Bukan Sekadar Cantik, Ini Makna Tersembunyi di Balik Busana Pernikahan Syifa Hadju

Jurnalis: Aldy Maulana
Kabar Baru, Jakarta – Pernikahan Syifa Hadju dan El Rumi tak hanya jadi momen sakral, tapi juga panggung transformasi fashion yang jarang terjadi. Dari sarat makna tradisi Jawa hingga sentuhan glamor modern dalam satu rangkaian acara.
Digelar di Raffles Hotel Jakarta pada 26 April 2026, setiap busana yang dikenakan bukan sekadar estetika, melainkan cerita simbolik yang berlapis.
Perjalanan Emosi Lewat Busana
Jika kebanyakan sorotan hanya membahas keindahan outfit, pernikahan ini justru menarik dilihat sebagai narasi perjalanan emosi pasangan—diterjemahkan lewat fashion.
1. Fase Refleksi: Siraman Bernuansa Biru Penuh Makna!
Di tahap awal, Syifa tampil dalam kebaya biru rancangan Didiet Maulana yang memadukan budaya Indonesia dengan sentuhan era Regency. Warna biru dipilih bukan kebetulan, melainkan favorit El—simbol kedekatan personal.
Detail payet tujuh warna yang merepresentasikan tujuh mata air menegaskan bahwa fase ini adalah tentang pembersihan dan harapan baru. Sementara kain batik Wahyu Tumurun memperkuat doa akan keberkahan hidup.
2. Fase Sakral: Akad dengan Simbol Kehidupan Ideal!
Masuk ke akad, tone berubah drastis: putih klasik mendominasi. Kebaya panjang karya Vera Anggraini menghadirkan kesan suci, sementara paes dan batik Sidomukti menjadi simbol kehidupan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.
Makeup soft glam mempertegas pesan elegan tanpa kehilangan akar budaya
3. Fase Ekspresi: Resepsi sebagai Panggung Identitas Modern
Di resepsi, narasi berubah total: Syifa tampil dalam gaun sculptural Tex Saverio yang penuh detail geometris dan ruffle dramatis.
El mengimbanginya dengan tuxedo putih klasik timeless, tapi tetap modern. Ini bukan sekadar outfit pesta, melainkan pernyataan identitas: pasangan muda yang menghormati tradisi, tapi hidup di era modern.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

