Kecerdasan Buatan Menjadi Katalis Transformasi Pendidikan di Era Digital

Editor: Ahmad Arsyad
Kabar Baru, Kolom – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan signifikan di berbagai sektor kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Di tengah tuntutan pembelajaran abad ke-21, AI hadir sebagai teknologi yang mampu mentransformasi cara belajar, mengajar, dan mengelola sistem pendidikan secara menyeluruh.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak lagi terbatas pada konsep teoritis, melainkan telah diimplementasikan secara nyata melalui berbagai platform pembelajaran digital. Mulai dari sistem pembelajaran adaptif, intelligent tutoring systems, chatbot akademik, hingga analisis data pembelajaran berbasis big data, AI menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih personal, efisien, dan berbasis kebutuhan peserta didik.
Menurut laporan UNESCO (2021), AI berpotensi menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan global, khususnya dalam mengatasi ketimpangan akses, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta mendukung peran guru di era digital. Teknologi ini memungkinkan proses pembelajaran yang tidak lagi bersifat satu arah, tetapi interaktif dan berpusat pada peserta didik.
Dalam praktiknya, sistem pembelajaran berbasis AI mampu menganalisis pola belajar siswa secara otomatis. Dengan memanfaatkan data seperti kecepatan memahami materi, hasil evaluasi, serta tingkat partisipasi, AI dapat menyesuaikan materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan individu. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran konvensional yang bersifat seragam.
Di tingkat pendidikan tinggi, AI semakin banyak digunakan dalam bentuk learning analytics. Teknologi ini membantu dosen dan institusi dalam memantau perkembangan akademik mahasiswa secara berkelanjutan. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Educational Technology in Higher Education menyebutkan bahwa AI dapat mendeteksi potensi mahasiswa yang berisiko mengalami kegagalan akademik sejak dini, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, AI juga berperan dalam mendukung tugas administratif pendidik. Proses penilaian otomatis, pengelolaan data akademik, serta penyusunan laporan pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih efisien. Dengan berkurangnya beban administratif, guru dan dosen diharapkan dapat lebih fokus pada pengembangan metode pembelajaran, interaksi pedagogis, dan pembinaan karakter peserta didik.
Namun demikian, penerapan AI dalam pendidikan bukan tanpa tantangan. Isu etika menjadi perhatian utama, terutama terkait perlindungan data pribadi peserta didik. Penggunaan algoritma AI yang tidak transparan juga berpotensi menimbulkan bias dalam pengambilan keputusan akademik. Oleh karena itu, para pakar menekankan pentingnya regulasi, literasi digital, serta pengawasan manusia dalam setiap penerapan teknologi AI di lingkungan pendidikan.
Holmes, Bialik, dan Fadel (2019) menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran pendidik. Guru dan dosen tetap memiliki peran sentral dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan pemikiran kritis—aspek yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Ke depan, integrasi AI dalam pendidikan diprediksi akan semakin luas seiring dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya kebutuhan pembelajaran yang fleksibel. Dengan penerapan yang bijak dan beretika, AI diharapkan mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital.
*) Penulis adalah Kevin nugraha Kautsar Noer Kholik, Muhammad Dafa Aufa Emil, I gede Wardana Kusuma, Muhamad Nazril hafiz, merupakan mahasiswa di Universitas Bumigora.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

