Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Tak Hanya Muktamar NU, Jombang Juga Jadi Arena PKN XXI PMII

kabarbaru.co
Ilustrasi: Peserta mengikuti Pelatihan Kader Nasional (PKN) PMII XIX di Lampung, 2025.

Jurnalis:

Koran Satu, Jombang — Jombang menjadi titik temu dua agenda besar kaderisasi dan organisasi pada akhir Agustus 2026. Selain menjadi lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jombang juga dipilih Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) sebagai tempat penyelenggaraan Pelatihan Kader Nasional (PKN) XXI pada 22–26 Agustus 2026. Jombang Jadi Arena Muktamar NU dan PKN XXI PMII

Dua agenda tersebut memiliki forum dan sasaran berbeda. Muktamar NU menjadi ruang permusyawaratan tertinggi untuk menentukan arah organisasi, sedangkan PKN XXI diarahkan sebagai ruang kaderisasi untuk menyiapkan generasi penerus kepemimpinan PMII.

Ketua Kaderisasi Nasional PB PMII Acep Jamaludin mengatakan PKN XXI merupakan jenjang kaderisasi formal tertinggi di PMII. Forum ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas kader, tetapi juga memastikan keberlanjutan organisasi melalui lahirnya pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual dan karakter kuat.

“Sebagai kaderisasi formal tertinggi PMII, PKN XXI bertujuan mencetak regenerasi yang mampu menjawab tantangan nasional dan global, serta menjaga keberlanjutan organisasi dengan melahirkan pemimpin yang cakap secara intelektual, berkarakter kuat, dan berpandangan luas,” kata Acep.

PKN XXI mengusung tema “Manifesto PMII: Menempa Pemimpin Transformatif demi Regenerasi Indonesia”. Acep mengatakan tema tersebut dipilih untuk menegaskan kembali nilai-nilai dasar pergerakan sekaligus menunjukkan komitmen PMII dalam membangun kepemimpinan yang mampu menghasilkan perubahan nyata.

“Tema “Manifesto PMII: Menempa Pemimpin Transformatif demi Regenerasi Indonesia” dipilih sebagai deklarasi dan penegasan kembali nilai-nilai dasar pergerakan. Ini adalah manifestasi komitmen PMII untuk melahirkan pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata melalui pendekatan kritis dan transformatif, sekaligus menjadi warisan intelektual bagi kaderisasi,” ujarnya.

Menurut Acep, pemimpin yang hendak dilahirkan melalui PKN XXI tidak cukup hanya memiliki kemampuan organisatoris. Mereka dituntut mampu membaca perubahan, merumuskan strategi berbasis data, serta memiliki integritas dan keteguhan karakter.

“Pemimpin yang kritis dan inovatif, mampu membaca situasi serta menyusun strategi gerakan berbasis data, berintegritas dan berkarakter dengan kekuatan spiritual serta ketegasan sikap, responsif dan solutif terhadap persoalan masyarakat, mampu menawarkan solusi konstruktif, serta visioner dan adaptif, siap memimpin perubahan di era digital dengan metode baru yang inovatif,” katanya.

PKN XXI, lanjut Acep, juga memiliki karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan PKN pada angkatan sebelumnya. Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan konteks tantangan yang dihadapi setiap generasi kader.

“Secara umum, setiap PKN melakukan pendidikan strategi dan pendekatan kaderisasi untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah dan menghasilkan capaian serta rekomendasi kebijakan yang berbeda setiap angkatan. Perbedaan mendasar lainnya adalah peserta, lokasi, serta forum yang menjadi ruang konsolidasi gagasan dan strategi baru,” ujar Acep.

Karena itu, dampak PKN XXI diharapkan tidak berhenti ketika pelatihan berakhir. Para peserta diharapkan membawa hasil kaderisasi ke ruang pengabdian masing-masing dan menjadi penggerak bagi penguatan organisasi serta penyelesaian persoalan masyarakat.

“Peserta diharapkan menjadi kader penggerak yang andal, mampu membangun tradisi kaderisasi yang kuat di daerahnya masing-masing, serta menghadirkan advokasi berbasis data dan memastikan PMII hadir sebagai solusi bagi umat dan bangsa,” kata Acep.

Selain itu, peserta diharapkan membangun jejaring kader lintas wilayah. Jejaring tersebut diperlukan untuk memperkuat koordinasi dalam merespons persoalan yang melampaui batas wilayah.

“Mereka juga diharapkan memiliki jejaring diaspora kader untuk koordinasi isu lintas daerah bahkan negara dan meninggalkan warisan intelektual bagi organisasi,” ujarnya.

PIC PKN XXI PB PMII Melisa Putri Intan Sari melihat penyelenggaraan PKN XXI di tengah momentum Muktamar NU sebagai konteks yang menarik. Meski memiliki forum dan tujuan berbeda, keduanya sama-sama berbicara tentang keberlanjutan organisasi melalui regenerasi.

“Menurut saya ini momentum yang menarik. Karena Muktamar NU itu kan bicara tentang bagaimana organisasi ini melihat perjalanan dan masa depannya, sementara PKN PMII juga bicara tentang bagaimana kita menyiapkan generasi berikutnya. Jadi memang forumnya berbeda, konteksnya juga berbeda, tetapi ada satu hal yang sama, yaitu soal regenerasi. Bagaimana organisasi itu bisa terus berjalan dan punya generasi yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.”

Bagi Melisa, ukuran keberhasilan PKN bukan terletak pada kemeriahan pelaksanaan kegiatan, melainkan pada gerakan yang lahir setelah peserta kembali ke ruang pengabdian masing-masing.

“Yang paling penting itu jangan sampai setelah PKN selesai, selesai juga gerakannya. Kita berharap mereka kembali ke kampus, organisasi, komunitas, dan ruang pengabdian masing-masing sebagai penggerak. Mereka harus bisa memperkuat kaderisasi, membangun advokasi yang berbasis data, dan ikut menyelesaikan persoalan masyarakat. Jadi keberhasilan PKN itu sebenarnya tidak diukur dari seberapa meriah kegiatan ini, tetapi dari apa yang dilakukan peserta setelah kembali ke ruang pengabdiannya masing-masing.”

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store