Moralitas: Kompas yang Hilang di Tengah Kecanggihan Teknologi

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Pernahkah kita merasa bahwa dunia saat ini bergerak begitu cepat? Bayangkan, di satu sisi manusia sudah mampu menciptakan kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa pintar hingga rekayasa genetika yang sangat canggih. Namun, di sisi lain, kita justru sering mendengar berita tentang krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, hingga hilangnya rasa kejujuran.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal, teknologi seharusnya membuat hidup kita lebih baik, bukan malah menciptakan masalah baru.
Ilmu Pengetahuan: Bebas Nilai atau Terikat Nilai?
Masalah utamanya seringkali terletak pada cara kita memandang ilmu pengetahuan. Banyak yang menganggap bahwa teknologi itu “bebas nilai” (value-free). Artinya, teknologi dianggap hanya sebagai alat netral yang fokus pada efisiensi tanpa perlu memikirkan etika atau moral.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Teknologi yang tanpa kendali moral bisa menjadi senjata yang merusak. Di sinilah pentingnya memahami Aksiologi. Jika istilah ini terdengar rumit, bayangkan saja aksiologi sebagai sebuah “kompas”. Jika ilmu pengetahuan adalah kapalnya, maka aksiologi adalah kompas yang mengarahkan ke mana kapal itu harus berlayar agar tidak menabrak karang.
Dalam pendidikan Islam, ilmu tidak pernah lahir dari ruang kosong. Setiap pengetahuan harus punya tanggung jawab moral dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan serta kemaslahatan orang banyak.
Akhlak Sebagai “Filter” di Era Digital
Di era digital dan Society 5.0 sekarang ini, tantangan kita semakin nyata. Teknologi kini bukan lagi sekadar alat, tapi seolah sudah “hidup” bersama kita. Jika kita tidak memiliki benteng yang kuat, kita bisa dengan mudah terjerumus dalam penyalahgunaan teknologi, seperti plagiarisme, manipulasi data, hingga hilangnya privasi.
Pendidikan Islam hadir menawarkan solusi melalui penguatan Akhlakul Karimah. Akhlak bukan hanya soal sopan santun, tetapi berfungsi sebagai “filter” atau penyaring. Ada dua poin penting di sini:
- Integritas Ilmiah: Kesadaran bahwa apa pun yang kita lakukan, termasuk di dunia digital, selalu diawasi oleh Tuhan (muraqabah). Ini membuat kita lebih jujur dan bertanggung jawab dalam berkarya.
- Orientasi Kemanfaatan: Setiap inovasi teknologi harus ditimbang: apakah ini membawa manfaat bagi orang banyak atau justru merusak?
Menjadi Generasi yang Cerdas dan Beradab
Membangun kemajuan bangsa tentu memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi itu saja tidak cukup. Tanpa spiritualitas dan moral yang dalam, kecanggihan mesin justru bisa mengikis nilai-nilai kemanusiaan kita.
Guru, orang tua, dan lingkungan pendidikan punya tugas besar untuk tidak hanya mencetak generasi yang jago teknologi, tapi juga generasi yang punya “nurani”. Pendidikan Islam bukan sekadar teori di atas kertas, tapi harus menjadi praktik nyata dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Pada akhirnya, kemajuan IPTEK seharusnya tidak membuat kita jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Mari jadikan moralitas sebagai kompas utama agar teknologi yang kita kembangkan membawa keberkahan dan kedamaian bagi alam semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).
Penulis: Rodhia Dyah Hesti, Universitas Islam Negeri Palangka Raya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

