Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Selamat Jalan, Jurgen Habermas

kabarbaru.co
Aly Mu’afa Hibatulloh, Founder Kalam Zarathustra..

Editor:

Kabar Baru, Opini — Sejak kepergian Jurgen Habermas, dunia pemikiran terasa lebih sunyi. Kabar wafatnya bukan hanya kabar tentang perginya seorang filsuf, tetapi juga tentang hilangnya satu suara besar yang selama ini setia menjaga akal sehat, dialog, dan harapan bahwa manusia masih bisa saling memahami. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam, terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan gagasan-gagasannya, atau sekadar percaya bahwa dunia yang gaduh ini masih membutuhkan orang-orang yang mau berpikir jernih.

Habermas bukan tokoh biasa. Ia adalah salah satu pemikir besar yang lahir dari zaman penuh luka, lalu tumbuh menjadi suara penting dalam membicarakan demokrasi, masyarakat, dan kehidupan bersama. Di tengah dunia yang sering dipenuhi pertengkaran, kebisingan, dan saling serang, ia hadir dengan keyakinan bahwa manusia tetap bisa bertemu dalam percakapan yang jujur. Karena itu, kepergiannya terasa seperti hilangnya seseorang yang selama ini ikut menjaga arah.

Meski dikenal sebagai filsuf dengan pemikiran yang sering dianggap berat, inti gagasan Habermas sebenarnya sangat dekat dengan hidup kita. Ia percaya bahwa manusia tidak seharusnya menyelesaikan perbedaan dengan paksaan, amarah, atau kekuasaan semata. Menurutnya, manusia harus belajar berbicara, mendengar, dan memberi alasan secara terbuka. Baginya, kata-kata bukan hanya alat untuk menang, tetapi juga jalan untuk saling memahami. Dari sinilah pemikirannya tentang dialog, ruang publik, dan pentingnya komunikasi menjadi sangat berarti.

Habermas mengingatkan kita bahwa sebuah masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang maju secara ekonomi atau teknologi, tetapi juga masyarakat yang masih punya ruang untuk berdiskusi dengan jujur. Ia percaya bahwa demokrasi bukan sekadar soal pemilu atau suara terbanyak. Demokrasi juga berarti adanya kesempatan bagi setiap orang untuk berbicara, menyampaikan pendapat, dan didengar tanpa rasa takut. Pemikiran seperti ini terasa sederhana, tetapi justru sangat penting di zaman ketika orang lebih mudah saling membungkam daripada saling memahami.

Di tengah kehidupan hari ini yang serba cepat, pemikiran Habermas terasa semakin relevan. Kita hidup di masa ketika percakapan sering berubah menjadi pertengkaran, perbedaan dianggap ancaman, dan kebenaran sering kalah oleh suara yang paling keras. Dalam situasi seperti itu, Habermas mengingatkan bahwa menjaga dialog adalah bagian dari menjaga kemanusiaan. Ia seolah ingin mengatakan bahwa selama manusia masih mau mendengar dan berbicara dengan sungguh-sungguh, harapan untuk hidup bersama dengan lebih baik masih tetap ada.

Karena itulah, kepergian Habermas bukan hanya kehilangan bagi dunia filsafat, tetapi juga kehilangan bagi siapa saja yang masih percaya pada pentingnya akal, etika, dan percakapan yang sehat. Ia tidak hanya meninggalkan buku-buku dan teori-teori besar, tetapi juga teladan bahwa berpikir harus punya keberpihakan pada kehidupan. Bahwa ilmu tidak seharusnya jauh dari manusia. Bahwa pemikiran yang besar seharusnya membantu kita memahami dunia dengan lebih jernih.

Kini Habermas telah pergi, tetapi warisan pemikirannya tetap tinggal. Ia akan terus hidup dalam ruang-ruang diskusi, dalam kelas-kelas, dalam buku-buku, dan dalam setiap usaha untuk menjaga dunia agar tidak sepenuhnya dikuasai kebisingan dan kepentingan sempit. Ia tetap hadir dalam setiap percakapan yang jujur, dalam setiap keberanian untuk berpikir kritis, dan dalam setiap harapan bahwa manusia masih bisa hidup bersama tanpa kehilangan martabatnya.

Selamat jalan, Jurgen  Habermas. Terima kasih atas pemikiran, keteguhan, dan keberanianmu menjaga nalar di tengah zaman yang sering kehilangan arah. Kepergianmu meninggalkan duka, tetapi juga jejak yang tidak akan mudah hilang. Dunia pemikiran telah kehilangan satu suara besar, dan kita semua kehilangan seseorang yang selama ini mengingatkan bahwa dialog, akal sehat, dan kemanusiaan masih layak diperjuangkan.

Penulis adalah Aly Mu’afa Hibatulloh, Founder Kalam Zarathustra.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store