Karhutla Masih Mengancam Kalimantan, 174 Ribu Kasus ISPA Tercatat

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan. Selain menimbulkan kerusakan lingkungan dan kabut asap, karhutla juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak karhutla selama periode 18 Agustus hingga 21 September 2026. Dari jumlah tersebut, 40.363 kasus dialami balita.
Tujuh provinsi yang masuk dalam pemantauan Kemenkes terdiri atas Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dengan demikian, angka 174.694 merupakan jumlah kasus dari seluruh wilayah tersebut, bukan angka khusus Kalimantan. Namun, empat provinsi di Kalimantan yang masuk dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan akibat asap juga dirasakan masyarakat di kawasan tersebut.
Di Kalimantan Tengah, kondisi karhutla masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa berdasarkan data SiPongi hingga 26 September 2026 pukul 21.15 WIB, terdapat 30 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah. Jumlah tersebut turun dari 57 titik pada hari sebelumnya. Sebaliknya, Kalimantan Selatan mengalami kenaikan dari enam menjadi 40 hotspot, sedangkan Kalimantan Barat turun dari 14 menjadi dua hotspot. Secara nasional, terdapat 331 hotspot high confidence, naik dari 213 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit dan masih harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan. Karena itu, perubahan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator dalam menentukan tingkat kewaspadaan dan penanganan karhutla.
Dampak asap juga terlihat di sejumlah kota di Kalimantan. Pada 24 September, Kementerian Kehutanan melaporkan kondisi kualitas udara di beberapa wilayah Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di beberapa lokasi bahkan masuk kategori berbahaya. Jarak pandang di Palangka Raya tercatat sekitar 0,6 kilometer, Banjarmasin 1,7 kilometer, dan Pontianak sekitar dua kilometer dalam pengamatan dini hari.
Di Palangka Raya, dampak kesehatan juga tercatat secara khusus oleh Dinas Kesehatan setempat. Hingga 20 September 2026, sebanyak 9.324 kasus ISPA tercatat sejak Juni. Sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada orang dewasa, dan 30 persen pada kelompok lanjut usia. Untuk menghadapi dampak asap, pemerintah kota menyiapkan rumah oksigen dan membagikan masker kepada masyarakat.
Kondisi cuaca juga masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. BMKG menyebut kondisi atmosfer kering masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan bagian selatan. Suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius juga tercatat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah pada 20–23 September. Hingga 24 September, BMKG masih mendeteksi 215 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan dan sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur.
Untuk mengurangi dampak karhutla, pemerintah terus melakukan pemadaman dan pencegahan melalui operasi darat, patroli udara, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca. Kementerian Kehutanan menyatakan sebanyak 61 armada udara disiagakan untuk mendukung penanganan karhutla. Operasi darat juga melibatkan Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan relawan.
Di tengah kondisi tersebut, penanganan karhutla masih terus dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan. Pemerintah tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mengurangi dampak asap terhadap masyarakat. Dengan jumlah kasus ISPA yang masih tinggi, kondisi kualitas udara dan perkembangan karhutla masih menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lansia.
Penulis: Aziza Ilham Ramadhani – Universitas Airlangga.
*) Tulisan opini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, dan bukan bagian dari tanggung jawab redaksi Kabarbaru.co
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
