Valen, Ribetnya Aturan, dan Tercorengnya Citra Pamekasan

Jurnalis: Rifan Anshory
Kabar Baru, Editorial – Polemik konser Valen DA7 di Pamekasan seharusnya cukup menjadi cermin bagi semua pihak.
Bukan soal siapa artisnya, tetapi tentang kebijakan lokal yang ribet dan berujung tercorengnya citra daerah.
Niat menjaga ketertiban memang sah, tetapi regulasi yang tidak proporsional, dampaknya bisa kontraproduktif.
Alih-alih menjaga nilai, yang muncul justru kesan kaku, tidak ramah, dan kurang adaptif terhadap ruang hiburan.
Jangan heran, polemik ini bikin warga Pamekasan sendiri malu. Bukan karena konsernya, karena daerahnya seolah alergi hiburan.
Meski Pamekasan selama ini dikenal daerah religius. Namun religiusitas tidak identik dengan pembatasan berlebihan.
Nilai dan kebudayaan semestinya diterjemahkan secara bijak, bukan dijadikan alasan untuk memperumit sesuatu yang sebenarnya bisa diatur secara sederhana.
Di tengah arus informasi yang serba cepat, kebijakan lokal tak lagi berhenti di batas daerah.
Sekali ramai di media sosial, persepsi publik terbentuk dengan cepat. Citra daerah pun dipertaruhkan.
Dalam konteks ini, yang dirugikan bukan hanya penyelenggara atau penonton, tetapi Pamekasan secara keseluruhan.
Editorial ini tidak dimaksudkan untuk menunjuk siapa yang salah. Yang dibutuhkan adalah evaluasi.
Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu menata ulang cara berpikir dalam membuat aturan, agar tetap menjaga nilai lokal tanpa mematikan ruang kreativitas dan hiburan masyarakat.
Citra daerah bukan sekadar slogan. Ia dibangun dari kebijakan yang masuk akal dan sikap yang terbuka.
Jika tidak, polemik serupa akan terus berulang, dan Pamekasan akan kembali diingat bukan karena prestasi, melainkan karena ribetnya aturan.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

