Jadi Ladang Korupsi dan Scam, Pria Ini Bongkar Sisi Gelap Donasi Palestina di Indonesia

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Jakarta – Jagat media sosial tengah heboh oleh pengakuan seorang warga asli Gaza, Palestina, yang kini tengah menempuh studi di Indonesia. Melalui akun Instagram pribadinya, pria bernama Ahmed Shorafa ini membongkar dugaan praktik penyalahgunaan donasi kemanusiaan Palestina yang marak terjadi di tanah air.
Ahmed mengaku pernah mendapatkan tawaran kerja sama dari sejumlah yayasan untuk berkeliling dari masjid ke masjid.
Tugasnya adalah menarik simpati jemaah demi menggalang dana. Tidak main-main, yayasan tersebut menjanjikan bayaran fantastis sebesar Rp1,5 juta per hari, atau setara dengan Rp45 juta per bulan.
Fenomena miris ini membuat Ahmed menilai bahwa banyak pihak sengaja memanfaatkan penderitaan warga Gaza.
Mereka tidak murni berniat membantu, melainkan menjadikan isu kemanusiaan ini sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.
Kebohongan Lembaga Filantropi
Menurut kalkulasi Ahmed, jika seluruh dana bantuan dari masyarakat Indonesia benar-benar tersalurkan secara utuh, wilayah Gaza seharusnya sudah mengalami kemajuan pesat.
Ia bahkan mengibaratkan kemajuan tersebut bisa menyamai negara modern sekelas Singapura.
“Masyarakat harus lebih berhati-hati dan menyetop donasi melalui lembaga yang tidak transparan,” imbau Ahmed melalui unggahannya yang dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Minggu (28/06/2026).
Sebagai solusi, ia menyarankan para donatur untuk mengirimkan bantuan langsung kepada warga Gaza melalui transfer bank agar lebih aman dan tepat sasaran.
Ahmed juga menegaskan bahwa publik memiliki hak penuh untuk meminta dokumen laporan penggunaan dana sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Publik Teringat Kasus Masa Lalu
Meski berstatus sebagai kreator konten asal Palestina yang memiliki pengaruh besar di Indonesia, Ahmed memastikan bahwa dirinya tidak pernah membuka donasi pribadi atau mencari keuntungan dari isu ini.
Keberaniannya bersuara murni karena rasa prihatin setelah menyaksikan langsung sengkarut pengelolaan dana tersebut.
Pernyataan berani Ahmed langsung memicu diskusi panjang di kalangan warganet.
Banyak netizen yang kembali mengaitkan isu ini dengan skandal masa lalu, seperti kasus penyelewengan dana umat oleh petinggi lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sempat menghebohkan publik beberapa tahun lalu.
Sontak, masyarakat kini mulai mempertanyakan kembali ke mana larinya aliran dana bantuan kemanusiaan selama ini.
Publik menyayangkan jika penderitaan rakyat Palestina hanya berakhir sebagai materi kampanye demi meraup donasi besar-besaran.
Cerdas Memilih Tempat Sedekah
Kendati isu ini memicu sentimen negatif terhadap lembaga filantropi, sejumlah pihak tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak berhenti berbagi.
Bersedekah merupakan amalan yang baik, namun masyarakat dituntut untuk lebih selektif dalam memilih penyalur bantuan.
Pada akhirnya, esensi memberi bukan sekadar berniat baik, melainkan memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai ke tangan yang berhak.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi tamparan bagi publik untuk kembali melihat lingkungan sekitar. Sebab, sering kali tetangga atau saudara terdekat yang sedang kesulitan justru luput dari perhatian kita.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Dinamikapost.com
Radar Baru
Seedbacklink
