6 Kontroversi NasDem Sumenep, Krisis Kepemimpinan yang Tak Pernah Usai

Jurnalis: Rifan Anshory
Kabar Baru, Sumenep – Beberapa tahun terakhir, Partai NasDem Sumenep lebih sering menjadi sorotan akibat konflik internal daripada prestasi politik.
Masalah administratif, perselisihan antar-kader, hingga krisis kepemimpinan mewarnai perjalanan partai ini.
Polemik tak berkesudahan ini mencerminkan perjalanan NasDem Sumenep yang penuh gejolak.
Meski terjebak kontroversi, lima kadernya mampu menembus kursi legislatif di tengah panasnya suhu politik.
Berikut rangkuman kasus-kasus internal yang sempat menggegerkan NasDem Sumenep:
1. Kantor Disita Bank
Pada Juni 2024, kantor DPD NasDem Sumenep di bawah kepemimpinan Moh Hosni disita oleh bank.
Penyitaan ini bukan kesalahan partai, karena kepemilikan kantor berada di tangan pihak ketiga.
2. Caleg Gunakan Surat Mandat Palsu
Februari 2024, muncul dugaan seorang calon legislatif NasDem menggunakan surat mandat saksi palsu pada Pemilu 2024.
Akibatnya, yang bersangkutan tidak diizinkan menjadi saksi di salah satu TPS di Kecamatan Rubaru.
3. Banpol Picu Pemecatan 27 Ketua DPC
Di masa kepemimpinan Moh Hosni, konflik internal meningkat akibat kurangnya transparansi pengelolaan dana bantuan politik (banpol).
Mosi tidak percaya terhadap pimpinan DPD berujung pada pemecatan 27 ketua DPC.
4. Penolakan Akis Jasuli sebagai Ketua DPD
Penunjukan Akis Jasuli sebagai Ketua DPD Sumenep pada Juni 2025 memicu gejolak besar.
Akis dinilai gagal saat menjabat sekretaris partai, terutama dalam konsolidasi Pemilu 2019 dan 2024.
Penolakan ini sampai menimbulkan aksi demonstrasi oleh Garda dan Garnita, serta sejumlah ketua DPC.
5. Kantor Tandingan
Sebagai bentuk kekecewaan terhadap kepemimpinan Akis Jasuli, puluhan kader mendirikan kantor tandingan di Lingkar Barat, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, pada Juni 2025.
Mereka menegaskan kantor ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan pusat aktivitas kader sekaligus simbol aspirasi agar DPP mengevaluasi kepemimpinan DPD Sumenep.
6. Kantor Disegel Kader
Pada April 2016 silam, kantor DPD NasDem di bawah kepemimpinan Azis Salim Syabibi disegel oleh kadernya.
Salim dituding tidak memenuhi janji memberikan transport Rp50 ribu kepada kader saat gelaran Sekolah Partai.
Penutupan kantor ini menjadi bentuk protes kader untuk memulihkan nama baik partai.
Insight NTB
Berita Baru
Berita Utama
Serikat News
Suara Time
Daily Nusantara
Kabar Tren
IDN Vox
Portal Demokrasi
Lens IDN
Seedbacklink







