Santri Sorong Perkuat Tradisi dan Persaudaraan Menuju Indonesia Emas

Jurnalis: Latief
Kabar Baru, Sorong – Santriwati sekaligus Manager PT Hazarya Global Property, Fardati Nailulfari, mengajak santri di Kota Sorong, Papua Barat Daya, memperkuat tradisi keilmuan, menjaga persaudaraan, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Ajakan tersebut disampaikan melalui refleksi Hari Santri Nasional 2026 bertajuk “Santri Sorong, Awal Indonesia Emas dari Timur”.
Ia menilai santri memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berakhlak, toleran, dan mampu menghadapi perkembangan zaman.
Menurut Fardati, santri tidak cukup hanya mendalami ilmu agama. Mereka juga perlu mengamalkan ilmu melalui tindakan nyata, seperti meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat pendidikan, memberdayakan ekonomi masyarakat, serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan pesantren terlihat ketika santri mampu menghadirkan manfaat di tengah masyarakat. Ilmu yang mereka pelajari harus tercermin melalui kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Perkuat Tradisi dan Persatuan
Fardati menilai tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, serta tema PBNU, “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, membawa pesan penting bagi generasi santri.
Menurutnya, tradisi keilmuan dan nilai-nilai luhur harus menjadi landasan untuk menghadapi perubahan zaman. Santri perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan akhlak serta identitas keagamaannya.
Ia juga menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran) dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, dapat menjadi pedoman bagi santri untuk membangun hubungan yang harmonis, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan masyarakat secara bijaksana.
Hidupkan Tiga Pilar Ukhuwah
Dalam kehidupan masyarakat Sorong yang majemuk, Fardati mengajak santri menghidupkan tiga pilar persaudaraan, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Ukhuwah Islamiyah mengajarkan persaudaraan sesama umat Islam. Ukhuwah wathaniyah memperkuat hubungan antarsesama warga bangsa, sedangkan ukhuwah insaniyah menumbuhkan kepedulian terhadap seluruh umat manusia tanpa membedakan latar belakang.
Menurutnya, ketiga prinsip tersebut dapat memperkuat persatuan di Papua Barat Daya. Santri dapat menerapkannya melalui kerja sama lintas agama, penghormatan terhadap masyarakat adat, kegiatan sosial, dan kepedulian terhadap persoalan bersama.
Ia menegaskan, mencintai Indonesia tidak berarti seseorang harus meninggalkan identitas agama, suku, atau kebudayaannya. Sebaliknya, keberagaman perlu menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai dan saling menghormati.
Santri Berperan dalam Pembangunan Papua Barat Daya
Fardati juga mengingatkan bahwa perjuangan santri tidak berhenti pada sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Semangat pengabdian para ulama dan santri perlu diteruskan melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan, dan perjuangan mewujudkan keadilan sosial.
Bagi santri Sorong, kontribusi tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Mereka bisa mengajar anak-anak, mendampingi kegiatan masyarakat, membangun usaha produktif, menjaga lingkungan, hingga terlibat dalam penyelesaian persoalan publik secara bertanggung jawab.
Ia menilai pembangunan Papua Barat Daya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, dan kepedulian sosial. Karena itu, santri perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang serta berkontribusi dalam berbagai bidang profesi.
Menurut Fardati, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Bangsa ini juga membutuhkan generasi yang berkarakter, produktif, mampu bekerja sama, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Ia berharap momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bagi santri untuk terus merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Santri Sorong harus memahami bahwa memegang teguh akar tradisi tidak menghalangi kita untuk melangkah maju. Justru akar yang kokoh membuat kita tidak mudah tumbang saat menjangkau masa depan,” demikian pesan Fardati dalam refleksinya.
Ia mengajak seluruh santri menjadikan ilmu, akhlak mulia, dan semangat Hubbul Wathan minal Iman sebagai landasan pengabdian untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri. Dari Sorong, untuk Indonesia Emas.
Penulis: Fardati Nailulfari
Santriwati dan Manager PT Hazarya Global Property
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
WahGenz
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
