Dari Limbah Jadi Mutiara, Mahasiswa UC Surabaya Ubah Kain Bekas Jadi Bernilai Tinggi

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Suarabaya – Di tengah industri fashion yang bergerak serba cepat dan konsumtif, karya mahasiswa Universitas Ciputra ini justru menawarkan arah berbeda: reflektif, eksperimental, sekaligus berkelanjutan.
Melalui koleksi tekstil bertajuk Blooming Oyster, Praba Nilotama menghadirkan karya yang tak sekadar bicara soal bentuk, tetapi juga tentang luka, transformasi, dan proses menjadi bernilai.
Koleksi ini terinspirasi dari cara tiram membentuk mutiara. Dalam proses biologisnya, mutiara lahir ketika tiram melapisi benda asing yang masuk ke cangkangnya dengan lapisan nacre secara berulang. Proses panjang yang penuh tekanan itu justru menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi.
Premis inilah yang diterjemahkan Praba ke dalam eksplorasi tekstil berbasis limbah kain. Material sisa produksi diolah melalui berbagai teknik manipulasi seperti suminagashi untuk menciptakan motif marbling organik yang menyerupai aliran alami, bordir tangan (hand embroidery), quilting untuk membangun dimensi permukaan, serta aplikasi benang (cording) yang membentuk garis-garis organik menyerupai pertumbuhan biologis. Elemen tersebut kemudian diperkaya dengan embellishment mutiara yang ditempatkan sebagai aksen utama, memperkuat narasi tentang proses terbentuknya “mutiara” dari sesuatu yang awalnya dianggap tidak bernilai.
Hasilnya bukan sekadar kain daur ulang, melainkan material baru dengan karakter visual yang kompleks, memadukan pola cair khas marbling dengan tekstur timbul, detail taktil, dan permainan dimensi yang kaya.
“Saya melihat kain bekas seperti benda asing dalam kehidupan tiram. Awalnya dianggap mengganggu, tapi melalui proses yang tepat justru bisa melahirkan sesuatu yang bernilai. Di situ saya melihat paralel dengan pengalaman manusia,” ujar Praba.
Secara visual, Blooming Oyster menampilkan permukaan tekstil yang organik dan dinamis, dengan garis-garis melengkung dari cording yang menyerupai struktur alami, serta komposisi mutiara yang tersebar seperti pertumbuhan spontan. Kesan ini menghadirkan dialog antara ketidakteraturan alami dan kontrol desain, sekaligus menjadi kritik terhadap standar estetika fashion yang sering terjebak pada definisi “sempurna”.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan tren global repair-centric aesthetics, yakni gagasan bahwa jejak perbaikan, rekonstruksi, dan proses justru memiliki nilai estetika tersendiri.

Salah satu dosen pembimbing Universitas Ciputra, Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA., menilai kekuatan karya ini terletak pada kedalaman konsep yang berhasil diterjemahkan secara konsisten.
“Yang menarik dari karya Praba adalah kemampuannya menghubungkan konsep dengan eksplorasi material secara utuh. Tidak berhenti pada ide, tetapi benar-benar diwujudkan melalui eksperimen tekstil yang intens,” jelasnya.
Aspek keberlanjutan dalam karya ini pun hadir kuat. Penggunaan limbah kain menjadi bagian integral dari proses kreatif sekaligus respons terhadap isu lingkungan di industri fashion.
Menurut dosen Fabio Ricardo Toreh, S.Des., M.Des., industri saat ini membutuhkan desainer muda yang tak hanya kuat secara visual, tetapi juga kritis terhadap dampak produksinya.
“Blooming Oyster menunjukkan bahwa eksplorasi estetika bisa berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis,” katanya.
Bagi Praba, koleksi ini juga merupakan refleksi personal. Setiap lapisan, jahitan, dan deformasi tekstil merepresentasikan perjalanan bahwa sesuatu yang dianggap cacat atau tak sempurna tetap dapat direkonstruksi menjadi bermakna.
“Saya ingin orang melihat bahwa keindahan tidak pernah instan. Ada proses, tekanan, dan perubahan. Justru di situlah nilai sebenarnya muncul,” tambahnya.
Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap slow fashion, Blooming Oyster menjadi bukti bahwa desain bisa menjembatani seni, sains, dan refleksi sosial.
Dari selembar kain yang pernah dianggap sisa, lahirlah sebuah “mutiara” baru.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

