Warga Kesulitan Air, PJR Cipularang Turun Tangan

Jurnalis: Deni Aping
Kabar Baru, Purwakarta – Kekeringan yang melanda Desa Hegarmanah dan Desa Maracang, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut mendorong jajaran PJR Tol Cipularang bersama mitra pengelola jalan tol menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat, Kamis (17/9/2026).
Sebanyak tiga tangki air bersih disalurkan ke sejumlah titik yang mengalami kesulitan air. Dua tangki didistribusikan ke Kampung Dadap, RT 1 dan RT 2 RW 1, Desa Hegarmanah, sedangkan satu tangki lainnya diperuntukkan bagi warga Desa Maracang.
Kepala Induk PJR Tol Cipularang Korlantas Polri, Kompol Djoko Prihantono, mengatakan setiap tangki berkapasitas sekitar 8.700 liter. Dengan demikian, total bantuan yang disalurkan mencapai sekitar 26.100 liter air bersih.
“Pada hari ini kami membantu masyarakat di wilayah Kecamatan Babakancikao, khususnya Desa Hegarmanah dan Maracang yang mengalami kekurangan air bersih karena sumur-sumur warga mengering,” kata Djoko.
Menurutnya, air yang disalurkan berasal dari mata air di wilayah Wanayasa yang selama ini dimanfaatkan sebagai sumber air isi ulang.
Djoko menyebut bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian jajaran PJR Tol Cipularang bersama mitra pengelola jalan tol terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Ini murni untuk membantu masyarakat yang membutuhkan air. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-71 Polantas sebagai upaya mendekatkan diri kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran polisi di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya dalam konteks penegakan hukum dan pengaturan lalu lintas, tetapi juga melalui kepedulian sosial terhadap kondisi warga.
Sementara itu, Lilis, warga Kampung Dadap, RT 1 RW 1, Desa Hegarmanah, mengatakan kesulitan air mulai dirasakan masyarakat sekitar satu bulan terakhir.
“Sudah sekitar sebulan kekurangan air. Sebelumnya masih ada, tetapi sekarang sumur sudah sulit mengeluarkan air,” kata Lilis.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mencari sumber air lain hingga membeli air. Kondisi tersebut menambah beban pengeluaran rumah tangga.
“Untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan memasak, biasanya kami membeli air. Pengeluarannya bisa sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu sehari,” ungkapnya.
Lilis menyambut baik bantuan tersebut karena dapat meringankan kebutuhan warga di tengah kondisi kekeringan.
“Dengan adanya bantuan ini tentu sangat membantu. Kami berterima kasih karena airnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung, sekaligus meringankan beban warga yang harus mencari sumber air dari lokasi lain.***
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
