Merek Pakan Udang Tinggi Protein di Pasaran dan Cara Membaca Angkanya

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta – Berjalan di antara tumpukan karung di toko sarana tambak, angka protein adalah hal pertama yang menarik perhatian. Ada yang tertulis 28 persen, ada 32 persen, ada pula yang menyentuh 40 persen. Harganya ikut naik seiring angka itu. Masalahnya, angka di karung tidak selalu berarti sama antarmerek, dan petambak yang membandingkannya begitu saja sering mengambil keputusan di atas dasar yang keliru.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kata yang menyertainya. Sebagian produsen menulis angka pasti, sebagian lagi menulis minimal. Keduanya berbeda arti. Angka minimal berarti produsen menjamin kandungan tidak kurang dari itu, dan kenyataannya bisa lebih tinggi. Angka pasti berarti itulah sasaran formulasi. Membandingkan 32 persen milik satu merek dengan minimal 32 persen milik merek lain bukan perbandingan setara, meski tertulis sama.
Hal kedua, dan ini yang paling sering luput, adalah bahwa protein kasar tidak sama dengan protein yang benar-benar terserap udang. Angka pada karung mengukur kandungan nitrogen dalam bahan, bukan seberapa banyak yang berubah menjadi daging. Dua pakan dengan protein kasar sama bisa memberi hasil berbeda bila sumber proteinnya berbeda. Protein dari tepung ikan umumnya lebih mudah dicerna udang dibanding protein nabati dalam jumlah setara. Karena itu produsen yang mencantumkan sumber protein, bukan sekadar persentasenya, memberi informasi yang lebih berguna.
Yang ketiga, perhatikan siapa saja yang benar-benar mencantumkan angkanya. Di pasar Indonesia, ini membagi merek pakan udang menjadi dua kelompok yang cukup tegas. Suri Tani Pemuka mencantumkan angka untuk seluruh lini udangnya, mulai dari Super PL pada protein 40 persen untuk fase transisi, PV Max dan PV pada 35 persen, SGH serta SGH MAX pada 32 persen, TOV pada 30 persen, sampai Fortuna pada 28 persen. Grobest mencantumkan rangkaian Ecobest, dengan varian 3S pada minimal 32 persen serta 3M dan 3L pada minimal 36 persen.
Di kelompok sebaliknya ada sejumlah merek besar yang beredar luas dan banyak dipakai petambak, seperti CP Prima, Skretting, dan Matahari Sakti, yang tidak mencantumkan kandungan protein di kanal resmi masing-masing. Ini tidak berarti mutunya rendah. Banyak produsen memang menaruh spesifikasi teknis pada lembar data yang dibagikan lewat distributor atau tim teknis, bukan di situs umum. Konsekuensinya untuk petambak hanya satu, yaitu angkanya perlu diminta sebelum dipakai menghitung, bukan diasumsikan dari kabar di pasar.
Dengan ketiga hal itu di tangan, perbandingan baru bisa dibuat. Dan di sinilah muncul pertanyaan yang lebih penting daripada merek mana yang angkanya paling tinggi, yaitu berapa yang sebenarnya dibutuhkan udang di petak Anda saat ini. Kebutuhan protein udang vaname menurun seiring pertumbuhannya. Fase pasca-larva dan transisi menuntut kisaran tertinggi, sekitar 38 sampai 42 persen. Fase starter turun ke sekitar 35 persen. Fase pembesaran berada di 32 sampai 36 persen, dan menjelang panen cukup 28 sampai 30 persen.
Memberi pakan 40 persen pada udang ukuran panen bukan tindakan hati-hati, melainkan pemborosan yang merugikan dua kali. Protein yang melebihi kebutuhan tidak berubah menjadi daging, melainkan dibuang sebagai amonia yang mencemari air dan menambah beban kerja kincir. Jadi petambak membayar bahan paling mahal dalam pakan untuk sesuatu yang justru memperburuk kolamnya sendiri.
Perhitungan yang benar-benar menjawab adalah biaya pakan per kilogram udang panen, bukan harga per karung dan bukan pula angka protein. Caranya sederhana, yaitu mengalikan harga pakan per kilogram dengan nilai konversi pakan yang tercapai di petak Anda. Pakan yang lebih mahal per kilogram bisa menghasilkan biaya panen lebih rendah bila konversinya lebih baik, dan sebaliknya pakan murah dengan konversi buruk sering berakhir lebih mahal. Perhitungan ini mustahil dilakukan bila spesifikasi pakannya tidak diketahui, dan di situlah keterbukaan angka punya nilai yang nyata.
Satu catatan terakhir tentang penyimpanan, karena angka protein di karung tidak banyak berarti bila pelet sudah rusak sebelum ditebar. Kelembapan membuat butiran melunak, kehilangan kekerasan, dan lebih cepat hancur di air. Pakan yang hancur sebelum termakan terbaca sebagai pemborosan di buku catatan, padahal penyebabnya ada di gudang. Menyimpan stok untuk kebutuhan dua minggu saja, di atas palet dan berjarak dari dinding, menjaga angka di karung tetap bermakna sampai pelet masuk ke air.
Memilih merek pakan udang berprotein tinggi pada akhirnya bukan soal mencari angka terbesar di pasaran, melainkan soal mencocokkan angka dengan fase udang lalu memastikan angka itu bisa diperiksa. Rangkaian pakan udang vaname dari STP Aquaculture disusun per fase dengan kandungan protein yang tercantum di tiap produknya, sehingga pencocokan tersebut bisa dilakukan sejak sebelum membeli. Untuk merek lain yang sedang Anda pertimbangkan, mintalah lembar data produk resmi dari distributornya terlebih dahulu, karena membandingkan harga tanpa mengetahui spesifikasi sama saja dengan menebak dengan uang sungguhan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
