Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Polisi Bunuh Driver Ojek Online, DPN Permahi Desak Presiden Copot Kapolri 

Ratusan Polisi saat menjaga demo mahasiswa di Jakarta (Foto: Kontan).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Tadi malam, Jakarta berubah menjadi lautan asap dan jeritan. Demonstrasi di depan Gedung DPR RI yang sejak siang berjalan penuh semangat berubah menjadi tragedi kemanusiaan ketika aparat keamanan menembakkan gas air mata secara membabi buta.

Jalanan Senayan, Palmerah, hingga Pejompongan dipenuhi kepulan asap yang menusuk mata, membuat warga dan massa berlarian pontang-panting menyelamatkan diri.

Jasa Stiker Kaca

Suara tembakan gas air mata dan ledakan kembang api bersahutan. Batu beterbangan, molotov dilempar, dan water cannon menyapu kerumunan tanpa pandang bulu. Aroma mesiu bercampur air mata rakyat. Beberapa pedagang kaki lima yang mencoba menyelamatkan dagangan mereka ikut menjadi korban.

Anak-anak yang berada di sekitar lokasi menangis ketakutan, sementara perempuan berusaha mencari perlindungan.

Puncak tragedi terjadi ketika seorang pengemudi ojek online yang tidak ada sangkutannya justru terlindas kendaraan taktis milik aparat. Tubuhnya remuk di bawah roda baja.

Teriakan histeris warga yang menyaksikan kejadian itu tidak menghentikan kendaraan tersebut. Satu nyawa rakyat kecil melayang sia-sia, bukan karena kriminalitas, bukan karena kecelakaan, melainkan karena negara sendiri yang abai dan brutal.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (DPN PERMAHI), Fajar Budiman menyebut peristiwa ini sebagai bukti telanjang bahwa aparat telah kehilangan hati nurani.

“Hari ini kita melihat wajah asli polisi. Bukan pelindung, tapi pemukul. Bukan pengayom, tapi algojo. Mereka menembak gas air mata membabi buta, menghantam rakyat dengan water cannon, dan bahkan melindas ojol yang tidak tahu apa-apa. Untuk apa Pimpinan Polri duduk di kursinya jika yang mereka pimpin hanya pasukan brutal tak berakal? Copot mereka sekarang juga!” ujarnya lantang.

Menurut Fajar, kericuhan ini tidak bisa lagi disebut kelalaian, melainkan penghinaan langsung terhadap konstitusi dan demokrasi. Hak rakyat untuk menyampaikan pendapat dijamin oleh UUD 1945, tetapi hari ini justru dirampas dengan cara-cara barbar.

Aparat memperlakukan rakyatnya sendiri lebih buruk daripada musuh.

“Negara yang menghabisi rakyatnya sendiri bukanlah negara demokratis. Itu negara gagal. Dan hari ini, Polri membuktikan dirinya gagal total,” Ucap Fajar.

DPN PERMAHI mendesak Presiden RI untuk segera mengambil tindakan tegas. Fajar menegaskan, Kapolri dan Kapolda Metro Jaya harus segera dicopot sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Jika Presiden tetap diam, maka ia sama saja melegitimasi kekerasan negara. Darah rakyat hari ini juga ada di tangan Presiden. Jangan berpura-pura netral ketika rakyatmu dihantam oleh alat kekuasaanmu sendiri,” tambahnya.

Selain itu, Permahi meminta Komnas HAM segera turun langsung ke lapangan untuk menginvestigasi pelanggaran HAM yang jelas terjadi. Fajar menekankan bahwa tragedi ini bukan sekadar ricuh, melainkan bentuk nyata kekerasan negara terhadap rakyat.

“Gas air mata yang ditembakkan ke arah pemukiman, tindakan brutal terhadap mahasiswa, hingga ojol yang dilindas kendaraan aparat. Semua ini adalah bukti pelanggaran HAM yang serius. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa bangsa ini pernah merelakan aparatnya membunuh rakyat sendiri tanpa konsekuensi,” tegas Fajar.

Warga sekitar mengaku trauma. Seorang ibu rumah tangga yang rumahnya berjarak dua blok dari lokasi demonstrasi menangis karena anaknya terkena gas air mata meski tidak ikut aksi.

Pedagang kaki lima kehilangan barang dagangannya yang rusak akibat semprotan water cannon. Para mahasiswa yang terluka berlarian mencari tempat aman, beberapa di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit dengan luka memar, sesak napas, dan cedera kepala.

Fajar Budiman menutup pernyataannya dengan kalimat tajam.

“Hari ini rakyat sudah diperlakukan seperti musuh. Mereka yang bersuara dipukul. Mereka yang mencari nafkah dilindas. Negara sedang sakit parah. Jika Kapolri, Kapolda Metro Jaya, Dankorbrimob, Dansat Brimob Polda Metro Jaya tidak dicopot, maka kita semua sedang menyaksikan lahirnya tirani berseragam. Dan jika Presiden membiarkannya, maka ia bukan lagi pemimpin rakyat, melainkan pelindung penindas,” pungkasnya.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store