Tokoh Bangkalan Madura Bermusyawarah Bahas Etika, Ormas, dan Citra di Perantauan

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Bangkalan – Sejumlah tokoh Madura dari berbagai latar belakang menggelar musyawarah bersama di salah satu kafe di Kota Bangkalan, Minggu, (11/01/26). Pertemuan ini menjadi ruang refleksi dan muhasabah kolektif untuk membahas citra suku Madura yang dinilai kian tergerus akibat ulah oknum, sekaligus merumuskan langkah perbaikan ke depan, khususnya bagi masyarakat Madura di perantauan.
Tokoh Madura, Soleh Abdijaya, dalam sambutannya menyoroti stigma negatif yang selama ini dilekatkan pada suku Madura. Ia menyebut citra buruk tersebut sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan, mulai dari sebutan kasar hingga pelabelan yang merendahkan martabat orang Madura.
Menurut Soleh, para perantau Madura memikul tanggung jawab besar dalam menjaga nama baik daerah asal. Sebab, merekalah yang paling sering bersentuhan langsung dengan masyarakat setempat di wilayah perantauan. “Etika yang diajarkan para pendahulu harus benar-benar dipegang dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kondisi psikologis sebagian perantau Madura yang kerap merasa terpinggirkan, dibuli, bahkan diasingkan akibat stigma tersebut. Karena itu, Soleh mendorong para tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, pemuda hingga blater untuk duduk bersama membangun rasa persaudaraan serta citra Madura yang lebih baik, melalui sikap ramah, tertib, dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, H. Syafiuddin memberikan apresiasi kepada Soleh Abdijaya yang dinilainya konsisten memperjuangkan perdamaian dan citra positif Madura. Ia juga mengapresiasi Ormas MADAS yang dinilai fokus pada advokasi persoalan masyarakat.
H. Syafiuddin menegaskan bahwa pada hakikatnya orang Madura adalah pencinta persatuan dan perdamaian, sebagaimana tercermin dari tokoh nasional asal Madura, Muhammad Tabrani, salah satu pencetus bahasa Indonesia. Ia menekankan pentingnya seluruh ormas yang membawa nama Madura untuk kembali pada visi dan misi (AD/ART) organisasi yang sejatinya sangat mulia, terutama dalam menjunjung tinggi etika kehidupan.
“Semua ormas harus berani saling mengoreksi diri demi perbaikan organisasi dan menjaga nama baik Madura. Media juga memiliki peran strategis dalam membangun narasi positif melalui pemberitaan yang berimbang,” ujarnya.
Pandangan kritis juga disampaikan Mathur Husairi yang mengaku lahir dan besar di perantauan. Ia mengungkapkan bahwa stigma negatif membuat sebagian generasi muda Madura bahkan enggan mengakui identitasnya, termasuk di lingkungan kampus.
Mathur menyinggung konflik Sambas dan Sampit yang hingga kini masih membekas secara psikologis bagi keturunan Madura di Kalimantan. Meski konflik tersebut dipicu oleh oknum dan kepentingan besar di baliknya, ia menegaskan bahwa tidak ada dendam yang diwariskan oleh masyarakat Madura di sana.
Ia juga meluruskan kasus di Surabaya yang mengatasnamakan MADAS. Menurutnya, oknum yang terlibat bukanlah orang Madura, meski menggunakan atribut ormas tersebut. Mathur menilai munculnya banyak ormas baru tidak lepas dari sikap elitis ormas lama yang kurang mengakomodasi pemuda, sehingga hilang figur panutan atau “seppo” bagi generasi muda Madura.
Senada, Taufik, Ketua MADAS Sedarah, menyebut pertemuan tersebut sebagai “obat” untuk introspeksi organisasi. Ia mengakui kualitas sumber daya manusia (SDM) di internal MADAS masih memprihatinkan dan perlu pembinaan serius agar tidak menimbulkan persoalan sosial.
Taufik bahkan menyatakan kesiapannya jika MADAS dibubarkan, dengan catatan seluruh organisasi kesukuan lainnya juga dievaluasi secara menyeluruh. Ia kembali menegaskan bahwa insiden Surabaya terjadi jauh sebelum dirinya menjabat sebagai ketua dan pelakunya bukan orang Madura, hanya kebetulan mengenakan atribut MADAS.
Sikap tegas disampaikan Dedi Yusuf, Ketua DPRD Bangkalan, yang menekankan pentingnya mempelajari dan mengimplementasikan etika Madura di perantauan. Ia menegaskan bahwa setiap oknum yang melanggar hukum harus diberikan sanksi tegas tanpa pandang bulu.
“Ormas yang membawa nama Madura wajib menjaga kehormatan dan nama baik Madura. Hak berkumpul dan berorganisasi harus sejalan dengan tanggung jawab moral,” tegasnya.
Musyawarah ini diharapkan menjadi titik awal untuk merumuskan langkah konkret dalam membangun tali persaudaraan orang Madura di perantauan, sekaligus mengembalikan citra Madura sebagai masyarakat yang beretika, cinta damai, dan menjunjung tinggi persatuan.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

