bentuk kesuksesan. Kita perlu merobek selubung positivitas yang selama ini mendewakan kerja keras tanpa batas.

Manusia bukanlah modal yang harus terus-menerus dioptimalkan melalui teknik-teknik pendisiplinan diri; kita adalah subjek yang memiliki hak untuk lelah, hak untuk gagal, dan yang paling penting, hak untuk hidup di luar logika akumulasi.

Tanpa kesadaran ini, kita hanya akan terus berlari dalam penjara tanpa dinding, membakar diri sendiri hingga menjadi abu demi sebuah mesin besar yang sebenarnya tidak pernah peduli apakah kita masih bernapas atau tidak.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi penjaga penjara bagi jiwa kita sendiri dan mulai memanusiakan kembali waktu yang kita miliki.

*Penulis adalah Mohammad Iqbalul Rizal Nadif, Pengurus PB PMII.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store