Tekan Polusi Sampah! Amaliyah Sulap Limbah Dapur Jadi Sofa Mewah

Jurnalis: Dian Annisa
Kabar Baru, Serang – Krisis sampah di tingkat rumah tangga kini menemukan penawar nyata lewat tangan dingin seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang.
Amaliyah, sosok di balik berdirinya Bank Sampah MATA, berhasil membuktikan bahwa limbah dapur bukan sekadar masalah, melainkan sumber ekonomi baru.
Melalui gerakan pemilahan mandiri, ia sukses memangkas tumpukan sampah di Kampung Masigit hingga 500 kilogram setiap bulannya.
Amaliyah memulai langkahnya dari keprihatinan melihat sisa produksi usaha kue rumahan, Amalia Kitchen, terus menumpuk sejak 2019.
Alih-alih membuangnya ke Tempat Pembuangan Utama (TPU), ia memilih mengolah limbah tersebut menjadi produk bernilai seni dan manfaat.
Sampah plastik dan sisa bahan kini ia sulap menjadi sofa ecobrick hingga produk aromaterapi yang memiliki nilai jual.
Gerakan Akar Rumput Melalui Bank Sampah
Sadar bahwa masalah lingkungan tidak bisa selesai sendirian, Amaliyah menginisiasi berdirinya Bank Sampah MATA (Masigit Asri Tanpa Sampah).
Ia mengajak ibu-ibu di lingkungannya untuk berhenti membuang sampah sembarangan dan mulai memilah dari rumah. Saat ini, 86 warga telah bergabung menjadi anggota aktif yang rutin menyetorkan limbah mereka.
Setiap kilogram sampah terkumpul kini memiliki harga. Anggota yang menyetor limbah mendapatkan imbalan rupiah, sehingga kesadaran menjaga lingkungan berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan keluarga.
“Saya tidak menyangka, awalnya hanya ibu-ibu dasteran yang mengumpulkan sampah, kini bisa memberi manfaat luas untuk orang lain,” ujar Amaliyah penuh haru.
Menekan Drastis Pembuangan ke TPU
Dampak lingkungan dari aksi Amaliyah ini terlihat sangat nyata secara data. Sebelum adanya bank sampah, Kampung Masigit menyumbang beban tumpukan di TPU hingga 900 kilogram per bulan.
Kini, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya 400 kilogram. Penurunan volume sampah lebih dari 50% ini menjadi prestasi luar biasa bagi skala lingkungan setingkat kampung.
Keberhasilan Amaliyah menunjukkan bahwa edukasi pengelolaan sampah paling efektif bermula dari lingkungan terkecil.
Ia membuktikan bahwa kemauan kuat seorang ibu rumah tangga mampu mengubah wajah kampung menjadi lebih asri.
Selain menyelamatkan bumi, Amaliyah juga menyisihkan sebagian keuntungan dari hasil olahan sampah tersebut untuk menyantuni anak yatim dan dhuafa di wilayahnya.
Inspirasi Kemandirian Pengolahan Limbah
Inisiatif Amaliyah kini menjadi sorotan karena mampu menjawab tantangan lingkungan yang selama ini sering diabaikan.
Keberaniannya mencoba hal baru dalam mengolah limbah menjadi ecobrick memberikan contoh nyata kemandirian lokal.
Dengan sistem yang terkelola baik, sampah yang semula dianggap kotor dan bau kini berubah menjadi sumber keberkahan bagi warga sekitar.
Langkah Amaliyah diharapkan memicu munculnya pahlawan-pahlawan lingkungan baru di wilayah lain.
Serang kini memiliki satu titik percontohan sukses di mana sampah benar-benar berhenti di sumbernya, bukan berakhir menumpuk di pembuangan akhir.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

