Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Putri Asal Maybrat Teliti Potensi Karst untuk Ekowisata Berkelanjutan

Afia Eksemina Phascalina Tahoba menjalani Sidang Promosi Terbuka Program Doktor IPB University, Kamis (3072026).
Afia Eksemina Phascalina Tahoba menjalani Sidang Promosi Terbuka Program Doktor IPB University, Kamis 30 Juli 2026..

Jurnalis:

Kabar Baru, Bogor – Potensi bentang alam karst di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, untuk pertama kalinya dikaji secara komprehensif melalui penelitian ilmiah. Kajian tersebut mengintegrasikan aspek geologi, keanekaragaman hayati, budaya masyarakat adat, tata ruang, hingga kebijakan pembangunan daerah.

Penelitian dilakukan oleh Afia Eksemina Phascalina Tahoba, putri asli Kabupaten Maybrat, dalam Sidang Promosi Terbuka Program Doktor Sekolah Pascasarjana IPB University. Ia mempertahankan disertasi berjudul Model Kebijakan Ekowisata Karst di Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat Daya.

Afia menjelaskan, penelitian itu lahir dari kepeduliannya terhadap tingginya angka kemiskinan, rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya alam di Kabupaten Maybrat.

Padahal, wilayah tersebut memiliki bentang alam karst daratan terluas di kawasan Kepala Burung Papua. Kawasan itu menyimpan kekayaan geologi, sumber daya air, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat adat yang masih terjaga.

Tiga Potensi Utama Karst Maybrat

Penelitian Afia menemukan tiga fungsi utama yang saling terhubung dalam kawasan Karst Maybrat, yakni geodiversitas, biodiversitas, dan etnodiversitas.

Geodiversitas terlihat dari bentang alam berupa perbukitan kerucut, dolina, polje, gua, sungai bawah tanah, mata air karst, hingga sistem hidrologi yang menopang kehidupan masyarakat.

Biodiversitas tercermin dari tingginya keanekaragaman flora dan fauna, termasuk berbagai spesies endemik Papua yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Sementara itu, etnodiversitas menunjukkan hubungan erat masyarakat adat dengan kawasan karst melalui pengetahuan lokal, zonasi adat, situs sakral, praktik budaya, serta mata pencaharian tradisional.

Afia menilai ketiga unsur tersebut membentuk satu ekosistem yang memiliki nilai ilmiah, ekologis, dan budaya yang tinggi.

WhatsApp Image 2026-07-31 at 11.37.36

“Karakteristik ini menjadikan Karst Maybrat layak ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), dikembangkan sebagai Geopark Nasional, dan dipersiapkan menuju UNESCO Global Geopark,” ujarnya.

Menurutnya, Karst Maybrat memiliki potensi untuk disejajarkan dengan kawasan karst yang telah dikenal secara nasional maupun internasional, seperti Karst Gunung Sewu dan Karst Maros-Pangkep.

Selain itu, kawasan Plato Ayamaru dinilai dapat terintegrasi dengan destinasi wisata bahari Raja Ampat. Konsep tersebut diharapkan memperluas pilihan wisata di Papua Barat Daya sekaligus menjadi alternatif saat wisata laut terganggu cuaca.

Rancang Model Kebijakan Baru

Dalam penelitiannya, Afia menyusun model kebijakan melalui empat tahapan. Tahapan itu meliputi analisis kondisi eksisting, identifikasi potensi dan tantangan, penyusunan zonasi pengelolaan, hingga perumusan model kebijakan ekowisata berbasis tata kelola multi level.

Model tersebut dirancang untuk mendukung konservasi kawasan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, serta mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah.

Sebagai kebaruan penelitian, Afia mengembangkan model kebijakan ekowisata karst tingkat kabupaten dengan pendekatan bottom-up. Model itu menggabungkan tata kelola pemerintah dan sistem pengelolaan masyarakat adat dalam satu kerangka pembangunan.

Penelitian tersebut juga menghasilkan zonasi pengembangan ekowisata yang terdiri atas zona konservasi, zona pemanfaatan terbatas, dan zona pemanfaatan ekowisata. Pembagian zonasi itu diharapkan mampu mengurangi konflik pemanfaatan ruang sekaligus menjaga kelestarian ekosistem karst.

Rekomendasi untuk Pemerintah

Berdasarkan hasil penelitian, Afia merekomendasikan pemerintah membangun basis data terpadu bersama masyarakat adat, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian sebagai dasar pengusulan status Kawasan Bentang Alam Karst, Geopark Nasional, serta kawasan cagar budaya.

Ia juga mendorong percepatan penetapan status KBAK, registrasi Geopark Nasional, dan perlindungan situs budaya yang berada di kawasan karst.

Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Maybrat direkomendasikan menyusun Peraturan Daerah tentang Ekowisata Karst berbasis zonasi. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya didorong menyusun Peraturan Daerah Khusus yang mengintegrasikan Karst Maybrat dan Raja Ampat sebagai destinasi unggulan provinsi.

Selain itu, Bupati Maybrat disarankan membentuk Tim Percepatan Calon Geopark Maybrat sebagai langkah menuju Geopark Nasional hingga UNESCO Global Geopark.

Sebagian hasil penelitian Afia telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Q1 Sustainability serta Jurnal Manajemen Hutan Tropika terakreditasi SINTA 1. Publikasi tersebut diharapkan memperkuat dasar ilmiah bagi kebijakan konservasi, penataan ruang, dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di Kabupaten Maybrat.

Masyarakat yang ingin mempelajari hasil penelitian tersebut dapat membaca Ringkasan Disertasi melalui tautan berikut:

Ringkasan Disertasi “Model Kebijakan Ekowisata Karst di Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat Daya” 

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store