Pulang yang Tak Lagi Sama: Menjadi “Dua Orang” dalam Satu Diri sebagai Anak Rantau

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Kolom — Libur semester tiba. Dina, mahasiswa perantau di Semarang, akhirnya pulang ke kampung halamannya. Di meja makan, ibunya berkomentar, “Kamu kok sekarang ngomongnya beda, ya?” Adiknya menimpali bahwa kakaknya jadi “kota banget”. Dina tertawa, tetapi di dalam hati ia bingung. Di kos, ia merasa masih “anak daerah”. Di rumah, ia dianggap sudah berubah.
Lalu, sebenarnya ia ini siapa?
Pertanyaan itu mungkin terdengar dramatis, tetapi sangat nyata bagi banyak anak rantau. Perasaan “tidak sepenuhnya di sini, tidak sepenuhnya di sana” bukan tanda seseorang kehilangan jati diri. Dalam psikologi multikultur, perasaan itu sering menjadi tanda bahwa seseorang sedang membangun identitas yang lebih luas, dan proses itu tidak selalu nyaman.
Tulisan ini mengajak kita memahami pengalaman anak rantau dengan kacamata psikologi multikultur: bagaimana dua budaya bisa hidup dalam satu kepala, mengapa kepulangan pun bisa menimbulkan kejutan, apa yang ditunjukkan penelitian tentang mahasiswa perantau di Indonesia, dan bagaimana kita dapat merawat identitas yang berlapis ini.
Anak Rantau di Tengah Bangsa yang Bergerak
Merantau bukan fenomena pinggiran. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang dirangkum GoodStats dari data BPS, sekitar 10,1 persen penduduk Indonesia adalah migran seumur hidup antarprovinsi, naik dari 9,7 persen pada 2024. Artinya, sekitar satu dari sepuluh orang tinggal di provinsi yang berbeda dari tempat kelahirannya. Data Sensus Penduduk 2020 dalam laporan yang sama juga menunjukkan Jawa Tengah sebagai daerah asal migran seumur hidup terbanyak, sekitar 6,0 juta orang.
Di sisi lain, BPS melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa, dengan kelompok Gen Z, Milenial, dan Post-Gen Z bersama-sama mencakup sekitar 68,92 persen. Angka-angka ini memberi gambaran bahwa generasi muda yang bergerak antardaerah untuk kuliah dan bekerja adalah bagian besar dari wajah masyarakat kita.
Namun, perlu dicatat bahwa angka migrasi tidak memberi tahu kita bagaimana perasaan para migran itu. Untuk itu kita perlu masuk ke wilayah psikologi.
Ketika Dua Budaya Hidup dalam Satu Kepala
Orang yang tumbuh atau lama tinggal di dua lingkungan budaya sering disebut memiliki identitas bikultural. Penelitian Hong dan kawan-kawan (2000) tentang pergantian bingkai budaya (cultural frame switching) menunjukkan bahwa orang bikultural dapat berpindah cara menafsirkan situasi tergantung isyarat budaya yang sedang aktif. Contohnya, seseorang memakai logat dan sopan santun daerahnya saat menelepon keluarga, lalu berganti ke gaya yang lebih lugas ketika presentasi di kelas.
Perpindahan ini biasanya terjadi tanpa disadari. Karena itu, anak rantau kadang terkejut sendiri ketika mendengar dirinya berbicara dengan cara yang berbeda di tempat yang berbeda.
Benet-Martínez dan Haritatos (2005) menambahkan konsep integrasi identitas bikultural (Bicultural Identity Integration). Ada orang yang merasa kedua budayanya saling melengkapi, ada pula yang merasa keduanya bertentangan sehingga setiap pilihan terasa seperti pengkhianatan pada salah satu pihak. Tinjauan meta-analisis oleh Nguyen dan Benet-Martínez (2013) menemukan bahwa identitas bikultural yang terintegrasi cenderung berkaitan dengan penyesuaian psikologis dan sosiokultural yang lebih baik. Jadi, yang menentukan bukan sekadar memiliki dua budaya, melainkan bagaimana seseorang menata hubungan di antara keduanya.
Kejutan Budaya Itu Datang Dua Kali
Banyak orang mengira kejutan budaya hanya terjadi ketika tiba di tempat baru. Padahal, ada juga kejutan saat kembali ke tempat asal. Kita pergi dengan membawa gambaran kampung halaman yang “tetap seperti dulu”, sementara diri kita sudah berubah oleh pengalaman baru. Akibatnya, kepulangan bisa terasa janggal.
Beberapa hal yang sering muncul pada anak rantau:
- Merasa dinilai berubah. Komentar tentang logat, selera, atau cara berpikir bisa terdengar seperti kritik, walaupun maksudnya sekadar basa-basi.
- Beban ganda ekspektasi. Di perantauan diharapkan mandiri, di rumah diharapkan tetap patuh seperti dulu.
- Rasa bersalah. Menyukai gaya hidup baru bisa terasa seperti “melupakan asal”.
- Kesepian yang sulit dijelaskan. Teman lama dan teman baru tidak selalu memahami dua sisi dirinya sekaligus.
Apa Kata Penelitian tentang Mahasiswa Perantau?
Salah satu penelitian yang relevan dilakukan oleh Pakan dan Rahayu (2023) dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Mereka meneliti hubungan antara kompetensi lintas budaya dan penyesuaian diri pada 102 mahasiswa perantau asal Sulawesi Selatan yang kuliah di Salatiga. Para mahasiswa ini menghadapi perbedaan yang konkret: bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari, cuaca, makanan, hingga kesulitan bertanya di kelas karena merasa malu.
Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi lintas budaya seseorang, semakin baik pula penyesuaian dirinya. Hubungan terkuat terdapat pada penyesuaian sosial.

Ada satu temuan yang menarik untuk direnungkan. Meskipun sebagian besar partisipan menunjukkan penyesuaian akademik dan sosial yang tergolong tinggi, sekitar 52,94 persen di antaranya berada pada kategori rendah untuk penyesuaian personal-emosional. Dengan kata lain, seseorang bisa tampak berfungsi baik di kelas dan pergaulan, tetapi tetap bergulat dengan perasaan di dalam dirinya. Hal ini mengingatkan kita agar tidak menilai kesejahteraan anak rantau hanya dari nilai atau jumlah temannya.
Beberapa catatan penting: penelitian ini bersifat korelasional sehingga tidak membuktikan sebab-akibat, sampelnya berasal dari satu kelompok daerah di satu kampus, dan datanya dikumpulkan lewat kuesioner daring dengan teknik snowball sampling. Hasilnya berguna sebagai gambaran, bukan untuk digeneralisasi pada seluruh mahasiswa perantau di Indonesia.
Pilihan Cara Menjalani Akulturasi
Berry (1997) menjelaskan bahwa orang yang berhadapan dengan budaya baru dapat menempuh empat strategi: integrasi (mempertahankan budaya asal sambil terlibat dengan budaya baru), asimilasi (melebur ke budaya baru), separasi (bertahan pada budaya asal dan menjaga jarak), dan marginalisasi (tidak terikat pada keduanya). Integrasi umumnya dikaitkan dengan penyesuaian yang lebih sehat.
Namun, pilihan ini tidak sepenuhnya berada di tangan individu. Lingkungan yang mengejek logat, menuntut seseorang “melebur”, atau menganggap budaya asal sebagai hal yang ketinggalan zaman akan mempersempit ruang untuk integrasi. Menjadi bikultural bukan hanya tugas pribadi. Kampus, tempat kerja, dan keluarga ikut menentukan apakah seseorang merasa aman untuk menjadi “keduanya”.
Cara Merawat Identitas yang Berlapis
Beri nama pada pengalamannya. Memahami bahwa rasa canggung saat pulang itu wajar membantu kita berhenti menyalahkan diri.
Lihat dua budaya sebagai sumber daya. Bahasa daerah, nilai gotong royong, dan keberanian beradaptasi di kota adalah modal, bukan beban.
Pelajari tempat tujuan sebelum berangkat. Seperti disarankan Pakan dan Rahayu (2023), mengenal budaya, cuaca, dan kebiasaan kota tujuan dapat memudahkan penyesuaian.
Ceritakan perubahanmu dengan tenang. Jelaskan pada keluarga apa yang kamu alami, tanpa merendahkan cara hidup mereka.
Cari komunitas sesama perantau. Berbagi cerita dengan orang yang mengalami hal serupa dapat mengurangi rasa sendirian.
Perhatikan sisi emosional. Jika rasa bingung, sedih, atau lelah berlangsung lama, berbicara dengan konselor atau psikolog adalah langkah yang baik, bukan tanda kelemahan.
Setelah pulang atau setelah mengalami momen canggung, kita juga bisa bertanya pada diri sendiri: Bagian diriku yang mana yang muncul tadi, dan mengapa? Apa yang ingin kupertahankan dari kampung halamanku? Apa yang ingin kubawa pulang dari perantauan?
Peran Kampus dan Keluarga
Karena penyesuaian dipengaruhi lingkungan, tanggung jawabnya tidak boleh hanya dibebankan pada mahasiswa. Kampus dapat menyediakan program orientasi lintas budaya, mentor sebaya, dan layanan konseling yang peka terhadap latar belakang daerah. Dosen dapat menghargai keragaman bahasa dan gaya komunikasi di kelas. Keluarga di kampung halaman dapat membuka ruang dengar: bertanya dengan rasa ingin tahu, bukan menghakimi perubahan.
Penutup
Anak rantau sering dibayangkan sebagai orang yang meninggalkan sesuatu. Dari sudut pandang psikologi multikultur, ia juga sedang menambahkan sesuatu: cara pandang baru, bahasa baru, dan keterampilan menyeberang antardunia. Pertanyaan “aku ini sebenarnya siapa?” mungkin tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu.
Jawaban yang lebih sehat bisa jadi begini: aku adalah orang yang membawa kampung halamanku ke mana pun aku melangkah, sekaligus terus tumbuh bersama tempat-tempat yang kujumpai.
Penulis: Dellia Putri Reunita Noeralim, Mahasiswa Fakultas Psikologi Program Studi Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (SCU).
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Mei). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 [Konferensi pers]. Jakarta.
Benet-Martínez, V., & Haritatos, J. (2005). Bicultural identity integration (BII): Components and psychosocial antecedents. Journal of Personality, 73(4), 1015–1050.
Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology, 46(1), 5–34.
GoodStats. (t.t.). Provinsi yang paling banyak menerima dan ditinggalkan migran serta arah perpindahannya. https://goodstats.id/article/provinsi-yang-paling-banyak-menerima-dan-ditinggalkan-migran-serta-arah-perpindahannya-jka2S
Hong, Y., Morris, M. W., Chiu, C., & Benet-Martínez, V. (2000). Multicultural minds: A dynamic constructivist approach to culture and cognition. American Psychologist, 55(7), 709–720.
Nguyen, A. D., & Benet-Martínez, V. (2013). Biculturalism and adjustment: A meta-analysis. Journal of Cross-Cultural Psychology, 44(1), 122–159.
Pakan, E. D., & Rahayu, M. N. M. (2023). The relationship between cross-cultural competence and self-adjustment in migrant students. Bisma The Journal of Counseling, 7(2), 315–322. https://doi.org/10.23887/bisma.v7i2.67670
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
