Refactoring: Ketika Software Engineer Menata Ulang Arsitektur Kehidupan Lewat Musik

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Jakarta – Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya berjalan terlalu cepat. Pekerjaan terus dikejar, target harus dicapai, karier harus berkembang, dan berbagai ekspektasi dari lingkungan seolah menjadi program yang wajib dijalankan. Tanpa disadari, rutinitas tersebut dapat membuat seseorang lupa bertanya: apakah kehidupan yang sedang dijalani benar-benar kehidupan yang diinginkan?
Pertanyaan semacam itu menjadi semakin relevan bagi generasi dewasa muda yang sedang menghadapi fase quarter-life crisis. Di satu sisi, ada keinginan untuk mencapai kesuksesan. Di sisi lain, muncul kebutuhan untuk beristirahat, menikmati waktu bersama keluarga, dan memahami kembali apa yang sebenarnya penting dalam kehidupan.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika seseorang terbiasa dengan hustle culture. Bekerja keras memang bukan sesuatu yang buruk. Namun, ketika seluruh nilai diri hanya diukur berdasarkan produktivitas, seseorang bisa terjebak dalam siklus pekerjaan tanpa akhir. Waktu untuk diri sendiri, pasangan, anak, maupun keluarga perlahan tersisihkan.
Dari keresahan tersebut, hadir sebuah karya musik yang mencoba melihat kehidupan melalui perspektif yang tidak biasa. rief6669 menghadirkan album Refactoring, sebuah album berisi sembilan trek yang menggunakan istilah-istilah dalam software engineering sebagai metafora perjalanan manusia dalam menata ulang hidup.
Album ini tidak menawarkan motivasi dengan cara yang berisik. Sebaliknya, Refactoring mengajak pendengarnya berhenti sejenak, melihat kembali struktur kehidupan yang sudah dibangun, lalu mempertanyakan bagian mana yang masih layak dipertahankan.
Mengenal Album Refactoring dari rief6669
Refactoring merupakan album terbaru dari rief6669 yang dirilis pada 3 September dan terdiri dari sembilan trek. Album ini tersedia di berbagai platform musik digital, termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.
Dengarkan album Refactoring di Spotify
Secara konsep, album ini menarik karena menggunakan dunia software engineering sebagai bahasa untuk membicarakan persoalan kehidupan. Salah satu istilah utamanya adalah refactoring.
Dalam dunia pemrograman, refactoring merupakan proses memperbaiki struktur kode agar menjadi lebih bersih, mudah dipahami, dan lebih efisien tanpa mengubah fungsi atau esensi utama dari program tersebut.
Konsep tersebut kemudian dipindahkan ke dalam konteks kehidupan manusia.
Manusia juga terkadang membutuhkan refactoring. Bukan berarti harus menghapus seluruh masa lalu atau menjadi orang yang sama sekali berbeda. Yang diperlukan justru adalah menata ulang struktur kehidupan agar sesuatu yang penting kembali mendapatkan ruang.
Pekerjaan mungkin tetap dilakukan. Ambisi tidak harus hilang. Namun, cara seseorang menentukan prioritas dapat berubah.
Refactoring sebagai Antitesis Hustle Culture
Salah satu kekuatan utama album Refactoring adalah keberaniannya mengambil posisi berlawanan dengan glorifikasi hustle culture.
Dalam budaya kerja yang sangat kompetitif, kesibukan sering kali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Seseorang yang selalu bekerja hingga larut malam dapat dianggap produktif. Jadwal yang penuh dianggap sebagai bukti bahwa hidup sedang berkembang.
Namun, kesibukan tidak selalu identik dengan kemajuan.
Ada kalanya seseorang sangat sibuk tetapi sebenarnya bergerak menjauh dari hal-hal yang paling berarti. Waktu terus dihabiskan untuk pekerjaan, sementara keluarga hanya mendapatkan sisa energi.
Di sinilah gagasan refactoring menjadi relevan. Jika struktur kehidupan mulai terasa tidak sehat, mungkin masalahnya bukan karena seseorang kurang bekerja keras. Bisa jadi struktur prioritasnya yang perlu diperbaiki.
Album ini seakan mengajak pendengar melakukan code review terhadap kehidupannya sendiri.
Apa yang selama ini menjadi prioritas?
Apakah target karier masih sejalan dengan kehidupan yang ingin dibangun?
Apakah ambisi masih memberikan makna?
Atau justru ambisi tersebut sudah berubah menjadi beban?
Ketika Ekspektasi Menjadi Legacy Code
Salah satu metafora menarik dalam Refactoring adalah konsep legacy code.
Dalam dunia teknologi, legacy code dapat merujuk pada kode lama yang masih digunakan meskipun strukturnya mungkin sudah tidak sesuai dengan kebutuhan sekarang. Kode tersebut tetap berjalan karena sudah menjadi bagian dari sistem.
Dalam kehidupan manusia, legacy code dapat berupa ekspektasi lama yang diwariskan dari keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, atau masyarakat.
Misalnya, seseorang merasa harus mempunyai pekerjaan tertentu karena sejak kecil diberi tahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan ukuran kesuksesan. Ada pula yang merasa harus memiliki rumah, jabatan, kendaraan, penghasilan, atau pencapaian tertentu pada usia tertentu.
Masalahnya, kehidupan tidak selalu berjalan berdasarkan jadwal yang sudah dibuat orang lain.
Apa yang dianggap ideal pada usia 20 tahun belum tentu tetap relevan ketika seseorang berusia 30 tahun. Begitu pula dengan definisi sukses. Prioritas seseorang dapat berubah ketika menikah, memiliki anak, atau memasuki fase kehidupan baru.
Karena itu, Refactoring bukan tentang menghancurkan masa lalu. Album ini lebih terasa seperti ajakan untuk memahami masa lalu, kemudian menentukan kembali struktur kehidupan yang ingin dijalani.
Awal Cerita Selamanya: Ketika Keluarga Mengubah Perspektif
Salah satu trek yang menjadi sorotan adalah Awal Cerita Selamanya.
Lagu ini menggambarkan runtuhnya ego seorang workaholic setelah kehadiran keluarga. Tema tersebut terasa dekat dengan banyak orang yang sebelumnya menganggap pekerjaan sebagai pusat kehidupan.
Ada fase ketika pencapaian profesional terasa seperti tujuan akhir. Namun, kehadiran keluarga dapat menghadirkan perspektif baru.
Kesuksesan akhirnya tidak hanya berbicara tentang posisi atau pendapatan. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah seseorang hadir untuk orang-orang yang dicintainya?
Kehadiran keluarga dapat mengubah definisi “berhasil”.
Bukan berarti pekerjaan kehilangan arti. Justru pekerjaan tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber identitas.
Tumbuhlah Bebas: Pesan Ayah untuk Anak
Tumbuhlah Bebas membawa perspektif lintas generasi. Trek ini menyampaikan pesan dari seorang ayah kepada anaknya agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih merdeka dari ekspektasi dunia luar.
Pesan tersebut menjadi menarik karena orang tua sering kali berada dalam posisi yang berusaha memberikan kehidupan terbaik bagi anak. Namun, memberikan yang terbaik tidak selalu berarti menentukan seluruh jalan hidup anak.
Ada perbedaan antara memberikan arah dan memaksakan tujuan.
Anak perlu memiliki kesempatan untuk menemukan minat, menghadapi kegagalan, mencoba sesuatu yang baru, dan menentukan definisi kesuksesannya sendiri.
Dalam konteks album Refactoring, pesan tersebut terasa seperti upaya untuk tidak meneruskan hardcode kehidupan kepada generasi berikutnya.
Jika orang tua pernah hidup berdasarkan ekspektasi tertentu, bukan berarti anak harus menggunakan program kehidupan yang sama.
Struktur Berantakan: Tidak Semua Kegagalan Harus Diperbaiki
Kehidupan manusia tidak selalu mempunyai struktur yang rapi.
Ada rencana yang gagal. Ada karier yang tidak berjalan sesuai harapan. Ada hubungan yang berubah. Ada keputusan yang ternyata keliru.
Struktur Berantakan menghadirkan gagasan bahwa kekacauan tersebut tidak harus selalu dipandang sebagai kegagalan mutlak.
Dalam software engineering, struktur kode dapat diperbaiki ketika ditemukan masalah. Begitu pula kehidupan. Kesalahan dapat menjadi informasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Yang menarik adalah penolakan terhadap konsep hardcode rencana hidup.
Tidak semua hal harus ditentukan sejak awal.
Seseorang boleh berubah pikiran.
Seseorang boleh memulai kembali.
Seseorang boleh mengganti tujuan.
Dan seseorang boleh mengatakan bahwa rencana yang dahulu dibuat ternyata tidak lagi sesuai dengan dirinya sekarang.
Ekstraksi Waktu dan Filosofi Kesabaran
Ekstraksi Waktu menggunakan metafora metode seduh kopi V60 untuk membicarakan kesabaran.
V60 membutuhkan proses. Air tidak sekadar dituangkan begitu saja. Ada ritme, perhatian, dan waktu yang perlu diberikan agar proses ekstraksi menghasilkan karakter yang diharapkan.
Metafora tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan.
Tidak semua hasil dapat diperoleh secara instan. Karier membutuhkan proses. Hubungan membutuhkan perhatian. Anak membutuhkan kehadiran. Bahkan proses memahami diri sendiri juga memerlukan waktu.
Di tengah budaya serba cepat, gagasan seperti ini menjadi penting.
Terkadang, melakukan lebih sedikit dengan penuh kesadaran justru lebih bermakna dibanding melakukan banyak hal tanpa benar-benar hadir di dalamnya.
Penghujung Hari: Rumah sebagai Tempat Kembali
Salah satu pesan emosional yang kuat dalam album ini hadir melalui Penghujung Hari.
Konsep graceful shutdown digunakan sebagai metafora untuk mengakhiri hari dengan kesadaran bahwa validasi tertinggi tidak selalu datang dari dunia profesional.
Ada saatnya laptop ditutup.
Pekerjaan dihentikan.
Notifikasi dimatikan.
Kemudian seseorang kembali ke rumah.
Rumah dalam konteks ini bukan hanya sebuah bangunan. Rumah menjadi simbol tempat seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa harus membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Setelah seharian mengejar target, validasi, dan pencapaian, mungkin hal yang paling dibutuhkan adalah percakapan sederhana dengan pasangan, tawa anak, makan malam bersama keluarga, atau sekadar duduk tenang tanpa tuntutan produktivitas.
Musik Kontemplatif untuk Mereka yang Sedang Berhenti Sejenak
Secara musikal, Refactoring tidak dibangun untuk menjadi album yang meledak-ledak.
Aransemennya mengalir tenang dan kontemplatif. Karakter tersebut justru mendukung tema besar album yang mengajak pendengar melakukan introspeksi.
Musik dalam album ini terasa seperti teman ketika seseorang sedang berkendara sendirian, bekerja dalam suasana tenang, menikmati kopi, atau sekadar duduk memikirkan arah hidup.
Tidak ada keharusan untuk langsung menemukan jawaban.
Album ini lebih seperti ruang untuk bertanya.
Apakah kehidupan yang dijalani saat ini masih sesuai dengan nilai yang dipercaya?
Apa yang sebenarnya ingin dipertahankan?
Apa yang sudah waktunya dilepaskan?
Dan, jika kehidupan memang perlu ditata ulang, dari bagian mana proses tersebut harus dimulai?
Refactoring Bukan Berarti Menghapus Diri Sendiri
Salah satu pesan paling menarik dari konsep album ini adalah bahwa perubahan tidak selalu berarti menjadi orang baru.
Seperti proses refactoring dalam software engineering, esensi utama tetap dapat dipertahankan sementara struktur di sekelilingnya diperbaiki.
Seseorang tidak harus membuang ambisinya hanya karena ingin mempunyai kehidupan yang lebih seimbang.
Seorang profesional tidak harus meninggalkan karier hanya karena ingin lebih dekat dengan keluarga.
Orang tua juga tidak harus kehilangan impiannya ketika mempunyai anak.
Yang mungkin diperlukan adalah penataan ulang.
Pekerjaan tetap ada, tetapi batas waktunya menjadi lebih sehat. Ambisi tetap ada, tetapi tidak lagi mengorbankan seluruh kehidupan. Target tetap dibuat, tetapi fleksibel ketika keadaan berubah.
Inilah yang membuat Refactoring terasa relevan bagi banyak orang dewasa muda.
rief6669 dan Cerita tentang Menata Ulang Kehidupan
Di luar album ini, sosok rief6669 dapat menjadi bagian dari perjalanan musikal yang menarik untuk diikuti, terutama bagi pendengar yang menyukai karya dengan pendekatan personal dan reflektif.
Pendekatan yang menggabungkan terminologi teknologi dengan persoalan kehidupan memberikan identitas tersendiri pada Refactoring. Istilah seperti legacy code, hardcode, graceful shutdown, dan refactoring bukan sekadar hiasan konsep, tetapi digunakan untuk menggambarkan pengalaman manusia yang sangat familiar.
Penutup: Mungkin Kita Semua Membutuhkan Refactoring
Pada akhirnya, hidup tidak harus selalu terlihat sempurna.
Ada bagian yang berantakan. Ada keputusan yang salah. Ada target yang tidak tercapai. Ada rencana yang berubah. Ada masa ketika seseorang terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menikmati masa sekarang.
Namun, semua itu bukan berarti sistem kehidupan sudah rusak total.
Mungkin hanya membutuhkan refactoring.
Menyusun ulang prioritas. Menghapus ekspektasi yang tidak lagi relevan. Mengurangi ego. Menerima kekacauan. Memberikan ruang untuk keluarga. Belajar bersabar. Dan memahami bahwa keberhasilan tidak selalu harus terlihat oleh orang lain.
Melalui sembilan trek, Refactoring menawarkan sebuah perjalanan untuk melihat kembali arsitektur kehidupan dari perspektif seorang software engineer. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, tetapi sebuah ruang kontemplasi bagi siapa saja yang sedang merasa lelah dengan tuntutan dunia.
Untuk mereka yang sedang mengalami quarter-life crisis, profesional yang rentan burnout, maupun orang tua baru yang sedang mencari keseimbangan, album ini dapat menjadi teman untuk berhenti sejenak.
Karena terkadang, kita tidak perlu menghapus seluruh program kehidupan.
Kita hanya perlu memperbaiki strukturnya—tanpa kehilangan esensi diri yang sebenarnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
