Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Keluarga Almarhum Suwanto Pertanyakan Prosedur RS Royal Surabaya dan Siap Tempuh Jalur Hukum

Kabar Baru.co
Foto Rumah Sakit Royal Surabaya (Doc.Istimewa).

Jurnalis:

Kabar Baru, Surabaya – Keluarga almarhum Suwanto menyampaikan kekecewaan mendalam atas hasil mediasi dengan pihak RS Royal Surabaya pada 18 Agustus 2025. Mediasi yang diharapkan dapat memberi solusi justru dinilai jauh dari harapan keluarga.

Dalam pernyataannya, Welly Luckyantono, putra dari almarhum Suwanto, menegaskan bahwa ayahnya dipulangkan pihak rumah sakit meski berada dalam kondisi kritis.

Jasa Stiker Kaca

“Bapak saya dipulangkan padahal sedang muntah darah, tidak bisa makan, tidak bisa minum, dan kondisinya kritis. Seharusnya dalam kondisi seperti ini pasien dirawat secara intensif, bukan dipulangkan. Tindakan tersebut sangat membahayakan dan berpotensi mengancam nyawa,” ujar Welly Luckyantono.

Kondisi Medis yang Diabaikan

Menurut Welly, gejala yang dialami almarhum sudah sangat serius. Ketidakmampuan makan dan minum dapat menyebabkan dehidrasi berat dan kekurangan gizi yang memperparah kondisi. Muntah darah adalah tanda medis yang tidak bisa dianggap remeh, karena bisa menunjukkan pendarahan internal, tukak lambung, atau gangguan serius lainnya pada saluran pencernaan.

Hasil pemeriksaan juga mencatat kadar sel darah putih almarhum mencapai di atas 14, jauh dari angka normal sekitar 11–12. Kondisi ini seharusnya menjadi sinyal penting bagi tim medis untuk melakukan pemantauan intensif, memberikan infus, obat-obatan, bahkan transfusi darah bila diperlukan.

Namun, alih-alih mendapat perawatan lanjutan, pasien dipulangkan pada 17 Agustus. Dua hari kemudian, saat dibawa kembali ke rumah sakit, kondisi sudah jauh lebih buruk: infeksi dan bakteri diduga telah menyebar ke seluruh tubuh hingga menyerang paru-paru.

Kontradiksi Pernyataan RS

Keluarga juga menyoroti perbedaan keterangan antara pihak rumah sakit dan staf yang sebelumnya berkomunikasi dengan mereka.

“Ada seseorang yang disebut ‘oknum’ oleh pihak RS, yang mengatakan kepada saya bahwa jika satu dokter tidak bisa menangani, maka dokter lain juga tidak bisa. Bahkan dia menyalahkan BPJS dengan alasan pasien tidak bisa dirawat dua kali dalam sebulan di rumah sakit yang sama, dan harus mencari IGD lain. Tetapi saat mediasi, pihak rumah sakit justru berkata sebaliknya. Pernyataan mereka jelas kontradiktif,” jelas Welly.

Menurut keluarga, sikap inkonsisten tersebut menunjukkan adanya upaya pembelaan diri alih-alih mencari solusi dan mengakui kekeliruan.

Tidak Ada Itikad Baik dalam Mediasi

Dalam mediasi 18 Agustus, keluarga meminta agar pihak rumah sakit menghadirkan staf yang sebelumnya memberi keterangan via telepon, namun permintaan tersebut ditolak.

“Mediasi yang seharusnya menjadi ruang penyelesaian justru berubah menjadi ajang pembelaan diri pihak rumah sakit. Mereka tidak mau mengakui kesalahan, tidak menunjukkan itikad baik, dan tidak berusaha menyelesaikan secara kekeluargaan,” tambah Welly.

Siap Tempuh Jalur Hukum

Atas dasar itulah, keluarga menyatakan akan menempuh jalur hukum. Bagi mereka, perjuangan ini bukan hanya soal almarhum Suwanto, melainkan juga untuk mencegah kasus serupa terulang pada pasien lain.

“Saya akan terus bersuara lebih kencang lagi. Saya tidak mau Papa saya mati sia-sia hanya karena SOP yang tidak benar dan tidak sesuai prosedur medis. Saya akan menegakkan kebenaran dan memperjuangkan keadilan,” tegas Welly Luckyantono.

Keluarga berharap aparat penegak hukum, otoritas kesehatan, serta lembaga terkait dapat turun tangan menindaklanjuti kasus ini.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store