Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Kisah Kartini, Petani Tangguh Penjaga Ketahanan Pangan Nasional

Kisah Kartini
Sosok Kartini dan perjuangan petani menjaga ketahanan pangan bangsa (Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Jurnalis:

Kabar Baru, Indramayu – Di balik hamparan sawah hijau yang membentang di Desa Cilandak, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terdapat kisah panjang tentang ketekunan, pengorbanan, dan harapan seorang petani perempuan.

Selama puluhan tahun, Kartini (55) menjalani kehidupannya sebagai petani padi, profesi yang telah digelutinya sejak masih kecil mengikuti jejak kedua orang tuanya.

Bagi Kartini, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah membentuk dirinya hingga hari ini.

Sebagai salah satu daerah yang dikenal sebagai lumbung padi di Jawa Barat, Kabupaten Indramayu memiliki ribuan petani yang setiap musim tanam berperan menjaga ketahanan pangan nasional.

Di antara mereka, Kartini menjadi potret nyata perjuangan petani kecil yang setiap hari menggantungkan hidup pada sawah dan hasil panen.

Sejak usia belia, Kartini telah terbiasa berada di tengah sawah. Aktivitas bertani yang awalnya dilakukan untuk membantu orang tua lambat laun menjadi profesi yang terus ia tekuni hingga kini.

Rutinitas tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

“Saya sudah bertani sejak kecil karena mengikuti orang tua. Dari dulu sampai sekarang ya tetap di sawah,” ujar Kartini saat menceritakan awal perjalanannya menjadi petani.

Dalam menjalani pekerjaannya, aktivitas Kartini selalu mengikuti siklus musim tanam. Saat musim tanam tiba, ia menghabiskan waktunya untuk menanam padi atau yang dikenal masyarakat setempat dengan istilah nandur.

Sementara ketika musim panen datang, ia kembali turun ke sawah untuk memotong padi bersama para pekerja lainnya.

Dalam satu tahun, Kartini umumnya mengikuti proses panen sebanyak dua kali. Seluruh aktivitas tersebut berlangsung mengikuti kalender tanam yang telah menjadi bagian dari kehidupan petani di wilayah Indramayu.

Meski telah menjalani profesi ini selama puluhan tahun, kehidupan sebagai petani bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi Kartini adalah ketidakpastian pekerjaan.

Sebagai buruh tani yang menggarap lahan milik orang lain, ia hanya dapat bekerja ketika ada pemilik sawah yang membutuhkan tenaga.

“Yang paling sulit itu kalau tidak ada yang menyuruh atau mengajak menggarap sawah. Kalau tidak ada pekerjaan, ya kami tidak bisa bekerja,” ungkapnya.

Ketidakpastian tersebut berpengaruh langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga. Menurut Kartini, pendapatan dari bertani tidak selalu memberikan hasil yang sama.

Besarnya penghasilan sangat dipengaruhi oleh harga gabah, hasil panen, serta kesempatan memperoleh pekerjaan di sawah.

“Kadang hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi kadang juga tidak cukup. Semua tergantung harga gabah dan hasil panen,” katanya.

Di balik berbagai keterbatasan tersebut, Kartini bersyukur karena selama bertahun-tahun menjadi petani ia mengaku belum pernah mengalami gagal panen.

Setiap musim, tanaman padi yang digarapnya selalu berhasil dipanen, meskipun hasilnya tidak selalu memberikan keuntungan yang besar.

Baginya, keberhasilan memanen padi merupakan anugerah yang patut disyukuri karena menjadi sumber penghidupan bagi keluarga.

Namun, di balik kecintaannya terhadap dunia pertanian, Kartini menyimpan harapan yang berbeda untuk anak-anaknya. Ia tidak ingin mereka menjalani profesi yang sama seperti dirinya.

“Saya berharap anak-anak bisa menjadi orang sukses di bidang lain. Saya tidak ingin mereka menjadi petani seperti saya,” tutur Kartini dengan nada penuh harap.

Harapan tersebut lahir bukan karena ia tidak mencintai profesinya, melainkan karena ia memahami berbagai tantangan yang harus dihadapi petani setiap hari.

Ketidakpastian pendapatan, bergantung pada musim, hingga terbatasnya kesempatan kerja membuatnya berharap generasi berikutnya memiliki peluang yang lebih luas untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Kisah Kartini menjadi gambaran nyata bahwa di balik setiap butir beras yang tersaji di meja makan masyarakat Indonesia, terdapat kerja keras para petani yang mengabdikan hidupnya di sawah.

Mereka bekerja sejak matahari terbit hingga menjelang senja, menghadapi panas, hujan, serta berbagai ketidakpastian demi menjaga keberlangsungan produksi pangan.

Perjalanan hidup Kartini juga menunjukkan bahwa profesi petani memiliki peran yang sangat penting dalam menopang ketahanan pangan nasional.

Meski seringkali menghadapi keterbatasan, semangat dan ketekunannya tidak pernah surut. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pembangunan sektor pertanian tidak hanya memerlukan peningkatan produktivitas, tetapi juga perhatian terhadap kesejahteraan para petani yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.

Penulis: Teti Arnenti – Universitas Siber Asia

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store