Macron Desak Seluruh Negara Bentuk Koalisi, Tolak Jadi Bawahan Amerika dan China

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Korea – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pesan berani kepada negara-negara di seluruh dunia untuk menjaga kedaulatan mereka.
Dalam kunjungannya ke Universitas Yonsei, Seoul, Macron mendesak dunia internasional agar tidak terjebak menjadi vasal atau bawahan dari dua kekuatan hegemonik, yakni Amerika Serikat (AS) dan China.
Perselisihan publik antara Macron dan Presiden AS Donald Trump memicu desakan ini. Ketegangan keduanya memuncak menyusul perbedaan pandangan soal perang Amerika-Israel melawan Iran serta masa depan NATO.
Macron secara khusus mengajak negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Brasil, India, Australia, dan Kanada untuk membentuk koalisi kemerdekaan yang berlandaskan pada hukum internasional, demokrasi, dan komitmen terhadap perubahan iklim.
Membangun Tatanan Dunia Baru
Dalam pidatonya, pemimpin Prancis tersebut menyoroti ketidakpastian tatanan internasional yang selama ini dianggap stabil.
“Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru,” tegas Macron.
Ia menyatakan bahwa tujuan utama koalisi ini adalah melepaskan diri dari dominasi China sekaligus menghindari risiko paparan ketidakpastian kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Prancis sendiri menunjukkan sikap tegas dengan menolak mendukung aksi militer AS dan Israel terhadap Iran. Macron secara terbuka membalas ejekan Trump yang menyebut NATO sebagai macan kertas.
“Saya tidak percaya bahwa kita akan memperbaiki situasi hanya dengan pengeboman atau operasi militer,” imbuhnya, merujuk pada kegagalan intervensi militer masa lalu di Timur Tengah.
Prancis Perkuat Pertahanan Mandiri
Langkah diplomatis Prancis semakin nyata di panggung PBB. Menurut laporan The New York Times, Prancis bergabung dengan Rusia dan China untuk menentang resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengizinkan tindakan militer guna membuka blokade di Selat Hormuz.
Sikap ini menyebabkan pemungutan suara yang seharusnya berlangsung pada Jumat lalu terpaksa mengalami penundaan.
Secara internal, Macron terus memperkuat otot pertahanan Prancis dengan meningkatkan anggaran militer secara signifikan.
Fokus utamanya mencakup pengembangan teknologi rudal, drone, hingga kapal selam canggih.
Bahkan, Macron menyatakan kesiapan Prancis untuk memperluas payung nuklirnya demi melindungi Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, sebagai langkah nyata kemandirian pertahanan di luar kendali AS.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

