Dampak Pertumbuhan Marketplace terhadap Keberlangsungan Toko Offline di Indonesia

Jurnalis: Ahmad Arsyad
Kabar Baru, Opini – Pertumbuhan marketplace di Indonesia berlangsung sangat cepat. Shopee, Tokopedia, Lazada, hingga TikTok Shop kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Belanja cukup lewat ponsel, harga lebih murah, pilihan melimpah. Di sisi konsumen, ini jelas menguntungkan. Namun bagi toko offline, ceritanya tidak selalu seindah itu.
Banyak pedagang konvensional merasakan dampak langsung dari perubahan pola belanja. Toko yang dulu ramai kini sepi, terutama untuk produk seperti pakaian, aksesoris, dan elektronik. Konsumen lebih memilih belanja online karena praktis, cepat, dan penuh promo. Dalam situasi ini, toko offline berada di posisi sulit: biaya operasional tetap berjalan, sementara jumlah pembeli terus menurun.
Masalah utama terletak pada persaingan harga. Marketplace mampu menawarkan diskon besar dan gratis ongkir, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan toko fisik. Akibatnya, toko offline sering kalah bahkan sebelum konsumen datang. Perbandingan harga sudah terjadi di layar ponsel, bukan di etalase toko.
Meski begitu, marketplace tidak sepenuhnya menjadi ancaman. Bagi sebagian pedagang, platform digital justru menjadi jalan bertahan. Toko offline yang mampu memanfaatkan marketplace sebagai kanal tambahan bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Namun realitanya, tidak semua pelaku usaha siap beradaptasi. Keterbatasan pengetahuan digital, waktu, dan modal membuat banyak toko tertinggal.
Di sisi lain, toko offline sebenarnya masih memiliki nilai yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh belanja online. Interaksi langsung, rasa percaya, dan pengalaman melihat barang secara nyata tetap dicari sebagian konsumen. Tantangannya adalah bagaimana keunggulan ini bisa dikemas agar tetap relevan di era digital.
Marketplace akan terus berkembang, dan toko offline tidak bisa berharap keadaan kembali seperti dulu. Pilihannya jelas: beradaptasi atau semakin terpinggirkan. Di tengah arus perubahan ini, yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri.
*) Penulis adalah Tantowi Tan, Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya.
Insight NTB
Daily Nusantara
Suara Time
Kabar Tren
Portal Demokrasi
IDN Vox
Lens IDN
Seedbacklink

