Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ketika Teori Generasi Membuat Kita Lelah Menjadi Diri Sendiri

Penulis adalah Ayu kusumasari,S.M.,ME., Aktivis Perempuan. (Foto: Ist).

Jurnalis:

Kabar Baru, Opini — Saat teori generasi muncul dalam diskursus akademik dan sosial, jarang ada yang menyangkal. Semua kepala mengiyakan, manggut dan nurut tanpa tanya, bahwa benarkah teori itu sesuai kehidupan kita, atau siapa yang paling dirugikan karenanya?

Teori yang pernah dipopulerkan oleh William Strauss dan Neil Howe itu mendapat momentumnya di tahun-tahun 2020an, terutama di kampus-kampus di Indonesia. Tema-tema diskusi tentangnya tak pernah absen dari tahun ke-tahun.

Pemikiran Strauss-Howe, bukan sekedar pengetahuan, ia mensugesti manusia. Bahkan secara tak sadar menghipnotis kita untuk menjadi manusia yang lain sesuai isi kepalanya. Dan manusia memaksa diri harus menjadi seperti yang diinginkannya.

Ada 2 buku yang ditulisnya tentang generasi. Buku pertama berjudul Generation tahun 1991 dan The Fourth Turning terbit tahun 1997. Mereka mengembangkan pemikiran generasi yang sebelumnya telah ditulis oleh Karl Mannheim dalam esainya berjudul The Problem of Generations.

Untuk kaum muda, diasosiasikan sebagai Generasi Milenial dan Generasi Z. Awal kemunculan generasi ini dianggap berada pada fase transisi dari analog ke dunia digital, kemudian beranjak ke digital-native. Singkatnya, Generasi Milenial adalah generasi yang harus melek teknologi, sedangkan Generasi Z telah hidup dalam teknologi itu.

Kaum muda dan masyarakat kampus di tahun 2020-an menjadi objek yang paling sering disuguhi teori itu. Melalui diskusi-diskusi akademik, dialog publik organisasi kemahasiswaan, hingga seminar-seminar nasional. Tema-tema tentang generasi saat itu melintasi berbagai disiplin ilmu; dari sosial, ekonomi, politik, hingga yang remeh-temeh soal life style.

Setiap orang terperangkap dengan teori generasi, dari mahasiswa yang hanya fokus kuliah, hingga yang berlabel aktivis kampus. Seakan teori itu turun dari langit sebagai suatu kebenaran pasti. Dan memang ia tampak meyakinkan, karena sering dipopulerkan oleh para akademikus kampus dan dimapankan penyelenggara negara melalui program yang bertajuk generasi dengan embel-embel lainnya.

Teori generasi itu sebenarnya mudah saja ditentang. Cukup menggunakan pemikiran Karl Popper dengan falsifikasinya untuk menunjukan letak salahnya. Sederhananya, orang tua di kota ada yang jauh lebih fasih menggunakan teknologi ketimbang kaum muda di desa. Dengan satu contoh itu, Popper akan menyebut teori generasi itu pseudo-sains, satu pengetahuan yang tidak ilmiah dan terbantah.

Tapi bukan sekedar itu masalahnya, teori generasi tidak sekedar gagal membaca fakta tentang heterogenitas masyarakat Indonesia dengan kompleksitas sosialnya. Lebih dari itu, ia turut merusak kita sebagai manusia, terutama kaum muda yang harus hidup menjadi dirinya sendiri.

Dalam penjabaran teori generasi milenial dan generasi Z, yang dituntut adalah penggunaan dan penguasaan teknologi digital. Dan jika ada dari generasi itu yang masih gagap teknologi, akan merasa tertinggal dan atau bahkan aneh. Karena kedua generasi itu harus hidup dalam dunia digital sebagai dunianya.

Bayangkan jika ada kaum muda yang tidak mampu mengikuti ritme itu. Untuk sekadar dianggap normal, ia harus punya media sosial, harus paham tren, harus tahu apa yang sedang viral. Dan tanpa sadar, standar itu menjadi tekanan.

Jangankan mengikuti tren, memiliki media sosial saja sudah membutuhkan ketangguhan mental. Yang ditampilkan bukan kehidupan biasa, melainkan kehidupan yang telah dikurasi: yang indah, yang berhasil, yang tampak sempurna. Kesannya sederhana, tapi ada pesan yang bekerja diam-diam, membuat kita membandingkan diri dan merasa kurang.

Kehidupan di dunia digital punya sisi hegemonik. Ia bukan sekedar tontonan di waktu senggang, melainkan pelan-pelan mengendalikan cara kita melihat diri sendiri. Bagi yang tidak siap, ia bisa menjadi beban. Memaksa ikut terasa menyiksa, tapi tidak ikut melahirkan rasa tertinggal.
Dan di situlah kita mulai lelah.

Ini bukan sekedar soal perkembangan digital, tapi tentang bagaimana teori generasi turut memaksa anak muda untuk hidup dalam standar tertentu. Standar yang tidak lahir dari dirinya sendiri, tapi dari konstruksi yang terus diulang dalam ruang akademik dan sosial.

Yang paling berbahaya, ketika standar itu gagal dicapai, kita akan menghukum diri salah. Kita dianggap kurang adaptif, kurang cepat, atau tidak sesuai dengan zamannya. Padahal yang bermasalah bukan manusianya, melainkan cara pandang yang memaksakan keseragaman itu.

Teori generasi seakan lupa bahwa manusia tidak pernah benar-benar seragam. Setiap orang punya latar belakang, kemampuan, dan jalan hidup yang berbeda. Namun semua itu diringkas menjadi satu label besar bernama generasi.

Akibatnya, anak muda tidak lagi bebas menjadi dirinya sendiri. Ia sibuk mengejar identitas yang telah ditentukan, merasa harus sesuai dengan gambaran yang bahkan tidak pernah ia pilih. Dan pada akhirnya, kelelahan itu muncul. Bukan karena hidup semata-mata berat, tapi karena kita terus dipaksa menjadi sesuatu yang bukan diri kita sendiri.

Penulis adalah Ayu kusumasari,S.M.,ME., Aktivis Perempuan.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store